[2] The Tale Of Nawung

Well, akan saya jelaskan mengenai tinjauan sosiologi-kultural di wilayah Nawung ini. Nawung sebenarnya adalah dusun paling timur dari kabupaten Sleman, dan secara terpisah dan jauh dari peradaban kecamatan Prambanan. 

Foto by Beny Yulanta Putra

Secara demografi, penduduknya bisa terbilang tinggal terpisah RT, masing-masing RT mempunyai kuktur yang berbeda. Disini gw bisa mengelompokkan Nawung menjadi tiga kawasan besar, yakni 1) Nawung itu sendiri, 2) Buncar, dan 3) Jatisari. Kultur pedesaan yang masih bener-bener tradisonal menjadikan kawasan ini sebuah magnit yang dapat menarik wisatawan untuk datang berkunjung seiring dibukanya pasar globalisasi -- yakni menjadikan desa wisata.

Namun, adalah desa yang bisa dikembangkan pola pikirnya itu baru Jatisari, berhubung letaknya dekat dengan jalan besar, maka pola pikirnya sudah mulai berkembang, begitu juga dengan Nawung, yang menjadi masalah adalah letak desa wisata itu semuanya berada di wilayah Buncar yang hampir tidak tersentuh globalisasi sama sekali. Bagaimanapun mendatangkan wisatawan sama dengan mendatangkan kultur baru yang meng-global, bukan memaksakan wisatawan untuk beradaptasi dengan kultur pendatang. Nampaknya perlu adanya pelatihan yang rutin untuk membentuk karakter warga masyarakat disini.

Kemudian, mata pencaharian utama masyarakat di tiga desa ini adalah bertani dan beternak. Sangat sulit untuk membina pariwisata jika masih disibukkan oleh urusan ternak dan sawah. Masyakarat setempat blum memandang pariwasata sebagai komoditas utama yang bisa menghasilakan penghasilan bagi mereka sendiri, tengoklah desa wisata lain, mereka bisa mengemas dan memanajemen ternak dan sawah mereka menjadi sumber kegiatan bagi wisatawan. Ini mungkin yang harus ditanamkan.

Menyibak potensi geologis dan keberadaan air, sudah pasti di zona tinggian seperti Nawung ini, air pasti susah didapatkan apalagi semenjak terjadi gempa bumi 2006 yang membuat pergerseran patahan aktif opak yang berimplikasi dengan mandegnya pasokan mata air ke sungai di daerah ini. Well, kalo gak ada air trus gimana nasib wisatawan??? bisa-bisa mereka gak mau balik kesini lagi. Lagi-lagi masyakarat pasti akan menyalahkan alam jika muncul pertanyaan seperti itu.

Kemudian, mengenai kondisi masyakarat sih bisa dibilang sangat sangat ramah, mereka suka membantu, mereka suka menjamu tamu dan menghormati tamu, anak-anak di sana juga sangat ramah-ramah... pokoknya kondisi masyarakat disana sungguh menyenangkan hati... terutama yang sedang dilanda kegalauan yang sangat penat...

Tapi jangan terlalu lama tinggal di sini.... seperlunya saja... 

Hehehehe....

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.