Hello, This is me!

Sony Adams

Poet Writer Philosopher Spiritualist Travel Advisor Food Reviewer Modern Art Anthusiast

About me

Hello

I'mSony Adams

Poet and Writer

I'm a full-time poet who lives in the southern hemisphere of this very earth to be exact in this province at the center of Java island. He bet all of his life to influence others. This book is Like a genesis for him. It reminded him of those feelings of being thawed in the name of the Love from those experiences, he learned to not being easily conveyed by feelings anymore. He encourages people a lot nowadays, to tell them that there will be a hole in your heart. It will be gone unless you are able to be judged by the courage of your heart.

Experience

Chief Editor

2016 - NOW

Working in the publishing world is quite challenging right?

Writer

2012-2016

I think the only thing i can stay in this quantum realm of time and space is by writing a book, or you can say, this blog

Land and TZ Surveyor

2014 - 2015

Rambling through the outback of some places in Indonesia made me realize that, i should be gratitude for everything given to me

Geophysics Student of UGM

2007 - 2012

Actually, my basic knowledge is geology and physics. No wonder i can still good at those.

What Can I Offer?

QUICK LEARNING

Fast and

MODERN DESIGN

I cant design but i have taste of modern and up-to-date design

POET

Writing poems

WRITING

Experienced in so many platforms

???

???

???

???

3

SOLO BOOK

2

JOINT BOOK

8

CO-WRITING BOOK

52

CANTOS

Portfolio

Bilangan Fu - Review




Bilangan Fu
Karya : Ayu Utami
ISBN 9789799101 (ISBN13: 9789799101228)
Seri Bilangan Fu #1
Dipulikasikan pada bulan Juni 2008 oleh Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia
Karakter : Parang Jati, Sandi Yuda 
Latar : Indonesia 
Penghargaan : Literary Awards Kusala Sastra Khatulistiwa for Prosa (2008)

Jika ada sebuah buku yang sudah lama saya miliki namun baru-baru saja saya baca dan akhirnya menjadi buku yang saya beri predikat nomor satu dari semua koleksi di perpustakaan pribadi saya, saya rasa hanya buku ini, Bilangan Fu—sebuah karya yang fenomenal milik Ayu Utami. 

Jujur saja, sewaktu itu saya baru berada ditahun pertama saya kuliah dan secara tidak sengaja menyempatkan diri bermain ke pameran buku yang ada di kota saya. Ketika itu saya tertarik dengan judulnya yang tidak lazim. Saya pikir waktu itu, Ayu Utami menemukan bilangan atau tata bilangan yang baru, kebetulan saya adalah pencinta sains dan matematika. Saya belilah buku yang harganya lumayan mahal pada waktu itu, di tahun 2008, edisi pertama buku ini.

Entah kerena kesibukan saya yang terlalu menyita waktu atau apa, buku ini hanya saya baca bagian pertamanya saja dan sesudah itu tenggelam dari rak buku saya, hilang dimakan angin. 

Mungkin benar, bahwa sebuah buku itu menunggu bagaimana pola pikir kita terbentuk. Delapan tahun setelah saya membeli buku itu, akhirnya saya mulai lagi mencarinya di rak saya yang sudah berdebu dan kertasnya sudah menguning dimakan usia. Di tahun 2016, saya seperti sudah siap dan mengerti bagaimana pola pikir penulis dan membaca buku yang setebal itu rasanya cepat dan bergulir dengan indahnya sampai saya harus menghemat-hemat agar tidak cepat habis begitu saja. Dari kenyataan ini saya dapat mengambil kesimpulan bahwa delapan tahun yang lalu saya belum seterbuka itu dengan turbulensi informasi dan kenyataan yang ada di dunia ini termasuk salah satunya yang tersirat dan tersurat dalam dunia sastra. 

Novel ini jika saya boleh mengistilahkan, adalah novel banal namun tidak lepas dari makna dan konteks besar yang bisa ditakuti oleh semua orang di zaman modern ini: militerisme dan monoteisme. Novel ini adalah sebuah jagad alit (dunia kecil) negara Indonesia yang berbudaya luhur dan gemah ripah loh jinawi. Dua isu ini rupanya sangat konstekstual dengan persoalan yang sedang dihadapi bangsa ini sekarang. Seperti kembali ke tahun 1500-an, konteks yang sama menyerang masa-masa damai masyarakat Majapahit yang damai sentosa. Kejadian ini rupanya paralel dengan apa yang terjadi hari ini. Dari kenyataan itu, apakah bangsa ini akan memilih untuk menentukan opsi yang sama dengan lima ratus tahun yang lalu, yakni ikut memihak satu opsi dan bukan hanya menyelesaikan masalah, namun menjadi pondasi terjadinya masalah-masalah baru yang lebih pelik, khususnya dalam tatatan budaya.

Selain membahas dua isu besar dengan metaforanya yang khas sastra arkais dan pola deskripsi yang mengalir detail khas penuh filosofi, penulis juga menghubungkan jagad alit tersebut dengan jagad ageng (dunia besar) yang bernama: spiritualisme kritis. 

Bilangan Fu dapat dikatakan sebagai buku dengan konten spiritual yang universal. Memang masyarakat kita belum dapat membedakan apa perbedaan yang signifikan antara spiritualitas dan relijiusitas atau agama. Ayu menggunakan istilah-istilah Alkitab seperti orang Farisi dan orang Saduki sebagai nama klan, dan nada-nada jenis ini dapat ditemukan juga di novel Ayu yang lain, misalnya Saman dan Larung. Hal ini digunakan Ayu untuk mencetuskan ide bahwasannya perkawinan antara spiritualitas kritis dengan kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia Indonesia yang berbudaya itu sangat bisa diterapkan dan diejawantahkan—ya lagi-lagi tantangan yang dihadapi sangatlah besar. Hal ini disebabkan oleh perbedaan persepsi orang-orang zaman sekarang yang terlampau fundamentalis dan membenar-benarkan apa yang diajarkan oleh guru-gurunya, padahal belum tentu pelajaran yang diberikan itu bernuansa kebenaran yang universal. 

Indonesia memang sudah waktunya darurat filsafat. Dua kutub (agama dan ilmu pengetahuan) seperti melayang sendiri-sendiri tanpa lekatan yang mendasarinya atau alih-alih menjembataninya. Yang satu terlalu kolot dan yang satu terlalu canggih. Orang Indonesia justru menghindari filsafat karena filsafat adalah ilmu gila yang menjerumuskan. Bagaimana mau maju? Penulis di kesempatan ini ingin berbagi tentang bagaimana seharusnya filsafat menyusupi awang-awang imajinasi kita. Filsafat memberikan kita kontrol bahwa yang berlebih-lebihan itu tidak selamanya baik bagi diri kita sendiri. Namun, lagi-lagi kembali ke pribadi masing-masing, buku ini membuat pikiran saya yang semula bebal menjadi lebih fleksibel untuk menerima sinyal-sinyal baru. 

Dan saya menganggap pertemuan saya dengan novel ini bukanlah sebuah kebetulan. Saya memang sudah seharusnya membeli buku ini di tahun 2008 kemudian menelantarkannya dan kembali memungutnya di tahun 2016. Saya menjadi mahfum dengan bagaimana caranya semesta menggiring kita untuk sejenak menepi dari kesibukan kita dan mengingatkan kita dengan caranyanya sendiri agar kita menjadi lebih eling kepada sekitar kita. 

- Faz, 2019

30 Days Pursuit of Happiness



Pemesanan dapat dilakukan di Whatsapp 085-8787-66-347

Untuk sebuah pengantar menuju mindfulness life, harga yang sedemikian bukanlah harga yang mahal. Membeli buku ini tidak serta merta membuat Anda menjadi miskin, namun justru akan membuat diri Anda kaya dalam penguasaan batin Anda.

Review dari Penulis Buku Berdamai dengan Diri Sendiri, Muthia Sayekti:

“Saya secara pribadi melihat bahwa apa yang dituliskan dalam buku ini tidak semata-mata rentetan tips praktis ala-ala motivator di luar sana. Dari setiap literatur yang dikutip, juga pengakuan empiriknya dalam melakoni proses meditasi, membuat saya mengamini bahwa penulis juga melakukan proses riset secara partisipatif untuk menulis buku ini. Sehingga, apa yang ia tulis bukanlah omong kosong yang dirangkai dan dihimpun menjadi sebuah buku.

Buku ini bukan semata-mata solusi final untuk menyelesaikan konflik batin yang mongering dalam menjalani kehidupan yang melelahkan hari ini. Masing-masing individu memiliki sifat
yang partikular dalam menghadapi tekanan hidup. Pun, apa yang menjadi permasalahan berat bagi satu orang belum tentu memiliki bobot yang sama beratnya di mata orang lain. Begitu pula konten dari buku ini. Bisa jadi ajakan penulis untuk mencoba kembali mengatur napas, menikmati setiap gerak tubuh, mendengarkan langkah demi langkah kaki saat berjalan, kunyahan demi kunyahan setiap makanan yang masuk ke mulut kita, dan praktik meditasi lainnya di buku
ini hanyalah sesuatu yang aneh, tidak efisien, dan sangat membuang waktu.

Tetapi yang ingin saya sampaikan, saat saya membaca tulisan dalam buku ini dan akhirnya terdorong untuk ikut-ikutan mencoba (meski tak sampai selesai 30 hari), saya sama sekali tidak merugi. Meskipun tak cukup khusyuk dalam mencoba, tapi saya cukup merasakan efeknya. Sedikit demi sedikit saya menjadi lebih menghargai diri sendiri, berusaha untuk tidak kecanduan pada hidup yang serba cepat, mulai terlatih fokus, dan tidak mudah terdistraksi.

Yah… semua tinggal balik ke masing-masing pembaca. Tugas penulis di sini hanya memaparkan dari apa yang sudah dilakoni dan ditelitinya, sedangkan saya mencoba untuk membaca dan mengulas, sedangkan Anda…? Sangat berhak untuk patuh dengan mencoba lalu merasakan manfaatnya, atau justru bersikap resisten dan tak acuh terhadap apa yang disampaikan penulis melalui buku ini, lalu kembali ke kehidupan yang penuh distorsi. Semuanya, terserah
Anda.”

The Book of Your Lies




Akhirnya, setelah banyak teaser, kini buku unyu ini. Bisa dipesan loh.


Tentang apa sih buku ini?

Pasti gak lihat live kita zaman dulu.. haha.. tapi no problem, kita jelaskan lagi. .

Pernahkah suatu ketika kamu bertanya-tanya, kapan terakhir aku berbohong? Kapan terakhir kali pacarmu membohongi kamu? Kapan terakhir kali kebohonganmu ditutup lagi dengan kebohongan yang lain sampai menjadi bohong yang tiada akhir. 

Buku ini mungkin beberapa segmennya akan membuat kamu tersenyum simpul karena menyadari bahwa sejatinya kamu pun pernah melakukan hal yang sama entah kapan itu.. .
Meski ditulis dengan bahasa Inggris, kami rasa justru dengan ini media pembelajaran bahasa inggris kita menjadi semakin aplikatif. 


Pre-order NOW.. Ada kesempatan untuk mendapatkan pouch untuk 48 pembeli pertama ya my dear~


#thebookofyourlies #histeriapublisher #selfimprovement #howtodealwithlies#preordernow

[PERS #38] Ahmad Ali Fahmi





Whoaaaaaaa... It’s been a long time since I am not updating this shitty blog I had. Berkali-kali ngejadwalin untuk konsisten mengisi tulisan di sini, tetep aja nggak bisa. Bisa jadi karena kesibukan gw yang utama juga menulis, sehingga istirahat gw lebih gw curahkan untuk afk a.k.a away from keyboard, yah mungkin itu alasan utamanya ya.. Mengingat episode personifikologi yang gw mulai delapan tahun yang lalu ini sudah sampai di satu kloter final. Maka.... kayaknya gw kudu memaksa diri gw sendiri untuk stay on track.

***

Okedeh, masih mengikuti absensi postingan yang gw tentukan delapan tahun yang lalu (baca: seperti yang masih tampak di poster individu itu ada tahun produksinya tahun 2011), maka kali ini gw akan membahas tentang sosok bapak andalan IT anak geofis a.k.a aktivis plurk Indonesia yang cukup membuat gw en beberapa temen gw aktif di platform ini selama beberapa saat. Siapa lagi kalau bukan mas Ali, panjangnya sih Ahmad Ali Fahmi.

Pernikahan Ali

Ali bersama istri, ini foto dipasang di pintu masuk pas kondangan

 Anyway, doi udah nikah nih ya gaes di beberapa tahun yang lalu en implikasinya tentu saja doi juga udah dikaruniai anak yang culu yang sering dibawa juga kalau kita reunian (misal: buber) atau ketemuan di nikahan siapa gitu. Nah, apa yang paling terkenang dengan pribadi si Ali ini ya? Selain pastinya karena doi lulusan Teladan Jogja yang namanya melambung kayak bola tendangan Lionel Messi (??), so pasti temen-temen gw yang kebanyakan juga ana alumni Teladan (*duile) juga nggak mungkin ngga kenal doi lah. Dulu karena doi sering telat jadinya pernah juga jadi bahan bully-an tersendiri di zaman itu.. hahaha..

Jaman  ada acara di Hotel Sheraton

Pendadaran, cuman sayang fotonya nggak bagus.

Jaman KL...
Beberapa kali juga pernah main ke rumahnya di bilangan Mlati deket Cebongan sana. Dulu sih rumahnya masih besar en halamannya gede banget. Secara kepribadian orangnya kalem en baik, suka bercanda kadang, agak nggak cocok kalau ngomong Indonesia, karena kesehariannya bahasa Jawa alus kayaknya, en so pasti secara teknologi itu entusias banget, cocoklah sama Cocho atau Iwan. Tapi karena orangnya so religius, jadi doi nggak memanfaatan kepandaian teknologinya untuk bikin contekan digital ala-ala txt zamane Angga atau sebangsanya, yang gw tahu lah ya... mbuh kalau jebule doi juga memanfaatkan... haha...

Anak BPPTK jadi kudu berjibaku dengan kabel dan sensor.. hahaha...

Gw inget ini pas nentuin titik pengukuran buat Mikroseismik di FC hari pertama

Keinget itu HP-nya jadi andalan pas jaman YM Tiny haha..

Pas acara short course yang ngundang bule

Nggak tau pada ngediskussin apaan, kayaknya sebelum nontonin sidang atau apa deh di ruangan Fisika

Survey apaan ya? FGA?

Kayaknya jaman awal-awal banget deh.. with Ghofar


Cape abis survey SUTET di Jogja bagian selatan

Kuwu

Pemberangkatan STMJ

Sesi apa ini gw kaga ngerti

Candid 2

Senyumannya kadang losss banget..

Undefined.. haha

Pasti lagi ada di Bis

Ikon paling taat ibadah 2007 lah ya...
Kalau nggak salah dulu dia aktif banget kalau disuruh survey pendahuluan kayak survey FGA atau survey apa gitu. Walaupun temen deketnya adalah kamera karena paling sering doi ngurusin dokumentasi, doi juga pernah kayaknya terlibat sebuah kecelakaan kayaknya abis survey Funcamp, gw nggak ikutan soalnya, jadi agak-agak lupa. Yang lucu ya pernah suatu ketika dia ketiduran. Udah tahu doi kalaui tidur beneran ubiquity alias gak pandang tempat dan waktu, pas kerasa ngantuk, wes maklerrr... Sialnya waktu itu pas lagi survey Non-Seismik bagian VLF en gw satu grup sama doi. Dan doi ketiduran di atas rumput pas kita lagi istirahat makan atau apa gw lupa.. Akhirnya momen itu kita manfaatkan untuk foto-foto gak penting yang adegannya kita lagi nyolatin doi seakan-akan doi itu jenazah.. ngawur tenan og bocah-bocah.. Nggak tau juga gimana akhirnya dia bangun.. lupa.. hahaha...

That moment
Berjibaku di BPPTK ngebuat doi kudu naik turun Merapi untuk sekarang. Gw naik Merapi sekali aja udah kapok en nggak mau lagi deh naik itu gunung. Jadilah doi sekarang ahli sensor mitigasi kegunungapian, mungkin dulu ini kerjaannya Ghofar, cuman karena Ghofar udah memutuskan untuk all out di bidang transportasi, maka doi yang harus ngelakuinnya sekarang. Untuk melatih fisiknya, mungkin doi jadi rajin banget lari-lari, ikut-ikutan jamaah runstagram yang ntar update track larinya dibikin tipologi yang sesuai dengan momennya. Good, kadang gw envy deh, sayangnya gw males banget lari-larian gitu. Pernah sekali sih update track gitu, cuman untuk sepeda, pakai aplikasi Relive.

Yah, walaupun jarang ketemu, cuman seenggaknya gw masih tetep ngerti kabarnya via medsos. Palingan nanti buber tahun ini juga bakal ketemu lagi. Nggak sabar nunggu info-info terbaru deh ya...

Saltik


Memang sehari-hari gw disibukkan oleh perkara receh di dunia penerbitan dan sastra. Apalagi kalau bukan: mengenai saltik. Orang kebanyakan lebih suka menyebutnya sebagai typo (baca: ti-po atau tai-po, suka-suka deh). Ya gitu, kerjaan gw sehari-hari emang memeriksa kerjaan editor. Mau nggak-mau gw kudu terbiasa dengan yang namanya pemeriksaan saltik tadi itu. Terbiasa dengan istilah-istilah editing yang biasanya banyak salah.
Nah, gara-gara kerjaan ini, kalau baca majalah atau buku yang saltiknya banyak tuh rasanya gimana gitu. Berasa pengen ngedit banget.
Nah, menurut hemat gw juga, mencintai bahasa indonesia begini juga bisa menjadi pengejewantahan rasa nasionalisme somehow dengan caranya sendiri. Gimana bisa merasa nasionalis kalau masih pake istilah-istilah asing. Kecuali untuk tulisan ini, gw memang sengaja campur dengan bahasa gaul untuk tidak menghilangkan ciri tulisan gw. Lagipula, ini bukan esai, hanya curahan hati semata. Jadi nggak perlu lah pakai saya Anda, tidak dan bagaimana. Haha.
Salam,

Filsafat Bangun Tidur

Anyway,

Gw semacam pengen berbagi curhatan aja sih. Tentang manusia dan sifat-sifatnya. Ya, sebelum gw memutuskan untuk menyepi dan menjauh dari segala ingar-bingar ini. 


Ternyata masih banyak orang yang gak one dimensional, grudge holder, obviously spoiled emotion, treachery, inconsistent, suka banget telat, perfeksionis, bossy, nafsuan, terlalu kanan, terlalu kiri, delusional dan whatsoever. Kadang bingung aja gimana gw kudu menyikapi mereka-mereka ini. Intinya gak bisa dong disamain antara satu orang ama satu yang lain.

Bukannya bermaksud menyombongkan diri, tapi emang biasanya memang orang itu kaga bisa menilai apa sih kelemahan diri sendiri itu, so do I. Kalau ada pertanyaan wawancara pasti akan gw bilang kalau gw itu pemalas en impulsif. Perpaduan tipikal golongan darah O dan B.

Balik lagi ke sifat-sifat orang lain, memang setiap orang mempunyai jalan hidupnya masing-masing. Juga mereka berhak memutuskan pilihan-pilihan apa yang bakal dipilih. Ambisi-ambisi apa. Bahkan yang paling deket dengan kehidupan gw sekarang, cari jodoh. Orang pada sibuk nyari jodoh, pake tinder kek, ta'aruf kek, modal dengkul nekat kek atau apa. Gw kaga tertarik. Seenggaknya sampai detik ini gw tidak berpandangan bahwa menikah itu membutuhkan cinta. Dan cinta diwujudkan dengan cara menikah, dengan produknya bernama bayi. So, love ia merely a legal way to procreate, isnt it? Pusing kadang gw mikirin. But, it's my life right?

I wanna be myself, bukan seorang yang diatur-atur, bukan jalan kebahagian, bukan gw yang harus ikut lingkungan yang say A so then A.

Gw cukup tahu aja ketika ada orang-orang yang demikian. Life is funny pada ruas-ruasnya yang tepat. Serahkan aja kepada semesta. Gak usah muluk-muluk deh hidup tuh. Bahagia itu bukan punya duit banyak trus bisa beli ini itu, bukan ketika punya bayi, bukan karena bisa haji, bukan karena bisa nginep di hotel bintang lima, en lainnya. Bahagia itu diciptakan, bukan ditunggu. Bahagia itu sesimpel menghirup udara pagi, menyesap aroma kopi, ngelihat tanaman en hewan peliharaan bisa sehat, bikin orang lain tertawa, bantuin orang lain dan menjadi manfaat bagi orang lain apapun kendalanya. Sistem semesta akan menggantinya kok. Ikhlas yang sejati.

Mungkin orang berkata, gw terlalu baik, gw terlalu nurut, gw terlalu "manis" dalam hal sifat. Ya, monggo whatever, that's my choice setidaknya untuk the rest of my life. Hidup itu sistem give and take yang konsisten. Apa yang terjadi pada kita bisa diibaratkan menjadi sebuah peringatan.

Ya, in the end of the day, gw harus deal with those orang-orang dengan sejuta kepribadian. Harus mengikuti permainan satu dengan yang lain. Yang jelas aku mencintai semua orang. Semua makhluk. Baik yang seburuk-buruk sifat mereka. Ini hanyalah sebuah filsafat bangun tidur gw.

Namaste,

Sang Pemijat

***

Ada seorang pemijat yang masyhur. Ia diisukan seorang indigo yang lahir pada hari kamis pahing. Entah apa hubungan hari dan pasaran jawa itu dengan bakatnya sebagai pemijat. Ia lelaki, mungkin dalam hidupnya ia harus memilih dan mengikhlaskan harga dirinya sebagai lelaki yang di desanya lebih banyak bekerja bertani atau sebagai buruh bangunan. Bukan perkara mudah memutuskan untuk menjadi seorang pemijat.

Ia bukan Abraham namun ia bermimpi diharuskan melakukan sesuatu dengan tangannya. Ia bukan Yoseph namun ia bermimpi bahwa akan datang jaman yang dimana ia diharuskan membuka pintu rumahnya 12 jam dalam sehari. Namun ia merasa tugas itu lebih mulia daripada mempertanyakan eksistensi ia sendiri. Sebagian besar akan menganggap remeh mimpi yang terjadi padanya. Namun, ia tidak. Ia taklid dengan mimpinya.

Ia adalah pribadi yang tidak pernah marah, walaupun rumahnya tetap dikerumuni orang di atas jam 8 malam, namun justru orang-orang itu yang merasa tidak bisa marah. Ia mengobati setiap pasian (walaupun dia tidak pernah menganggap tamunya itu pasien) dengan sabar. Ia berorientasi pada prinsip karma.

Ia bukan lulusan akademi kedokteran yang mumpuni. Bahkan ia tidak hafal sistem osteologi. Ia tak tahu apa itu dislokasi femur, tibia, ulna dan sebagainya. Ia hanya sesederhana: memegang titik yahg dirasa sakit dan nyeri. Voila, sembuh.

"Kira-kira apa pak penyakit saya? Apa karena posisi tidur saya salah? Atau pola makan?" tanya seorang pasien.

"Sepertinya Anda banyak melakukan korupsi kecil-kecilan. Misal mengambil sesuatu yang bukan milik Anda," tukas sang pemijat.

Tertegun si pasien dengan diagnosisnya yang sangat tidak berbau medis sama sekali. Atas dasar apa ia mengetahui bahwa ada korupsi yang dilakukan. Bahkan tak ada sepatah kata pun terlontar dari mulut pasien.

Pasien merasa ditelanjangi, seperti ia bertemu dengan para apostle yang mempunyai mukjizat yang terpampang nyata. Mungkin sang pemijit akan sangat kaya raya karena bisa melakukan kongkalikong atau persekongkolan makar dengan pasiennya. Namun, nyatanya biasa. Rumahnya tetap biasa. Tidak ada wallpaper atau cat dan ornamen yang berlebihan. Kecuali tuntutan harus buka 12 jam tadi.

Sejenak para pasien menimbang-nimbang apa yang terjadi. Pasien yang otaknya sama dengan otak orang kebanyakan pasti akan berkata, "Dia ini titisan dewa." Pasien yang tidak peduli akan menjadi lebih tidak peduli, yang penting penyakitnya membaik. Pasien yang kritis dan pernah membaca buku-buku filsafat atau rohaniwan pasti akan menyimpulkan lain.

Apakah sakit itu adalah karma yang dipercepat atau disegerakan?

Mungkin pernah dengar ada cerita seorang pesakitan yang bisa sembuh hanya karena ia meminta maaf kepada orang-orang yang sudah disakitinya. Hanya karena ia memperlakukan orang lain bak binatang. Hanya karena tidak mengindahkan peringatan-peringatan orangtua. Akhirnya dengan membasuh kedua kaki orangtua (yang penuh bakteri dan berbagai zat kimia berbahaya lain), si pesakit bisa sembuh. Apa pasal?

Dewasa ini, orang lebih terpesona dengan obat-obatan yang memesona. Paracetamol, Zoldifam, Ibuprofen, dan lain sebagainya. Entah obat yang bagaimana sejarahnya, semahal apapun itu, orang nampak tak akan pernah peduli dan memedulikan.

Beberapa pengunjung terdengar berbisik-bisik, berkonspirasi.

"Gini deh Bu, kemarin-kemarin saya selalu dikasih resep yang ini itu hasilnya tau-tau sampai sejuta aja. Heran deh saya, Bu," tukas salah satu dari mereka.

"Iya, Bu, di sini saya malah bingung ini. Kok nggak dikasih apa-apa, cuman disuruh jangan gini, jangan begitu. Apa yang kita yang terlalu bodoh atau bagaimana. Tapi ya balik lagi sih, selama keluarga kita sehat mah, oke-oke aja. Lagian nyumbang di sini mah juga seikhlasnya," ibu yang suaminya didera penyakit yang ajaib sampai-sampai ditengarai sebagai perbuatan santet.

Begitulah Sang Pemijit memberi pelajaran darma kepada semua pengunjung dan pasien. Mencari uang di muka bumi ini sih boleh-boleh saja dengan cara apapun. Mencari kebahagiaan di dunia ini sih sah-sah saja. Namun, alangkah baiknya jika kita memerhatikan segala tingkah laku sebelum melakukannya. Entah itu merugikan orang lain, entah itu menyakiti orang lain, entah itu zalim kepada diri sendiri, apa pun itu.

Sang Pemijit itu berkata, "Nah, jika sekarang kamu merasa sakit, dosa mana yang sedang dilimpahkan azabnya padamu? Sakitmu adalah bukti nyata cinta Ilahi. Sakitmu adalah pembenahan entropi oleh bifurkasi semesta. Sakitmu adalah domino terbalikmu. Kamu tahu rasanya tapi bisa saja kamu tak pernah tahu sebab asal mulanya bagaimana dan menyalah-nyalahkan segala hal atas nama bakteri, virus, dan gaya hidup."

"Wake up!" ujarnya.

Ayam Pakai Saos Jogja


Halo semuanya, jumpa lagi dengan gw di sini, di blog ini en sekarang gw pengen ngebahas sedikit tentang tren masakan yang berkembang di Jogja akhir-akhir ini. Setelah jaman macaroni goreng berbumbu-bumbu en jaman es cokelat yang mantap jaya bercabang-cabang di Jogja itu plus tren es krim high-end yang diramu sepaket sama bangunannya yang instagramable, sekarang tren selanjutnya adalah ngikutin budaya Korea.

Yeah, I know, postingan sebelum ini gw ngebahas tentang gw dan korea, khususnya budaya korea. Tapi bukan emang gw niatkan begitu. Hehe. Ok, you know lah, orang korea itu suka banget sama ayam goreng (baca: Chikin), cuman bedanya di sana ayam itu sama sekali TIDAK disajikan sama nasi. So, menghidangkan ayam dan nasi (kayak Olive of KFC di Indonesia) itu sangat geje sekali. Mungkin orang korea yang main ke Indonesia bakal menenui shock culture ini. Begitu juga ketika ada orang Indonesia pergi ke korea en pesen ayam di KFC korea, nggak bakal dikasih nasi.

Ne, ayam di korea itu dijadikan makanan cemilan en biasanya sangat klop over soju (baca: bir bintang-nya korea) atau yang paling sering dikonsumsi itu Cola. Gw nyoba kombinasi ini di Olive, berasa aneh banget coz biasanya kan kita makan ama es teh en nasi. Begitulah, tiap negara punya keunikannya sendiri-sendiri.

Nah, budaya ayam cemilan bersaus ini awalnya udah lama ada di Jogja back to 2015, di awali oleh Jank-Jank Chicken yang restonya ada di pelosok Nusa Indah, utara UPN sana. Lama-lama semakin banyaklah brand beginian dengan citarasanya masing-masing. So, let’s check it out!

***

Jank-Jank Chicken Wings
Cabang 1: Jalan Super Raya, sebelum Candi Gebang, Utara UPN
Cabang 2: Terban (belum tahu dimana)
Instagram: @jankjankwings

Kalau bisa bilang, ini adalah ayam sesaosan yang pertama kali gw coba. Walau agak jauh dari rumah gw tapi jalur ini adalah jalur biasa gw pulang dari jalan-jalan random gw atau pulang dari masa gw ngajar di SMP di Maguwo jaman dulu. Ya, jaman gw masih menggeluti instagram makanan-makanan kekinian dulu. Tempatnya sangat kecil pada awalnya. Kayak cuman cukup buat empat meja kecil-kecil gitu. Untuk ukuran sayap ayam doang, harga awalnya 7000 dapet dua sayap itu ya nggak terlalu mahal en nggak terlalu murah sih. Saos yang ditawarkan macem-macem gw nggak hapal apalagi sekarang udah kaga pernah mampir lagi ke sana. Terahir mungkin ya tahun 2016.

Soal rasa sih ya tergantung lidah ya, ada yang enak menurut gw kayak ayam saos blackpepper, tapi ada juga yang rasanya geje, kayak ayam saus keju. Well, gw belum pernah nemu saus keju yang beneran decent di Jogja ini selain di Pastagio, even rasa fondue-nya Pizza Hut atau KFC keju jaman dulu itu rasanya unacceptable banget di lidah gw. Nggak tau ya kalau Richeese, soalnya belum pernah.

So, kuy yang belum pernah nyicipin Jank-Jank, bisa kok nyicipin.


Kyochon
Cabang 1: Jogja City Mall (Main Floor)
Cabang 2: Transmart Foodcourt (lantai paling atas)

Nah, kalau ini mah brand asli dari Korea nih. Kalau mau nyari otentisitas dari rasa ya di sini. Favorit gw adalah ayam-ayam yang maknyuss itu pake bap (nasi) yang pulen en panas dipadu sama kimchi seger yang nggak overly-fermented. Pertama kali beli disini gw minta dibungkus soalnya pas lagi sendirian en lagi nggak mood buat makan sendirian. Kebetulan pas lagi opening, jadi pengunjungnya gila-gila-an.

Satu kata aja sih. Enak. Tapi mahal standar harga asli korea kali ya, walaupun udah dimurahin ama Kyochon cabang Indonesia. Hahaha. Bayangin aja, gw dulu cuman makan  ayam potongan entah sayap entah pada bawah gitu aja abisnya hampir 50 rebu.. Tekor deh.. Tapi emang enak sih.. heuheu.. Well, kalau di korea itu dijualnya sepaket yang banyak banget gitu.. Harganya sepaket yang isinya bisa lebih dari 9 biji itu bisa sampai 300.000 (alias 15000 Won). Insane. Tapi ya gitu, coba aja.



Solchic
Cabang 1: Jl. Selokan Mataram seberang Happy Puppy Seturan
Cabang 2: Jl. Kaliurang Km 5,2 (sebelah Luxury atau Parsley)
Cabang 3: Jl. Demangan Baru (pertigaan Mr. Burger)
Cabang 4: Jln. Godean km.1, No.98, Ngestiharjo, Bantul, Yogyakarta
Instagram: @thesolchic

Oke, here we go, tren ayam bersaus di tahun 2017 dimulai dengan adanya beberapa yang beginian. Solchic gw tahu gegara dikasih tau si Uli, temen kerja gw yang emang hobinya makan en prefer ngehabisin duitnya buat nyobain makanan baru. Awalnya mau nyobain bareng tapi sibuk orangnya, maka pas tau kalau Solchic buka di Jakal, langsung aja gw cobain.

Waktu itu masih dalam rangka liburan lebaran, en Solchic merupakan beberapa toko yang buka di Jakal, so, why not gw nyobain ini. Back to my tastebud, rasanya ya  gitu deh. Menurut gw sih oke kalau lo pilih rasa yang tepat. Selalu blackpepper jadi penyelamat karena biasanya rasa ini yang paling bisa dimaklumi.
Bedanya dengan yang lain, ayam di sini sungguh crispy udah mirip Olive. Bahkan lebih crispy lagi. Lebih crispy daripada KFC Crispy.



Kandang Ayam
Jl. Pakuningratan no. 19 Yogyakarta
Instagram: @kandangayamku

Ini adalah cabang ayam bersaos baru yang dulu pernah gw coba bareng Uly en Erlin, iya, temen kerja gw. Out of the blue kita menuju ke tempat makan ala kadarnya ini pas lagi diskon buy 1 get 1 atau apa waktu itu gw lupa.

Well, yang menyenangkan di tempat ini adalah penyajiannya yang tidak “cantik”. Literally, kandang ayam. Coba bayangin kalau kamu adalah ayam di kandang yang lagi diberi makan. Ya, gitu deh. Jadi ayamnya nanti cuman dituangka dalam plastik lebar semacam replica dari ide “terpal” sebagai pengganti piring. Nggak tahu ya nanti plastiknya bakal dipake lagi atau enggak sama mereka, so better if you tear the plactic to make sure it never happen. Haha..

So, tempat ini cocoknya buat makan rame-rame sama temen gitu so kita semacam “rayahan” dan menyampur DNA masing-masing.. hahaha... Orang yang merasa dirinya higienis nggak mungkin mau makan di tempat ini I think.

Mengenai rasa, ya pedes-pedes standar sih. Senengnya lu bisa bambah es teh sendiri di sini en nasi juga kayaknya bisa nambah lagi gitu.. Syurganya penikmat unlimited rice.. Hehehehe..


Ini mashed potato-nya juarak

King Wing
Jl. Kaliurang KM 5,2 (seberang Tempo Gelato Jakal)
Twitter: @KingWingID

Ini adalah ayam sesaosan terakhir dalam bahasan kita hari ini. Seenggaknya yang nggak masuk list gw ini berarti belum gw coba begitu.

KingWing ini gerainya nggak ada. Tempat jualannya cuman kecil. Model kaki lima. Mostly, pengunjung bungkus ayamnya. En, KingWing juga sering banget ngikutin acara pameran-pameran makanan dimana bisa sekalian ngiklanin dirinya. Udah gitu, kalau lu lihat di Jakal, biasanya ini tempat jualannya bisa dipenuhi banyaaaak banget pembeli yang kebanyakan adalah abang-abang Gojek. Menurut gw, KingWing perlu mbikin gerai Drivethru semacam McD gitu kali ya.. SS aja udah mulai bikin SS khusus bungkus kayak Olive.

Yang lebih mengesankan lagi adalah: Rasanya. Bukan lagi di fusion sama cita rasa korea, KingWing mencoba untuk mengombinasikan dengan cita rasa barat. Western Eastern fusion. Out of nowhere, mereka menyajikan mashed potatoes, which is so French based. Plus, pilihan rasanya juga cuman sedikit, en gw pilih BBQ.

Yang mengejutkan adalah cita rasanya emezing sekali. Paling berpengaruh adalah saosnya yang mantap BBQ banget en diramu dengan mashed potato-nya itu yang nggak sembarangan kentang di-mashed gitu aja. As, an authentic French mashed potatoes, mereka juga kayaknya pake sedikit keju untuk ngasih “rasa” savory di kentang-nya. Entah emang beneran ada atau mungkin lidah gw yang mulai mencari-cari rasa yang seharusnya nggak ada en jadi diada-adakan. Coba deh.

***

So, gitu deh lima penjelajahan gw tentang ayam-ayam bersaos. Semoga berkenan. Akhir-akhir ini kaga hobi nyari-nyari makanan baru sih memang. So, hanya karena beberapa resto emang ada di sekitar Jakal, why not?

Salam,

testimonial

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Larry Page

CEO of Google

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Steve Jobs

CEO of apple

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Mark Zuckerberg

CEO of facebook

SONY ADAMS
+62-852-922-333-18
Yogyakarta, Indonesia

SEND ME A MESSAGE

Visit