Masih Bisakah Kita Bermain di Bawah Cahaya Rembulan?



Yo, prakanca dolanan neng njaba,
Padang bulan, bulane kaya rina,
Rembulane.. ne.. sing ngawe awe,
Ngelikaake ojo podo turu sore...
(Lagu Anak)


Menurut sahabulhikayat, anak adalah golongan manusia yang berumur di bawah 17 tahun, atau lebih secara lebih umum, anak adalah mereka yang masih mengenyam bangku sekolah di bawah Sekolah Menengah Atas. Rentang mereka adalah dari balita yang baru masuk taman kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Pertama. Masa kanak-kanak adalah masa bermain. Banyak sekali permainan anak yang bisa dijumpai di berbagai daerah di Indonesia. Ada ingkling, pasaran, dakon, ular naga, jamuran, benthik, jek-jek-an, dan masih banyak lagi permainan lain[1]. Filosofi permainan ini rata-rata mengajarkan bagaimana hidup itu harus saling mengenal satu sama lain, bisa beradaptasi, bantu-membantu, tolong-menolong, tepa selira, dan kebersamaan. Ini nilai-nilai penting yang secara tidak sadar ada dalam setiap permainan tradisional jaman dahulu. Jadi, anak jaman dahulu akan mengenal semua teman-teman di tempat tinggalnya, bermain bersama hingga timbul semangat kebersamaan yang berangsur menjadi rasa saling memiliki. Itulah anak-anak jaman dahulu, mereka menemukan permainan dan dunia anak-anak yang sebenarnya yang bernilai filosofis tinggi dan mudah mengontrolnya.

Namun, dewasa ini teknologi seperti tiada berhenti berproduksi. Setiap jam di belahan bumi ini dihasilkan berbagai macam penemuan dan barang baru sebagai bagian dari produk globalisasi dan kapitalisasi teknologi. Piranti komunikasi nirkabel didefinisikan sebagai berbagai alat yang memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain tanpa bertatapan muka secara langsung. Internet adalah satu dari barang produksi teknologi tersebut. Bedanya, internet bukan sebuah barang berbayar, tapi lebih seperti jasa masuk ke sistem dunia maya. Di negara maju, fasilitas internet ini sudah tak berbayar, hot-spot sudah menjamur di mana-mana, termasuk juga di Indonesia. Rental-rental internet di kota besar sukses besar untuk kalangan menengah ke bawah. Di lain pihak, laptop menjadi barang utama yang harus ada untuk kalangan yang lebih berada. Kebiasaan ber-internet ini juga sudah menjadi gaya hidup (life style) di berbagai kalangan karena banyak feature dari internet yang sampai-sampai mereka tidak bisa lepas tanpanya. Beberapa fasilitas seperti Yahoo Messenger, MSN, Facebook, Youtube, Kaskus, Twitter, Plurk, Friendster dan masih banyak lagi, menjadi daya tarik sendiri bagi penggemarnya masing-masing, dari sekedar kirim-mengirim email, chatting, dan melakukan transaksi jual-beli di dunia yang seperti nyata ini.

Sesuai aturan silogisme, maka ada hipotesa yang berbunyi, anak pun pada saatnya akan terjerat oleh dunia maya ini. Segala fasilitas yang ada bisa membuat semua komunikasi antar teman mereka terasa mudah. Dan benar saja, seperti kata John Naisbitt dalam bukunya High Tech High Touch, seorang anak yang mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi pasti akan terjerat dalam arena yang berteknologi tinggi sehingga harus disertai kontrol yang signifikan dari kita orang yang lebih tua, dan sudah menjadi barang tentu bukan merupakan pekerjaan mudah.

Sisi negatif dari penggunaan internet oleh anak adalah diaksesnya halaman-halaman yang bukan konsumsi anak-anak tanpa sepengetahuan orang tua. Didikan internet ini akan mengubah paradigma moral anak-anak kita yang seharusnya masih dalam tahap saling mengenal dan saling santun. Dunia maya akan menjadi dunia paling asik bagi si anak dan dengan begitu dia akan dengan cepat meninggalkan dunia nyata. Akibatnya, dunia nyata adalah dunia sempit bagi si anak. Anak tidak bisa saling mengenal lingkungannya, tidak sopan, tidak tenggang rasa dengan tetangga, tidak mau membantu, dan tidak mempunyai rasa saling memiliki.

Anak jaman sekarang seperti telah kehilangan jati diri mereka. Kemana permainan yang dulu marak dimainkan di langgar-langgar? Kemana teman-teman yang harusnya ada di samping depan belakang rumah kita pergi? Kemana acara terang bulan yang tiap malam semuanya tumpah ruah di lapangan dan hanya bermandikan cahaya bulan? Kemana lagu-lagu anak-anak yang kini sudah berganti dengan lagu cinta-cinta-an ala Ungu, Kangen Band, dan Peter Pan? Kemana masa kanak-kanak itu? Hilang ditelan jaman.

Hari ini yang bisa kita temukan adalah anak-anak wired boy yang berkeliaran di jalan-jalan kota besar, yang berangkat sekolah memakai earphone yang tersambung dalam HP Iphonenya di balik saku celana, sampai sekolah berhotspotan update status ini itu, obrolan dengan teman tentang masalah teknologi dan cinta, pulang buka facebook sampai pagi dan seterusnya. Gaya hidup anak jaman sekarang. Memperihatinkan.

Seonggok harapan untuk kita para orang tua, mungkin kita masih bisa menemukan generasi terang bulan itu di balik desa yang terpencil sana. Di suatu tempat yang malamnya lebih cepat beberapa jam dari kota besar. Di suatu tempat yang pencahayaannya masih temaram. Mungkin kita masih bisa menemukan anak-ank bermain di bawah cahaya rembulan. Mungkin kita masih bisa menemukan anak-anak yang bermain ingling, gobag sodor, jamuran, dan benthik. Atau, yang kita temukan bisa jadi sama saja: mereka membuka facebook!

Mungkin suatu saat, anak kita nanti bertanya kepada kita,”Masih bisakah kita bermain di bawah cahaya rembulan?”–status facebook. [-sony]

2 komentar

Anonim mengatakan...

koreksi dong, padang bulan, bulane kaya rina. pagi hari gak ada bulan yang terang. harusnya padang bulang, padange kaya rina, rembulane e sing awe awe, ngelingake ojo pada turu sore

Anonim mengatakan...

sex [url=http://pornushi.ru/english-version/free-gay-porn/cinema-12.htm]cinema 12[/url]

Diberdayakan oleh Blogger.