Dream (Too) High


Adakalanya jangan terlalu mimpi ketinggian. Tapi, jangan salahkan jika gw terpaksa mimpi terlalu tinggi, bahkan sampai titik kulminasi, hinge kalo diibaratkan axial plane dalam geometri lipatan. Dan sekali tubuh yang limbung ini diterpa angin, maka tiiba-tiba terhuyung terjerembab ke lantai dasar sinklin menjadi through tanpa decay. Begitu tajam, begitu gak nyantai. Intinya, kadang-kadang gw blum siap untuk menerima kenyataan jika mimpi gw itu dipaksakan… 

Biasanya gw nyeritain hal-hal yang telah berlalu, tapi hari ini gw nyeritain yang baru saja terjadi, sebagai bentuk peluapan emosi semata. 

Ada sebuah perusahaan yang minggu lalu (sekitar 16 Mei 2012 lalu) manggil gw ke Jakarta, sebuah rekomendasi dari dosen pembimbing. Perusahaan ini bergerak dalam akuisisi data seismik lebih seringnya dilakukan diatas laut. Singkat cerita, perusahaan ini menolak gw, hmm... gw gak tau kata apa yang sepadan dengan "menolak", kesannya seperti habis nembak... --a

Sebenernya ya gw gak begitu terpukul juga, udah biasa beginian mah... Yang gak biasa adalah pihak perusahaan itu seperti memberi harapan palsu... harapan yang terlalu tinggi... gak konsisten... Mereka bilang, seminggu setelah tanggal 16, which is tanggal 23, gw kudu telpon, tapi ternyata, tidak ada respon positif setelah gw telpon empat kali di hari itu... Kalo mereka cuman butuh satu, mbok ya ngomong dari minggu lalu.... *menulis dengan emosi*

Ya, beginilah... gw gak perlu lagi memperbandingkan siapa-siapa, gw hanya menyalahkan sistem... Hufff... Gw mungkin menyalahkan diri sendiri kemarin.. Setidaknya pas acara Graduation partynya anak-anak bulan Mei.. Apakah gara-gara belekan?? Penyakit paling gak keren sesemesta alam ini... Gak tau lah... 

Status Quo....

1 komentar

Cartenz Pyramid mengatakan...

kalau nasihat bapak sih "nak, bermimpilah.. setinggi tingginya, sebesar besarnya. perjuangkan mimpi itu seperti moyangmu dulu memperjuangkan tanah ini" :)

Diberdayakan oleh Blogger.