Canto XX - XXIX (Kumpulan Puisi)

<begin>

Vesper's time, Canto's incantation's time. (Sumber Gambar: Sini)
Dari tahun lalu agaknya emang gw udah sering nulis puisi, baik di blog gw ini maupun di tempat lain. Mungkin bisa lo baca di tag khusus “Puisi” yang ada di bagian kanan dari blog ini. Nah, puisi-puisi gw akhir-akhir ini gw namakan dengan Canto, karena terinspirasi dari karyanya Dante, setelah gw baca Divine Trilogy-nya yang keren itu. Anggap saja Canto itu sama dengan Puisi-lah. Nah, Canto-Canto berikut adalah Canto yang gw tulis selama gw ada di site “Sakakemang”, Palembang akhir tahun 2015 hingga awal tahun 2016 lalu. Memang sebagian besar Canto ini bercerita tentang cinta, soalnya waktu-waktu itu gw lagi yang namanya kasmaran. Ya, walopun sekarang sudah tidak kasmaran atau malah sudah dikecewakan sama cinta, ya anggap aja gw mengenang saja apa yang pernah gw tuliskan di HP gw *karena gw nulis puisi biasanya malam hari sebelum tidur di HP gw*. Oke, gw gak tau lu bisa nemuin Canto XIX gak di blog gw, soalnya gak tau kenapa di HP gw Canto mulai dari nomor XX, baiklah, kita mulai saja paraphrase puisi gw ini:
Canto XX
(Memelukmu dalam Kejauhan)

Tersebutlah masa,
Ketika akar-akar kehidupan menjuntai,
Merengkuh mimpi-mimpi orang yang bernaung di bawahnya dengan cukup sabar.
Tersebutlah masa,
Ketika harapan yang sebelumnya nisbi,
Menjadi nyata dan satu dimensi dengan momentum dengan percepatannya yang meletup-letup bagai api.
Tersebutlah masa,
Ketika rasaku dan rasamu seakan melekat,
Menjadi pengejewantahan harfiah dari sebuah frase singkat, aku mencintaimu.

Aku ingin memelukmu dari kejauhan dan memastikanmu ada dalam mimpiku.
Aku ingin member harapan sejati dan membuat semua momentum itu berarti.
Dan, Aku ingin bermimpi dan mewujudkan mimpi itu suatu hari nanti.

Faz, 27 Nov 2015,
74 days to go.

Well, obviously ini Canto yang bercerita mengenai masa-masa gw kasmaran dan jatuh beneran ke dalam jurangnya orang-orang yang jatuh cinta. Well, nampaknya sih mimpi itu terlalu tinggi wahai Sony yang budiman. Pada saat itu gw kaga pernah mempersiapkan banyak payung buat terjun biar jatuh gw dalam jurang takdir gw kaga sakit sesakit pertengahan Mei yang lalu.
Canto XXI
(Sayangku)

Sayangku padamu setiap harinya hanya sebesar butiran debu yang bertebaran dan melayang serta berjemur di bumi ini.
Sayangku padamu adalah jumlahan debu tersebut dan bertambah banyak dan begitu seterusnya walau mungkin kau tak tahu itu.

Faz

Nah, ini lanjutan dari Canto sebelumnya. Kayaknya kok gw ekstasi banget sama hormone cinta ini. Padahal secara lokasi kondisi percintaan gw ini LDR loh. Ya mungkin gw waktu itu gembira aja karena ada yang peduli di saat sebelum-sebelumnya kaga pernah ada yang peduli. Yeah, even sekarang balik lagi sih ke keadaan itu.
Canto XXII
(Roda-Roda Waktu)

Permainan masa dan pergulatan waktu,
Menderu dan berparuh,
Kosong dan hampa,
Terjejal dan terlempar,
Terkapar siang dan terdiam malam,
Siklus yang membius,
Di antara dengusan isak haru napas ini,
Hanyalah bianglala semu,
Dari peliknya waktu.

Faz

Hm, ini sedikit beda topik, yang pasti tidak berhubungan dengan cinta dan percintaan. Sepertinya gw keinget judul drama musikal atau sandiwara terakhir yang gw liat sehari sebelum gw pergi ke Sumatra. Judulnya memang Roda-Roda Waktu. Kalo bisa gw inget lagi, ini gw tulis saat gw stress belajar sesuatu yang gw gak bisa sama sekali. Hormon stress gw meningkat tajam. Yah, meresapi kehidupan di lapangan, di tenda dengan jam kerja yang warbiasyak mungkin membuat gw agak menaruh perhatian terhadap waktu.
Canto XXIII
*tidak bisa dipublikasikan, privacy content*. Walopun gw lupa ini tentang apaan.

Canto XXIV
(Tempus Fugit)

Tak jauh diri kita dari sadarnya kesadaran,
Tak juah nasib kita pula dari garis nadir,
Untuk apalah bermain waktu,
Jikalau semesta sudah tak berpihak padamu,
Wahai para pengembara waktu.

Faz

Masih berbicara tentang waktu dan waktu lagi. Entah kenapa? Mungkin gw saat itu lagi beneran punya masalah sama manajemen waktu. Atau gw jadi lebih capek di malam hari. Soalnya jujur aja malem hari di site ini memang paling top dah. Nyenyaknya bukhan mainnn.. Hahaha...
Canto XXV
(Stagnansi)

Ada saatnya sebuah eksistensi dipertautkan,
Ada kalanya sebuah entropi dikacaukan,
Ada mestinya sebuah imajinasi terlindapkan,
Ada harusnya dikotomi keterhubungan yang padu antara semua itu:
Tentang carutnya stagnansi,
Tentang berangnya lobi birokrasi,
Tentang gamangnya isme fanatis,
Semuanya kosong belaka.
Hanya akal mereka terlalu jauh bicara kehidupan ini,
Layaknya mereka hidup selama-lamanya.

Faz, 5 Des 2015
Saat malam senyap

Pada dasarnya gw juga bingung kenapa gw bikin Canto bertema politik gitu. Kayaknya semacam gw lagi salah minum obat, atau mungkin gw abis ngelihat peristiwa yang memorable di waktu bulan Desember itu. Apakah pengeboman Sarinah itu kah? Well kayaknya sih iya deh. Ah, gak ada ujungnya deh kalo ngomogin negeri ini.
Canto XXVI
(Ombak)

Di tengah samudera,
Ombak sudah biasa dan tak lancung.
Angin pun pasti bergulir kencang.
Aku mabuk karena berada dalam ini,
Aku ingin bebas kembali,
Apakah aku bisa bertahan?

Faz

Gw masih inget ketika gw pilih judul puisi “Ombak” sebagai perumpamaan untuk sebuah masalah yang beriak. Dinamisnya sebuah masalah biasanya membuat gw bingung dan galau. Taulahnya apa maksud metafora yang gw gunakan di puisi ini. Yang juga gw inget kayaknya ini gw tulis saking stress nya gw masalah kantor sama juga masalah cinta. Ya, namanya LDR pun ada up and down-nya juga kan ya.
Canto XXVII
(Koagulasi)

Apakah kita benar-benar terpisah?
Seperti mimpi dan kenyataan?
Seperti ikan dan airnya?
Seperti air yang mengalir dari alurnya yang deras mengalun ke suam-suam danau yang tak sejentikpun gelombang menganggu?
Waktu pun takkan lancung,
Apa kabar kamu hari ini?
Masihkah kita dapat bermain di bawah hamparan sinar rembulan dan hamburan sedu sedan canda tawa kita?

Faz
*kemudian rindu saat bersama teman-teman lama*

Koagulasi artinya kumpulan yang mengendap yang harfiahnya selamu bersama. Dalam hal ini ge umpamakan sebagai teman, yeah maksud gw teman yang pernah mengisi kehidupan gw dengan semua canda tawanya. Ini keknya gegara gw lihat video yanag dikirimin anak-anak di grup whatsapp 2007. Yap, “jangan meremehkan secuil rasa kangen”. Jadi pengen lagi balik ke masa kuliah, atau masa SMA, atau even masa SMP en SD. Ada kisahnya sendiri di jamannya masing-masing.
Canto XXVIII
*hilang*

Canto XXIX
(Resolusi)

Ibarat kamera, resolusi bak ketajaman.
Anganku tak setajam tahun lalu.
Angin membawaku untuk menilai setiap enigma,
Yang terbesut membawaku jauh,
Ke dimensi nol nan putih tak hingga.
Yang kukatakan bukan dusta dan,
Yang kunanti bukan bilangan pengandaian semata,
Resolusi adalah titik kulminasi dari,
ekstrapolasi kurva mutlak satu dimensi yang kosong.
Hilangkan semua, nikmati alunan simfoni hdup ini dengan terbuka.

Faz,
menjelang akhir tahun 2015

Pastinya viral banget yak an momen-momen di akhir tahun sebanding dengan mencuatnya satu kata, yakni resolusi. Entah kenapa, biasanya gw juga rajin aja postingan resolusi gw tahun berganti tahun. Tapi, seakan buat 2016 ini gw kaga ada ide aja. Biasanya resolusi gw juga cuman mengulangi resolusi di tahun-tahun sebelumnya. Kalo dulu-dulu mungkin gw greedy enough untuk memiliki sesuatu, nah sekarang gw berusaha untuk tidak greedy over something. Tapi lantas gw tidak menisbikan usaha loh ya, karena tiap manusia wajib berusaha.

***

Sip deh, beberapa Canto XXX ke atas mungkin lain kali gaes, ini aja udah lima halaman A4 gw nulis, udah semacam gw skripsi lagi. Hahaha.. Yah, ngebaca lagi puisi gw, ada saatnya gw jadi baper lagi, tapi di saat yang bersamaan ada keikhlasan. Trus juga ada memori-memori lain yang mungkin berkecamuk lagi dalam otak gw kayak lagi mainin kaset lama gitu. 

<end>

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.