Two Straws Paradox


Sekedar melamun, gw berpikir:

Pernah gak lu melakukan hal ini?

Two Straws (Sumber: Sini)

Ambil dua buah sedotan yang biasanya lu temuin dimana aja lu biasa temuin, misal warung mie ayam, atao warung bakso, whatever. Ambil aja dua warna. Misal putih ama merah.

Pernah gak lu merenung di penggir sebuah sungai, selokan, atau suatu aliran air yang mengalir, biar bagus efeknya, gw pilih sungai. Arusnya bagus, faktor X juga ada di sini.

Oke, jatuhkan dua sedotan itu bersamaan ke dalam aliran sungai itu dari atas jembatan. Sudah barang tentu, sedotan itu akan berjalan mengikuti aliran air. Yang gw lakukan selanjutnya adalah mengikuti sedotan tersebut, dan kemudian menetapkan suatu batas fiktif di suatu tempat yang berjarak N dari jembatan tempat awal gw jatuhkan sedotan tersebut. Kira-kira manakah yang pertama kali menyentuh garis batas fiktif (baca: garis finis) tersebut?

Gak ada yang bisa merumuskan sedotan mana yang mampu mencapai garis finis duluan, yang ada hanya probabilitas simpel yang bernama "prediksi". Dalam hal ini 50:50. Oke,semua pikiran ini terlintas begitu saja. Tapi gw bakal menjelaskan ada sebuah faktor yang bernama faktor X.

Jika kita membiarkan sedotan itu berjalan pada aliran tanpa chaos, maka kedua sedotan akan sampai pada waktu yang sama. Namun, sungai? Apakah sungai itu sebuah aliran tanpa chaos? Tidak. Sungai mempunyai banyak bentuk. Dari yang berarus tenang, sampai yang berarus deras, dari yang bentuknya braided stream sampe meander gitu semuanya punya tingkat chaos yang berbeda-beda. Sedotan biasanya nyangkut di pinggir batuan, atau nyangkut di akar pohon yang kadang mencuat begitu saja, atau terendapkan di point bar, banyak hal yang bisa terjadi. Bisa aja sedotan putih jalan lebih dulu, suatu saat dia nyangkut di akar pohon, kemudian sedotan merah menyusul sampe ia juga tersangkut di point bar, karena momen aliran yang deras, sedotan putih dapat kembali bergerak sampe akhirnya masuk ke garis finis pertama kali. Oke, garis finis di sini adalah batasan yang membuat pergerakan sedotan tersebut finit. Bila tidak ada garis finis, maka pergerakan sedotan itu akan infinit.

Sama seperti hidup ini.

Kita sebagai manusia memang diciptakan berbangsa-bangsa, bersuku-suku, berkelompok, berteman, lain genk, lain komunitas. Ambil contoh saat berada dalam situasi dimana gw lagi ngerjain skripsi seperti sekarang ini. Paradoks ini gw namai sebagai kompetisi, dan segala tantangan dan rintangannya adalah sebuah Chaos. Walopun pada dasarnya kita bisa mengubah chaos tersebut dengan usaha dan niat yang maksimal. Tapi ketika memang Tuhan sudah menetapkan nasib dua buah sedotan tersebut, apakah ia akan sampai ke garis finis, ataukah ia hanya akan tersangkut akar pohon? Nobody know

2 komentar

Gama mengatakan...

asek2,

kamal berkata mengatakan...

sebuah pemikiran yang tak terfikirkan :)

Diberdayakan oleh Blogger.