Mas Maulana UGM

Saya memanggilnya Mas Maulana. Saya kurang tahu siapa nama lengkapnya. Tapi, yang saya tahu beliau berasal dari Ponjong (nama suatu daerah di Gunung Kidul, DI Yogyakarta). Ada yang memanggilnya dengan embel-embel Mas, Pak, bahkan ada yang memanggil beliau Syaikh Maulana. Perawakannya agak tinggi, berkulit agak gelap, dan sering memakai pakaian yang panjang (jubah). Mirip anggota Jamaah Tablig. Bahasanya yang beliau gunakan halus, khas orang Jawa yang terbiasa berbicara memakai kromo inggil. Saya juga kurang tahu di mana beliau tinggal, apakah punya rumah pribadi ataukah hanya berpindah dari masjid ke masjid. Dari ceritanya, beliau sudah pernah singgah di sebagian besar masjid di Yogyakarta. Saya sering melihatnya di Masjid Kampus (Maskam) UGM, Masjid Mardliyyah, Masjid Syuhada, dan masjid-masjid lainnya. Terutama sering terlihat di Maskam UGM dan Masjid Mardliyyah. Sepertinya beliau ada di mana-mana!

Pertemuan saya yang pertama dengan Mas Maulana terjadi di Masjid Kampus UGM. Beliau datang kepada saya sambil memberikan tangannya untuk bersalaman. “Namanya siapa?.” Lalu saya jawab. Hanya begitu saja. Setelah bertanya, beliau langsung pergi. Saya tidak menyangka bahwa pertemuan itu bukanlah pertemuan yang terakhir. Saya jadi sering bertemu dengan beliau hingga saat ini. Ternyata bukan saya saja yang dikejutkan dengan kedatangan Mas Maulana yang tiba-tiba sambil bertanya nama. Sudah banyak “korban” yang seperti saya. Dari pengakuan teman-teman, relatif semuanya kenal dengan Mas Maulana, dengan adegan perkenalan persis seperti saya. Sebenarnya kami fine-fine saja dengan perkenalan itu, tapi satu hal yang saya tidak habis pikir, berkenalan koq berulang-ulang? Lho koq berulang-ulang? Iya, perlu saya tegaskan lagi perkenalan dengan Mas Maulana terjadi berulang. Semisal hari ini sudah berkenalan dengan beliau, esok hari ketika bertemu lagi beliau akan bertanya hal yang sama, “Siapa namanya?” Saya memaklumi saja, mungkin beliau dalam sehari sudah berkenalan dengan banyak sekali orang, sehingga tidak ingat siapa saja yang sudah disalami tangannya.

Ada banyak cerita tentang beliau yang saya dengar dari teman-teman. Salah satunya cerita seorang teman yang “dibajak” Mas Maulana di lampu merah. Jadi ceritanya, teman saya ini berhenti di lampu merah. Tiba-tiba Mas Maulana datang dan langsung duduk di bagian belakang motornya, sambil minta tolong diantarkan ke Maskam UGM. Teman saya setuju saja. Setelah diantar ke Maskam, teman saya tadi diajak masuk ke dalam. Teman saya lagi-lagi setuju. Di dalam Maskam, sudah ada sekumpulan orang yang sedang berdiskusi dalam sebuah forum. Teman saya lalu ditinggal sebentar di forum itu. Nah, ketika berada di forum teman saya ditanya, nama, alamat, dan lain sebagainya. Termasuk ketika ditanya kuliah di mana, teman saya menjawab, ”Saya kuliah di DIII MIPA.” Lalu ada yang seorang dalam kumpulan itu bertanya lagi, “Memangnya di MIPA gak ada S1 ya?” Bisa dibayangkan ketika teman saya itu mendapat pertanyaan seperti itu. “Saya ini dulu kuliah di STAN tau!”, komentar teman saya ini saat menceritakan kejadian itu pada saya. Saya cuma bisa senyum-senyum saja.
       
Kembali ke cerita teman saya tadi. Setelah dari Maskam, ternyata dia diajak lagi oleh Mas Maulana. “Ayo ikut kajian bareng saya di masjid anu”, kata Mas Maulana. Teman saya ini lagi-lagi setuju saya, padahal saat itu waktu sudah lebih dari jam 11 malam. Kajian apa yang masih ada jam segitu? Berangkatlah kedua orang ini ke masjid yang katanya ada kajian. Ternyata setelah sampai di tempat tujuan, masjidnya sepi. Kajiannya tidak ada! Akhirnya teman saya ini diajak lagi ke masjid-masjid lain. Bahkan diajak menginap di sebuah masjid. Cerita ini bukan dialami salah seorang teman saya saja. Setidaknya ada dua orang teman yang bercerita tentang “pembajakan” di lampu merah. Ini yang cerita, tidak tahu yang lainnya…
       
Satu hal yang saya salut dari Mas Maulana adalah, mungkin, amalnya untuk beramar ma’ruf nahi munkar secara nyata. Mungkin sudah resiko, kalau ada tempat bagus dan free untuk dikunjungi, pasti ada saja pasangan yang belum menikah yang ke sana. Begitu juga di UGM. Sepanjang pinggiran boulevard UGM, pasti ada saja pasangan yang belum menikah nongkrong di sana. Hal ini dimanfaatkan oleh para pedagang untuk berjualan. Warung lesehan berdiri di sepanjang boulevard. Ramai akan pasangan muda-mudi. Itu waktu matahari masih nongol di angkasa. Setelah lampu-lampu sudah dihidupkan, masih ada juga pasangan yang standby di sana, walaupun yang berjualan cuma tinggal satu dua orang. Bisa ditebak, mereka masih sana untuk berpacaran. Menikmati hubungan yang belum resmi, sambil memanfaatkan kesempatan di dalam keremangan malam. Nah, di sinilah yang saya bilang bahwa amal Mas Mualana itu nyata. Beliau laksana seorang sweeper! Mendatangi pasangan itu satu persatu sambil bertanya, “Sudah nikah Mas, Mbak?” Yang pasti dan hampir dipastikan jawabannya adalah…”Belum, Mas…” (Ya iyalah, masa kalau sudah menikah hobinya pacaran di tempat gelap). Kalau jawabannya belum, Mas Maulana pasti menasehati mereka, lalu disuruh pulang, tapi tidak boleh boncengan. Yang wanita disuruh pulang dengan motor (biasanya tertuduh selalu berboncengan dengan motor), sedangkan sang pria disuruh pulang jalan kaki (hihihi… rasain lu!). Biasanya reaksi tertuduh adalah diam, namun dari yang saya dengar, ada juga yang marah-marah.  Kejadian ini sering saya lihat, terutama di sekitar area UGM. Tak hanya malam hari, Mas Maulana juga “beroperasi” siang hari. All day service! (hehehe…!).
       
Aksi nyata Mas Maulana ternyata bukan hanya diketahui oleh para mahasiswa dan orang-orang yang sering ke UGM saja. Salah seorang ustadz pada sebuah kajian juga menyebut aksi nyata Mas Maulana sebagai amal yang tidak semua orang dapat melakukannya. Saya pikir ada benarnya juga. Saya saja kalau disuruh seperti Mas Maulana mungkin tidak bisa. Terhalang oleh ribuan alasan. Tapi yang jelas, Mas Maulana berhasil melakukannya, berusaha menghancurkan kemungkaran secara langsung. Dan itu adalah hal yang cukup berat karena tidak semua orang bisa dan mau melakukannya. Terkadang melakukan amal memang harus berhadapan dengan perbuatan mungkar secara langsung. Dan Mas Maulana telah mengajarkan sedikit contoh bagaimana melakukannya. Setuju atau tidaknya Anda dengan amal seperti Mas Maulana, itu terserah Anda.  Namun, bagi saya, Mas Maulana merupakan sebuah legenda tersendiri. Semoga Allah SWT. senantiasa melindungi Mas Maulana dan menjadikannya selalu istiqomah. Jika Anda kebetulan mampir di Maskam UGM atau masjid lain di sekitarnya, lalu datang seorang pria yang mengajak bersalaman, jangan kaget mungkin orang itu adalah Mas Maulana. “Namanya siapa?”
Sumber : http://qotrunnada.wordpress.com

***

Itu sepenggal kisah yang gw temuin di google… Tapi, emang iya.. The Last Men Stood Still… Atau The Last Wizard in The Century lah kalo mau diistilahin… Mungkin menurut gw dia adalah sosok satu-satunya yang berani bertindak demikian… Salut deh…

Kisah gw dengan Mas Maulana ini banyak sekali, kenapa? Karena dulu gw jadi aktivis maskam alias Masjid Kampus. Bukan aktivis yang suka menghabiskan seluruh harinya di sana, tapi apa ya, semacam gw suka bolak-balik maskam pas gw SMA dulu.. Menyenangkan..

Gw masih inget gw nanya ke dia,

Mas, kenapa gak ikutan jadi relawan ke Palestina?”

Waktu itu kalo gak salah pas Israel menggempur Palestina abis-abisan, sampe di tipi-tipi banyak bermunculan pendaftaran-pendaftaran jihad gitu…

Dan jawaban Mas Maulana dengan logatnya yang biasanya..

Untuk apa jauh-jauh pergi ke Palestina?? Wong yang di sini aja masih banyak maksiat.. Masih banyak yang ber-kholwat, mending urusin dulu yang di sini, baru ke sana!!”

Keren…… Memang, jihad itu dimulai dari hal yang kecil, untuk ukuran Mas Maulana mungkin inspeksi mendadak di tempat-tempat dimana banyak orang berkholwat merupakan sebuah hal yang gampang, tapi gimana dengan kita, gimana dengan gw??

Masjid Kampus UGM - Sumber : Sini

6 komentar

Abi Dzikri Alghifari mengatakan...

Ahahahaha... Dulu juga pernah liat tuh orang pas jaman-jamannya gue suka nongkrong di Bunderan UGM bareng sheilagank.. Hehe..

Ada pasangan muda-mudi, diceramahi.. Yang cewek dikasih ongkoos buat naik taksi.. Wuss... Keren..

Tapi nih ya, IMHO, harus ada terobosan baru buat amar makruf nahi munkar..

Mungkin lewat media sosial atau lainnya yang lebih mengena..

Sony Adam S mengatakan...

IMHO apaan bih?

Abi Dzikri Alghifari mengatakan...

in my humble opinion Son..

Jatmika mengatakan...

Ponjong deket rumahku... -_-

Soal orang pacaran di maskam masih ada, tapi kok mas Maul-nya ndak ada.?? Where'd he go?

Sony Adam S mengatakan...

*salaman*

*salaman*

sukses yo... sukses yo...

Gama mengatakan...

wow

Diberdayakan oleh Blogger.