Featured

10/recent

8 Maps You're Probably Never Know

Jumat, September 16, 2016
Belajar geografi ditambah statistik emang paling menyenangkan. Isu-isu yang nggak pernah dipelajari mungkin emang susah buat dicari. Berikut beberapa peta yang mungkin nggak akan pernah diajarkan di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Hahaha..

It's time to learn geography!!!

*colek iwan pekok*

Peta Sanitasi

Sekitar 40% warga Indonesia tidak memperoleh akses yang mudah dalam bidang sanitasi. Sumber ini dilansir dari WHO. Kok bisa ya Indonesia kalah dari Thailand... Hahaha... 

How Powerful is Your Passport?

Menderita sekali Indonesia. Coba lihat itu yang warnanya hitam, enak sekali mereka bisa berkunjung ke hampir semua negara di dunia ini tanpa kecuali. Kapan Indonesia?

Internet Penetration

Peta ini menunjukkan seberapa literate orang Indonesia terhadap Internet. Lihat dong negara-negara Afrika sana, secara luasan penggunaan internet mereka kecil sekali. Indonesia jelas lebih internet literate dibandingkan Australia. Just look.

Peta Rerata Umur

Retata umur orang Indonesia adalah 29,2. Well.. berarti setahun lagi gw mencapai umur rata-rata statistik penduduk Indonesia. Yang pasti harapan hidup orang Indonesia cukup lebih tinggi daripada tetangga asia tenggara yang lain.

Frequency of Having Sex

Indonesia gak ada data. Bzzzzzz... Mungkin kalau ada bisa aja ngalah-ngalahin Rusia en Brazil. Hahahaha... Jepang rendah ya jebule, padahal banyak JAV di sana. 

Most Consumed Alcoholic Beverages

Indonesia jelas BIR Bintang... Hahahaha... 

Language Map of Europe

Secara umum, peta ini menunjukkan kesamaan akar sejarah bahasa. bagian berwarna kuning menunjukkan bahwa negara itu entah dapet darimana pengaruh bahasanya. Secara garis besar, Eropa terdiri dari tiga rumpun besar, Germanic, Spanish, en Slavic. 

Which Export Goods Makes So Much Money?
Ekspor utama Indonesia ya minyak bumi dan gas. 
Oke..

Sekian dulu ya gaes.. Sekedar informasi aja sih.. :D

Bulan dalam Jelaga

Rabu, September 14, 2016

Malam bulan kesidi menjadikanmu sebuah mambang nan kenes,
Cahayamu membuka tabirmu sendiri dan aku terpana.
Malam bulan sidi mengacaukan desaumu,
Cahayamu terlalu silau dan aku limbung dibuatnya.
Malam bulan ketilam menjelaskan padaku arti jentera kehidupan,
Cahayamu berangsur tiada dan aku berbangkis dalam dengusan napas yang debil.
Malam bulan tilam membuatku iri dengki padamu,
Cahayamu berjelaga namun ada setitik harap dan ribuan tamsil kepadamu.
Aku nampaknya menggilaimu sepanjang perjalanan bulan.
Aku berusaha menggilaimu hanya di setengah hidupku.

Faz,
14 Sept 2016

Review : Nasi Balap Puyung Khas Lombok

Sabtu, September 10, 2016
Atas rekomendasi mas Fey akhirnya gw sempatkan berkunjung ke salah satu gerai nasi balap puyung. Gw baru tahu kalau nasi balap puyung ini adalah nasi khas dari Lombok, NTB. Katrok tenan gw memang. Soalnya pas gw main ke Lombok di tahun 2005 dulu emang gw kaga nemuin nasi ini. Jangan-jangan ngetrend-nya telat lagi nih makanan. Mungkin nasi balap puyung ini menjadi ikon sarapan yang terkanal di Lombok, ya gw kaga tau sih. Makanya berbekal penasaran itu, jadilah gw sambangi ini warung.
Sebenernya awalnya gw pikir ini makanan khas Sidoarjo gegara namanya sama kayak lontong balap yang membuat gw trauma itu.. hahahhaaha...

Restaurant's Name :
Nasi Balap Puyung Khas Lombok

Concept :
Indonesian Food (Lombok, NTB)

Design and Architecture :
Warung semi permanen. Dia secara mutualisme menumpang di sebuah café (Kalao lo tau café Lincak di selokan mataram). So, secara arsitektur tidak dapat dijelaskan karena ia menggunakan tempat si café yang ditumpanginya. 

Pricing :
Untuk seporsi staple food yang begitu doang, harganya dibandrol cukup mahal. Antara 9000 hingga 12000 belum sama minum. Minumnya menyesuaikan harga café tempat dia menumpang soalnya warung ini nggak menyediakan menu minuman. Mendingan sih siap-siap air mineral dari rumah aja kalau emang mau hemat.. hahaha..

Front of the House (F.O.H) :
Sistem pelayanannya sangat cepat wong cuman tinggal ambil sana ambil sini. Presto. Si FOH ya si cook sekalian. Mbaknya juga enak diajak ngobrol. Tipikal penjaja makanan yang menyenangkan. 

What they sell ?
Fix, warung ini hanya menjual nasi balap puyung saja. No other. 

Duration of Service each item :
Seperti yang gw bilang sebelumnya, tanpa lama-lama, mungkin dua menit setelah lo pesen, lo bakal di anter tuh makanan ke meja lo. Atau kalau gak sabaran, lo bisa juga nunggu di depan mereka sambil lihat-lihat apa yang mereka lakukan. 

Seasoning :
Nasi balap puyung technically adalah semacam nasi kuning di jogja. Kecuali memang nasinya enggak kuning. Nasinya juga emang bukan nasi uduk yang gurih en pulen. Nasinya keras biasa lah, mungkin memang udah siang gw kesini.



Isian lainnya adalah ayam suwir yang memang menjadi inti dari nasi balap puyung ini. Suwiran ayam yang udah direndam dalam air garam secukupnya itu ditumis dengan cabai en bawang merah en juga bawang putih. Sedikit terasi ditambahkan karena Lombok emang gak bisa pisah dari bau terasinya (seperti dalam plencing kangkung). Jadilah citarasa ayam suwir pedas gila yang enak gurih tapi asin. Mungkin kebanyakan garam. Tapi karena gw suka asin sih jadi nggak masalah. Lu boleh nambah telor rebus yang udah bikin pedes juga dengan nambah biaya tiga rebu perak. 

Untuk menambah tekstur, ada kacang kedelai yang digoreng. Mungkin pantaran di versi jawa nya adalah kacang tanah goreng yang biasanya ada di kering tempe. Terus ada juga parutan kentang yang digoreng juga. Rasanya jadi kriuk kriuk banget asik en enak gitu. Jadi berasa kaya tekstur ketika campuran semuanya itu menyatu dalam mulut. Kalau nasi kuning itu manis en gurih, yang ini gurih asin en pedes jadi satu. A whole new world for me.

Presentation :
Presentasi ala kadarnya kayak nasi kuning. 

Conclusion:
Reason(s) for me to rethink on revisiting this restaurant is(are) :
Enak sih rasanya. Pedes. Asin. Gurih. Joss!!

How Do I Get There :
Ada beberapa cabang nih nasi balap puyung tapi rata-rata cuman buka dari pagi hingga sekitar jam satu siang gitu. Menurut google map, dua cabang ada di sekitaran Jalan Kaliurang en yang gw sambangi ini berada di depan Café Lincak selokan mataram. 

====
Maps and GPS Point :

Duapuluh Delapan

Senin, September 05, 2016
Hello to My Self,

September 5, 2016,


Geurae, selalu deh gw bikin postingan mengenai kenaikan jumlahan umur gw. Ya, dua puluh delapan. Cukup tua. Lebih dari seperempat abad deh gw hidup di dunia ini. Banyak rasa gembira yang berseteru dengan rasa duka dan nestapa. 

Di luar udara begitu dingin, gw tak peduli lagi dengan perubahan bilangan usia dan segala tetek bengeknya. Mungkin dulu gw melakukan ritual yang menye-menye dengan ngebeli sebuah cupcake terus gw kasih lilin di atasnya. Yah, untuk orang yang merayakan hari lahirnya sendiri sih biasanya yang begini ya cukup saja. Ibarat lilin itu untuk menghadirkan momen dimana gw bisa memanjatkan rapalan doa dan inkantansi kepada para entitas langit. Walau sebenernya buat apa berdoa kalau segala sesuatu sudah ditakdirkan demikian menurut kitab kehidupan kita di zaman sebelum kita diciptakan? Mengusahakan takdir itu berubah sesuai keinginan kita? Ah sudahlah, sedang tidak dalam mood untuk berbicara sesuatu yang spiritual di sini. Mungkin di bawah ini bukan gw yang berdoa, tapi temen-temen gw:

May the light of your soul guide you.
May the light of your soul bless the work
You do with the secret love and warmth of your heart.
May you see in what you do the beauty of your own soul.
May the sacredness of your work bring healing, light and renewal to those
Who work with you and to those who see and receive your work.
May your work never weary you.
May it release within you wellsprings of refreshment, inspiration and excitement.
May you be present in what you do.
May you never become lost in the bland absences.
May the day never burden you.
May dawn find you awake and alert, approaching your new day with dreams,
Possibilities and promises.
May evening find you gracious and fulfilled.
May you go into the night blessed, sheltered and protected.
May your soul calm, console and renew you. – Gama, Geofisika 2007

Yes, gw paham kok Gam... I have renew my soul.. Tinggal, bagaimana jiwa yang baru ini terputar dalam medan kehidupan yang gw sendiri gak tau bagaimana ke depannya.

Semoga apa yg dicita-citakan segera terlaksana, panjaang umur banyak rejeki, Blognya makin yahuuud..., tetep humble, en..makin bijak.. – Galih, Geofisika 2007
Makin sukses (dan eksis) ya di dunia (entertainment) dan akhirat.. Hahahaha.. – Abi, Geofisika 2007
Semoga usianya berkah ya ! – Binar, Geofisika 2011
Semoga tambah sukses son ! – Bani, Poliglot & Perkumpulan Korban Penipuan PW
Mudah-mudahan dengan bertambah usia kamu tambah pula dewasanya... Tambah lancar rezekinya.. Cepat ketemu jodohnya.. Cepet tercapai semua cita-cita kamu... Amiiin... -- Mantan
Anw sugeng tanggap warsa yooo mas, mugi2 sehat selalu dan kaya raya haha - Bambang, Geofis 2011 

Well, thanks, basically gw kaga punya cita-cita sih nowadays. Hm, mengenai karaoke sih, belum bisa janji karena memang sedang diperkosa oleh krisis finansial yang nggak pernah bakal ada ujungnya. Gw tanya Binar perihal apa sih usia yang berkah itu. Dia jawab usia berkah itu hidupnya selalu membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Yah, semoga ya...

Dari temen-temen KKN Gayamharjo:

Sehat dan bahagia selalu! – Asri, TP 2007, unit Karangnongko
Sehat dan tercapai semua yg diinginin tahun ini ya! – Agil, Sosiologi 2007, unit Nawung
Berkah dan kesampean semua harapannya yaa, aamiin! – Danu (HI 2007, Lemahabang), Vani (TP 2007, Nawung), Hesti (FEB 2007, Karangnongko), Imo (HI 2007, Karangnongko), Bendot (FEB 2007, Nawung)
Wish you all the best, smoga Elie belum menikah! – Oki, Sastra Arab 2007, unit Nawung
Semoga cepat menemukan belahan jiwanya baik berupa eli esti atau siapapun itu – Raifa, Hukum 2007, unit Nawung
Wish you all the best! – Prama, temen SD, Hukum 2007, unit Karangnongko
Sehat dn sukses selalu! – Bejo, HI 2007, unit Nawung

Well, kijing tenan Okik... Udah lama gw kaga ada pikiran itu Elie... Bwahahaha... Tapi jadi penasaran sebenernya.. Ckakakaka... Temen KKN emang paling klop urusan buli-buli begini... Jadi inget roti martabak di semesta jaman tahun berapa itu ya? 2012? It’s a long ass ride!

Buat gw ini sih sama kayak hari yang lalu-lalu. Tidak ada sesuatu yang aneh dan spesial. Cuman notif fesbuk gw yang tambah banyak dari biasanya. 

Mugo-mugo gek Ndang nikah – Mukhlis, Geofisika 2007
Sugeng ambal warso, mugi tansah wilujeng kali sing sambikolo, salam suksma rahayu – Mas Putra, Grup JM
Salam sukses mulia bro!!! – Ade, Geofis 2007
Sukses slalu – Zuhdi, Geofis 2007
Moga makin jaya dan kere, hehehe – Yeni, mantan sub-bos PW
Semoga disegerakan apa yang sedang direncanakan, hehehe – Shinta, temen SMP, Dosen Fisika UPI
HBD pakk!! – Eva, murid SMP Diponegoro kelas VII 
Met millad brader, good luck for you ... forever and for always .... fighting!!! – Mas Ipnu, rekan kerja.

Pastinya banyak kata semoga, semoga, semoga.. Yah, semoga semua doa yang dirapalkan temen-temen gw berefek positif pada kehidupan gw. Ada doa yang gak bisa gw tuliskan di sini karena memang penuh spoiler. Hahaha.. 

Intinya.. Semoga di tahun gw yang ke-duapuluh delapan ini bisa bahagia sebagaimana mestinya. Termasuk segala pertanyaan mengenai kawin perkawinan nikah dan pernikahan. Nggak usah nanya-nanya kecuali mau ngasih ide.. Bahwhahaa.. 

Happy 28th birthday to my self...

Review : Mie Ayam Seyegan

Senin, September 05, 2016
Mission Accomplished! Sebenernya udah dari jaman kapan gw pengen banget menyempatkan ke warung mie ayam legendaris di jogja utara ini. Kalau mie ayam tumini itu legendaris di jogja selatan, mungkin ini lawannya nih, mie ayam seyegan di jogja utara. Gw tau perihal mie ayam ini di jaman gw ngajar SMP. Kebetulan juga ada salah satu guru SMP itu yang rumahnya deket dari warung mie ayam itu, en pernah pula gw ke rumah sang guru yang kebetulan lagi kawinan sekitar bulan September/Oktober-an tahun 2015 yang lalu. Yah, dah hampir setahun ya ternyata. 

Dari jaman gw pacaran pun wacana ini sempet banget diwacanakan *py sih bahasane ki*. Cuman ya sekedar wacana en wacana. Akhirnya gw gak mau berwacana lagi, langsung aja cabut ke daerah Seyegan yang emang lumayan jauh banget. Tapi asiknya, jalanan berudara segar itu gak bikin grusa-grusu kayak kalau ke kantor. So, gw menikmati aja perjalanan ke mie ayam seyegan dengan hati riang dan gembira *sumpah bahasanya absurd gan*

***

Mie ayam seyegan versi default

Restaurant's Name :
Mie Ayam Seyegan

Concept :
Indonesian Food (Jogjakarta)

Design and Architecture :
Warung. Tidak ada yang spesial yang bisa dibanggakan dari warung ini selain ya memang hanya warung dengan meja kursi yang ala kadarnya. Karena pengunjungnya membludak, even meja kursinya udah banyak gitu, tetep aja dirasa kurang. So, bagusnya warung ini melakukan ekstensifikasi lahan deh.. Hahaha... 

Pricing :
Yang mahal dari warung ini adalah biaya ke sininya.. Hahahaha... Di luar rasa malas yang melanda dan menyerang, bensin ke warung mie ayam ini juga perlu diperhitungkan.. Harga makanannya sendiri sangat terjangkau seperti mie ayam ndeso pada umumnya. 

Mie ayam goreng & mie ayam nggak goreng dibandrol sama --> 10.000 rupiah
Minuman --> 2000 rupiah
Parkir motor --> 1000 rupiah

Front of the House (F.O.H) :
Berkesan sekali FOH di sini. Tanggap. Informatif. Bahkan kayak udah langsung kenal. Gw bisa pake boso jowo ala pos ronda sama masnya yang jaga. Enak aja. Kalau antri itu emang biasa gan, so langsung cari-cari aja tempat yang kosong. First come first serve. Then, si server juga cekatan kok. Asik.

What they sell ?
Seperti yang gw bilang di bagian harga, menu utama di sini ya cuman dua biji. Yakni mie ayam goreng en mie ayam nggak goreng. Mie ayam nggak goreng emang belum gw cicipi soalnya ya nggak mungkin gw pesen dua porsi buat sendiri. Tapi dari pengamatan gw, yang paling laris di sini adalah yang mie ayam goreng. 

Duration of Service each item :
Walaupun antri panjang banget, si server dan si penerima order saling berkolaborasi *duile* en diskusi mana dulu yang harus dilayani. Semua pesanan ditulis berurut berdasar waktu pemesanan. Sangat cerdas. Jadi nggak ada yang dirugikan di sini. Trus kemampuan mengingat para FOH ini juga keren, jadi nggak mungkin ada kesalahan pesanan. Top. Untuk antrian sebanyak itu gw kudu nunggu 15 menit-an is no problem at all. Lagian gw juga kudu mengistirahatkan pantat gw setelah perjalanan yang cukup melelahkan.

Mie ayam seyegan pas udah dicampur ama sambal

Seasoning :
Secara rasa sih memang aduhai sekali. Rasanya hampir sama kayak Mie Rampok tapi nggak pedes blas. Manis en gurih maksimal. Ada rempah khusus kayaknya yang digunakan selain ketumbar, entah itu pala, kemiri atau jinten. Yang jelas rasanya beda sama Miago Juwita juga. Mie-nya tebel banget kayak Mie Sendowo, ukurannya kalau dalam khazanah pasta itu sama dengan linguine, lebih kecil dari fettuccini tapi lebih besar dari spaghetti. Satu kata untuk kombinasi semuanya. Enak. Walaupun kuah campurannya gak ada lebihnya *yang sapa tau bisa ku jilati pas rampung makan*. Tapi rasanya kayak emang udah pas. Mantap. Dagingnya juga gede-gede kayak Indomie real meat itu nah tapi lebih gede lagi. Puas deh.

Sayangnya, kekurangan kedai mie ayam ini hanyalah pada SAMBAL-nya. Buat gw sih ya. Sambal di sini terlalu manis. Coba kalau sambalnya dibikin gurih juga, pasti asik. Gegara sambal manis ini, mie yang gurih itu jadi ikutan manis juga. Manis ke arah hambar tepatnya. Tapi gak papa sih, gak manis-manis banget. Yang pasti next time gw gak bakal pake tuh sambel.. Jyahaha.. 

Presentation :
Good. Jumbo banget karena memang begitu adanya. Sawi-sawian yang digunakan juga menambah warna di mie ayam ini. Nice.

Consistency :
-

Conclusion:
Reason(s) for me to rethink on revisiting this restaurant is(are) :
TOP. Nggak nyesel. Gw bakal berkunjung lagi karena alasan rasanya yang memang ciamik.

How Do I Get There :
Dari MM UGM, ambil utara ngelewatin jalan kaliurang, trus belok kiri di jalur ringroad sampai perempatan jalan kabupaten (yang ada UTYnya). Belok kanan ke arah mentok, belok kiri kalau lihat Youth Center di kanan jalan berarti anda berada di jalan yang benar. Lurus terus sampai pertigaan, ambil kiri. Lurus sampai pasar cebongan, masih lurus terus aja sampai puskesmas Seyegan. Lurus terus sampai lo nemuin sawah yang membentang di kiri kanan jalan. Mie ayam seyegan ini ada di sekitar puskesmas hewan seyegan. Lagian kalo lo ngeliat ada banyak mobil, nah disitulah mie ayam ini berada...


Suasana antrian Mie Ayam ini... Kebanyakan pengunjung bermobil en sekeluarga, jadilah tempatnya sussah buah berempat sampai berenam.. Lha gw cuman sendiri mah enak-enak aja.. Bwahahaha....
====
Maps and GPS Point :

Review : Bakso Mr. Blangkon

Senin, September 05, 2016
Oihooo... Ini adalah restoran yang direkomendasiin ama Ayuk 2011, tapi nyebaine Ayuk nggak jadi dateng last minute. Gw heran. Tapi ya udahlah, mau gimana lagi mungkin Ayuk lagi sibuk banget. Jadilah gw ama Abi en Binar aja deh nyobain restoran rekomendasinya Ayuk ini. 

Secara lokasi, restoran ini mucuk banget. Sebelahnya Raminten Jalan Kaliurang Km 16 sana, utara UII. Kupikir konsepnya bakalan warung Bakso biasa ala-ala Bakso Pak Min atau sebangsanya. 

***

Restaurant's Name :
Bakso Mr. Blangkon

Concept :
Indonesian Food

Design and Architecture :
Fine dining. Baru kali ini gw ke restoran bakso tapi fine dining. Bahkan bagian vestibule dari restoran ini digunakan sebagai kasir dan showroom barang-barang antik. Suasananya bahkan hampir sama dengan Jejamuran. Sama sekali nggak ada bangku-bangku lusuh en meja-meja pliket bekas tumpahan air gula. Yang nggak umum lagi adalah ketika bagian dapurnya terbuka dan menyatu dengan ruang makan. Nggak ada accent wall yang membedakan dua ruangan ini. Untungnya dapur memang tidak terlihat 100% kayak warung penyetan di bilangan Jembatan Merah sana atau even Jejamuran. Kalau kata pakar kuliner itu saru soalnya ketika ada dapur yang bisa keliatan dari arah pengunjung. Soalnya, pengunjung jadi tahu seluk beluk sanitasi dan apa yang terjadi di dapur itu. Ada kalanya pengunjung bisa saja mengurungkan niatnya makan setelah tahu bagaimana kondisi dapur yang bersangkutan. Just that. Hahaha

Pricing :
Udah mahal, ada pajaknya pula. Rata-rata untuk bakso ya sekitar 15K.

Front of the House (F.O.H) :
Tipikal restoran dengan dapur bersambung dengan tempat makan. Itu FOH pada ngumpul semua di depan konter dapur (tempat makanan yang sudah siap disajikan). Pemandangan yang minus sekali ketika para FOH itu saling nggosip satu sama lain en ketika dipanggil mereka nggak tanggap. Mungkin yang bisa gw saranin di restoran ini adalah peningkatan manner pelayanan. Bagaimana cara menjawab pertanyaan costumer.  

What they sell ?
Mostly bakso. Itu yang direkomendasikan berdasarkan nama warung ini. Tapi, kenyataannya, mereka punya BANYAK sekali menu lain yang bujubuneng mulai dari mie goreng gitu sampai ke seafood en Chinese food. Sungguh berbeda sekali dengan bakso. 

Duration of Service each item :
Good, dalam hitungan normal, 7 menit. Ya, cuman bakso soalnya. Coba pesen gurameh asam manis, palingan setengah jam-an. Haha.

Standar Bakso lah

Seasoning :
Bumbu bakso adalah perpaduan yang menyenangkan antara kaldu sapi dengan bahan-bahan seperti tulang sapi, bawang putih yang dihaluskan, dan tentu saja lada putih. Semakin gurih berarti akan semakin banyak proporsi micin yang ditambahkan. Rasa bakso di sini adalah biasa aja untuk ukuran normal. Baksonya uniform. Kalo lo pesen bakso kuah ya baksonya dapet bakso biasa. Gw pesen bakso telor, jadinya dapet lima biji bakso biasa yang isinya telor burung puyuh (gemak). Padahal ekspektasiku adalah satu bakso telor besar yang ditemani dengan beberapa bakso biasa yang kecil. Kalau bakso urat ya sama, lima bakso urat semua tanpa bakso biasa. Mungkin ya, mungkin kalau pesen Bakso Blangkon, lu bakal dikasih semua jenis bakso ini plus pangsit. FYI, bakso standar semuanya tanpa pangsit.

Presentation :
Standar bakso gimana sih. Cuman mangkuknya memang mangkung spesial yang mahal gitu. 

Consistency :
-

Conclusion:
Reason(s) for me to rethink on revisiting this restaurant is(are) :
Gw lebih milih ke Bakso Pak Min saja lah.. Hehehe.. 

How Do I Get There :
Jakal Km 16, utara UII kiri jalan kalau dari selatan. 

====
Maps and GPS Point :

Menyambut Idul Adha

Jumat, September 02, 2016

Oke, sebentar lagi kita akan bersama-sama sesarengan memperingati hari raya keduanya umat Islam, yakni Idul Adha, atau Idul Qurban, atau Kurban. Dalam KBBI, kata “kurban” diterjemahkan sebagai 1) persembahan kepada Allah (spt biri-biri, sapi, unta yg disembelih pd hari Lebaran Haji): ia menyembelih kerbau untuk --; atau 2) pujaan atau persembahan kpd dewa-dewa: setahun sekali diadakan upacara mempersembahkan -- kpd Batara Brahma. Persembahan? Persembahan kepada Allah? Itulah yang selama ini umat Islam di Indonesia ini lakukan. Sengaja atau tidak sengaja.

Sebelum hari raya, berbagai periwicara atau khatib-khatib santer mendengung-dengungkan cerita mengenai Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Diulang-ulang mungkin udah ribuan kali dalam hidup gw. Inti yang bisa gw amati dari penyelenggaraan festival kurban ini adalah: memberhalakan kurban itu sendiri. Memberhalakan Allah. Orang-orang berkurban saling berkompetisi, even menzalimi diri sendiri misalnya untuk sebuah pahala yang didapat dari mempersembahkan kambing, sapi, atau unta. Orang berkurban sapi dipandang brahmana, berkurban kambing dipandang satria, dan orang yang hanya bisa menyumbangkan tenaga mereka menyembelih kurban ini dipandang sebagai sudra. Kalam Allah sudah dikerdilkan menjadi kehebohan fana, tabungan masa depan, tabungan surga, tabungan melihat bidadari-bidadari surga. 

Sedangkan kata korban dalam KBBI lebih berarti: 1) pemberian untuk menyatakan kebaktian, kesetiaan, dsb; kurban: jangankan harta, jiwa sekalipun kami berikan sbg --; dan 2) orang, binatang, dsb yg menjadi menderita (mati dsb) akibat suatu kejadian, perbuatan jahat, dsb: sepuluh orang -- tabrakan itu dirawat di rumah sakit Bogor

Jelas berbeda penggunaan kata kurban dan korban. Perayaan Idul Adha dan cerita suci antara Ibrahim dan Ismail adalah wujud sembah rasa yang bernama korban. Bagaimana Ibrahim harus membuang rasa cintanya karena menerima wangsit dari Tuhannya. Jaman sekarang yang begini pasti sudah dianggap gila. Coba kalau cerita itu dikisahkan Tuhannya tidak mengganti Ismail dengan domba? Sudah pasti penganut agama Arab ini justru akan mengkurbankan manusia untuk pemenuhan pahala kepada Tuhannya. Ini jadi back to jaman peradaban Inca dan Maya jaman dulu dimana persembahan manusia marak terjadi sekaligus menjadi salah satu sebab punahnya peradaban ini. 

Yang bisa dilihat dari penyelenggaraan Idul Adha ini adalah bagaimana proses sharing antara yang kaya dengan yang miskin. Sesungguhnya nilai ini yang lebih penting. Agar kita bisa berbagi. Agar kita bisa berzakat dan menyisihkan sedikit harta kita untuk menyantuni sesama manusia. Tidak usah harus berupa kambing, sapi atau unta. Uang sepeser kita pun sejatinya lebih berharga daripada berkurban sapi namun ada perasaan bangga dalam hati. Kurban bukan untuk berbangga-bangga. Allah tidak memerlukan kurban, persembahan, sesajen apapun. Ia sudah maha segala-galanya. Ia Maha Kaya, tidak melihat orang dari persembahannya mau sapi atau kambing, mau zakat mal berjuta-juta atau sedekah sepuing koin. 

Bila ada diantara kalian ingin berkurban atau berkorban, luruskan niat dulu. Dengan niatan membantu sesama tanpa harap apapun. Ingin bisa makan bersama si miskin atau orang yang tidak mampu. Bukan bangga namun haru. Ada kalanya makan gule atau tongseng bersama orang yang sehari-hari tidak bisa makan hal yang demikian mahal malah lebih bisa membuat kita menitikkan airmata, ya, jika kita tahu apa hakikat dan arti untuk apa perayaan Idul Adha ini dibuat. 

Sekali lagi bukan sebagai ajang persembahan kepada berhala. Kalau iya, percuma dong. Orang Kristen, Katholik, Hindu, Budha saja tidak menyembah berhala. Tapi sebagai bentuk cinta. Tradisi menyembelih kambing dan sapi ini harus disikapi lain, yakni sebagai bentuk cinta kita kepada Dzat yang Maha Kaya. Kalau sudah cinta biasanya kan apapun akan dilakukan tanpa mengharap apapun. Walaupun bentuk tanda cintanya lebih mahal dari agama lain, nggak papa, yang penting jika kita memutuskan berkurban, maka kita tau apa sih sejatinya kurban itu agar tidak masuk ke aliran mainstream.

Jadilkan momen Idul Adha dengan pemaknaan baru yang enggak itu-itu saja. 
Diberdayakan oleh Blogger.