Puncak Becici, Jogja dan Senja



Menilik sebuah lanskap yang ala-ala hutan di pedalaman Inggris atau hamparan sequoia di Amerika, hutan pinus di Imogiri, Yogyakarta mempunyai keunikan tersendiri. Kilau-kilauan cahaya yang berpadu masuk di celah-celah dedaunan dan dahan-dahan tiap pohonnya membuat efek yang mampu membius siapa pun yang sedang mencari asa di bawahnya. Sukses menjadi destinasi  fotografi nomor wahid di Yogyakarta, tempat ini tak ayal menjadi lokasi idaman bagi pasangan muda-mudi belia yang ingin melangsungkan pernikahan dengan cara mengambil sebuah foto prewed dengan latar belakang rerimbunan pohon-pohon di lokasi ini. Sungguh menawan. 

Terletak cukup jauh dari pusat kota Yogyakarta sekitar 22 kilometer sebelum melangkah masuk ke area perbukitan, lanskap kota Imogiri memang membuat perasaan kembali ke masa lalu dengan faktor tradisionalnya yang kental. Didukung dengan sajiannya yang memanjakan lidah seperti Soto Sawah atau Sate Klathak Imogiri yang cukup terkenal dengan ruji sepedanya sebagai pengganti tusuk satenya, semua itu lengkap jika disandingkan dengan kehidupan local yang kaya akan nilai-nilai budaya yang tinggi karena pengaruh aspek kejawen yang kuat dari lingkup makan raja-raja mataram di Inogiri tersebut. 

Meninggalkan area berkhazanah budaya yang tinggi, pengunjung akan disuguhi pemandangan alam yang selalu indah dan menakjubkan didukung dengan jalanan aspal yang berkelak-kelok cukup panjang. Banyak juga spot-spot foto yang dapat ditemui di sepanjang jalan sampai di kota Dlingo dimana ada pertigaan yang menjadi penanda utama jalan ke area hutan lindung ini. Kontur yang lebih rapat menghiasi percabangan ini dan kekuatan kendaraan akan menjadi taruhannya. Sampai di sebuah dataran nanti, hamparan pohon-pohon pinus nan tingi-tinggi sudah memanggil-manggil seraya udara dingin yang menjadi tipikal dataran tinggi sudah mulai membelenggu. 

Hutan pinus Imogiri ini cukup luas sehingga walaupun banyak pengunjung, ia tidak akan penuh dan masih menyisakan ruang-ruang fotografi pribadi yang menawan. Banyak juga di sini para fotografer yang sedang mencoba-coba belajar dan mengasah ketrampilannya di sini. Jika lelah, pelataran di tengah hutan ini juga sudah disiapkan. Bagi yang ingin mencoba menginap di tempat ini, tidak ada salahnya. Rasakan pengalaman unik seperti camping di alam hutan di luar negeri padahal jelas-jelas pemandangan indah ini bisa didapatkan hanya di Imogiri. Bagi yang tidak membawa tenda, beberapa hammock dapat disusun vertikal di dua pohon yang berdekatan dan itu mengesankan.

Menyaksikan keindahan lanskap Yogyakarta dari ketinggian memang menjadi sebuah metode kontemplasi yang paling akurat. Sejenak mata memandang dan udara yang dingin mulai menggerayangi badan, sejenak itu pula lah stress akan hilang untuk sementara waktu. proses healing adalah efek domino yang dicari para wisatawan yang berasal dari perkotaan yang jenuh dengan rutinitasnya dan ingin melupakannya sejenak. Lebih-lebih lagi, di sekitar hutan pinus ini ada sebuah tempat yang dapat mendukung hal itu dengan mengikuti jalan aspal lebih ke timur mengikuti tanda-tanda yang dibuat oleh masyarakat setempat sampai di sebuah daerah yang bernama Puncak Becici.

Puncak Becici meawarkan sebuah gardu pandang yang hampir sama dengan gardu pandang yang ada di Kalibiru, Kulonprogo namun di sini tidak ada pengawasan yang signifikan. Pengunjung harus ekstra hati-hati jika menjejakkan kaki ke atas gardu pandang karena memang kawasan puncak ini tidak ada pengelolaan sampai saat ini. Implikasinya, tidak ada biaya masuk dan tidak ada banyak orang, karena lokasi ini belum banyak orang tahu selain orang yang mengunjungi hutan pinus Imogiri. Bagi yang ingin merasakan terpaan angin yang bertiup dan lanskap alur sungai Opak, gardu pandang di Kebuh Buah Mangunan bisa jadi alternatif lain setelah mengunjungi huna pinus dan Puncak Becici ini karena lokasinya yang amat berdekatan.
Kalo bagus dapetnya kayak gini nih... *envy* (Sumber: Sini)

Begitulah Yogyakarta, daerah dimana sajian tradisional dan alam yang memukau dapat berkolaborasi membentuk sebuah simbiosis mutualisme yang berefek pada wisatawan dan juga penghuni lokal. Jika bosan dengan wisata pantai dan wisata dalam kota, cobalah wisata perbukitan karena Yogyakarta ini adalah taman geomorfologi yang lengkap di dunia dan hutan pinus serta Puncak Becici menjadi sebuah jamrud yang mampu menghiasi kaledioskop ikon wisata di propinsi ini

* Sebenernya ini artikel buat seleksi karyawan Yogyes.com, sayangnya gak jelas en lama kaga ada info lagi, ya sudah, publish saja.. Wwkwk... Makanya bahasanya mungkin terlalu bahasa majalah..

* Update: Puncak Becici ternyata sudah dikelola semenjak delapan bulan ini oleh masyarakat/pemuda setempat. Kemarin kesini sama Yudha, temen se-angkatan, en so far emang the best time to visit kalo gak pagi banget ya sore banget, soalnya kalo siang biasanya awan rendahnya menghalangi pemandangan yang seharusnya indah di sini. 

* Berikut  Peta perjalanan: ( bisa juga via Mangunan kalau mau mampir ke Taman Buah Mangunan ama Hutan PInus Imogiri terlebih dahulu.
Diberdayakan oleh Blogger.