Durjana

Sebenernya sih gw males banget ini postingan tentang masalah hati. Tapi yasudah, biarkan menjadi cerita lalu yang bisa gw petik sendiri apa-apa yang mungkin bisa gw pelajari.

Hanya gambar, tidak mewakili apapun.

***

Selasa, 3 Mei 2016, di kamar yang panas setelah habis hujan.

Hati seseorang pasti pada akhirnya bisa sakit juga, at least itu jawaban dari pertanyaan temen gw di sosmed yang gw lupa dimana, “Koe iso loro ati juga to?” (kamu bisa sakit hati juga ternyata?). Yap, siapa sih yang superhuman banget yang gak sakit hatinya ketika cintanya dihentikan. Well, begitulah inti dari cerita ini.

Sebelumnya gw suka ngasih lagu buat postingan ini deh:

*lagu Tangga – Terbaik Untukmu*

Salah satu kesibukan gw pasca pulang dari proyekan di Palembang kemarin adalah berpacaran *wew*. Seperti layaknya pasangan muda mudi lainnya yang dimabuk asmara dan ikutan juga merasakan apa yang dinamakan dengan ibadah malam minggu yang gw pikir sama aja kayak malam biasanya kecuali lalu lintas yang semakin konyol ramenya. Yah, memang gw belum pernah posting apapun mengenai yang bersangkutan karena memang gw nggak suka mengumbar-umbar sesuatu yang masih berumur jagung en masih rentan.

Menurut gw cinta itu perasaan yang tidak linier, mungkin eksponensial. Tidak satu arah atau mungkin tidak juga one way relationship *udah kayak plang di jalan-jalan*. Begitulah cinta gw ke seorang, gw kasih aja nama inisial X. Iya, X menjadi kisah dalam hidup gw sekurang-kurangnya hampir enam bulan terakhir. Cuman enam bulan namun buat gw rasa cinta gw itu sudah divine intervention kali ya. Highest Love kalo SNADA pernah bikin lagu *ah jadi ketauan masa kecil gw sering denger nasyid*.

Mungkin sebulan terakhir ini terjadi hal-hal yang membuat X berpikir untuk mengakhiri hubungan yang semakin lama semakin satu sisi ini. Nggak ada lagi panggilan sayang yang biasanya menghiasi semua pesan atau telfon. Nggak ada juga emot-emot lucu yang biasanya memang bertebaran di pesan-pesan yang dikirim. Yang paling parah adalah frekuensi bertemu yang semakin jarang. Kemudian di akhir semua itu tiba-tiba tanpa petir di angkasa dan tanpa kekuatan bulan she said that we’ll be better kalo jadi sahabat aja. That’s so rancid and so drama korea episode 5.

Jatuh gw.

Jatuh ke jurang yang terdalam. Sempet juga gw posting puisi gw di medsos:

“Meraba-raba aku dalam jurang takdirku. Yang ada hanya segenap napas dalam gelap lalu lenyap tiada.”

Flashback gw ke beberapa bulan terakhir dan menatap semua foto kenangan gw. Is that all? I thought our relationship would be so splendid and awesome. Even I already have our future plan indeed despite it is still on my mind, honestly. But, dia bilang I am not that serious in this relationship. Hence, in the end, she couldn’t hold any longer *duh berasa ngobrol ama Cinta Laura ye buk*. Gw nanya kenapa dan kenapa, dia jawab begitu dan begitu yang tidak menjawab pertanyaan gw. Masak ya alasannya karena gw kaga pernah masang foto en segalanya di HP ataupun di media sosial lainnya.

Emosi memuncak. Gw coba dengan jogging en gymning *what is the verb of gym?* as hard as I can tapi ya masih belum hilang aja perasaan kosong dan sakit di hati ini. Gw sadar quote dari Kang Gary,

“Is it love? When you have, it’s like a burden, but if you haven’t, it’s like dying?”

Akhirnya bertemu temen-temen lama en bertemu temen yang senasib itu memang mengurangi level kepedihan itu *ceilahh*. I never be this honest with my feeling. May be I am too tired being introvert. So, bisa jadi menceritakan kisah gw ini juga salah satu terapi sakit hati. Tapi memang bener, saat paling susah kontrol diri itu di beberapa jam setelah the moment of truth. I can barely jump out the 63-stories building just by that. Tapi untungnya kontrol diri gw baik, yah semacam bangga juga jadi diri sendiri. Ya walopun emosinya meluap-luap apalagi pas naik motor gitu.

Gw semacam butuh dopamine dalam jumlah banyak, atau mungkin jamur ketawa. Ingin hilang ingatan untuk sementara sampai gw berani menghadapi kenyataan bahwa ya memang beginilah akhirnya yang terjadi. Berangsur-angsur sih semua nampaknya semakin membaik sampai kemudian dia mengirim pesan:

“Kok aku rasa kamu kayak gak terlalu kehilangan aku”

Memang, kedurjanaanmu adalah bukti ketidaksadaranmu. Dia lupa semuanya. Dia mungkin memang tidak mencintai gw seperti gw mencintainya. Mencintai artinya satu sama lain dapat merasakan apa yang dirasakan satu sama lain. Kalau kamu sakit gw bakalan ngerasa sakit juga, dan sebaliknya. Dengan pesan itu, jelas menegasikan arti cinta itu sendiri.

Cinta itu dalam loh, bukan sekedar cinta-cintaan anak SD. Yah memang kalau sudah tidak sabar menunggu, ya baiklah, mundur teratur dan mengikhlaskan segalanya itu yang terbaik bagi semuanya. Let you have your own life, nikah dengan happy en punya anak banyak. Tapi semuanya itu butuh keajaiban dan semua juga sudah direncanakanNya. Jalani aja semua momentum dalam hidup ini, baik momentum yang positif maupun yang negatif. Semua pasti ada hikmahnya apalagi bagi masing-masing.

Well, sebagai penutup gw kemarin pas down denger lagunya Usher - Burn yang gw pengen banget karaoke di smule app tapi gegara VIP gw jadi kaga bisa eh nyanyi itu ternyata meaningful banget buat jiwa-jiwa yang sedang dilanda kegalauan super akut. Untungnya udah berhasil diwujudkan dengan menyanyikan dua lagu di channel youtube gw. Lumayan lah mengobati panu-panu sakit hati gw.

*lagu Usher – Burn*

Sudahlah, sudah ngantuk, jam 9 kurang 16 menit, gila lelah banget abis dari jobfair tadi.

Bye!

***

Update
 
Bulan puasa dinikmati tanpa ada momentum yang berarti, yang bersangkutan pengen sekali buka bersama namun, pas sudah di hari yang diinginkan, mak clenik, gak ada gaung-nya. Yang ada, gw tau-tau disuruh nganter kesana kemari. Dan yang lebih menohok itu adalah gambarnya yang sedang berwisata entah kemana nggak paham dan gak mau gw pahami. Tertera dengan jelas. "Lupakan Mantan". 

Dang!

Artinya apa? Iya, mungkin dia sudah melekatkan status "mantan" buat gw, iya masa lalu-nya. Udah gitu ditambah satu kata kerja, "lupakan". Dengan tidak bersalahnya dia minta di anterin kesana kemari dengan pedenya gambar itu disuguhkan mungkin biar gw baca. Gw nggak bergeming. 

Gw nggak mau terkungkung dalam dunia status perstatusan.
 
Dan, setelah beberapa pekan berlalu dari saat itu, gw menemukan arti tersendiri. Sinkronisitas dari segala hal. Ternyata sangatlah tidak ada artinya kegalauan itu. Sungguh masih berupa materi sekali perasaan gw saat itu. Saat dimana gw sedang dilatih untuk berubah dan bermetamorfosis dari satu bentuk ke bentuk lainnya yang lebih tinggi.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.