Quo Vadis, Musafir?

Quo Vadis?
Well, setelah mendalami spiritualitas, gw mengalami sinkronisitas dengan bertemu dengan sebuah dokumen yang sedikit banyak bisa membuka mata spiritual gw. Bukan semacam kitab kuning atau merah apalagi biru. Ini bukanlah kitab yang berwarna-warni. Kitab ini mungkin tidak akan pernah terbit dan tidak akan pernah dibukukan karena isinya yang terlalu berat untuk orang awam, orang yang tidak ingin memempuh jalan darwish, orang yang hatinya tidak terbuka untuk sebuah pencarian jatidiri menuju kesejatian. 

Quote yang sebenernya tentang Quo Vadis ini adalah cari cerita Kristen/Katholik yang kalau enggak salah dilontarkan oleh Saint Peter yang bertanya pada Yesus sewaktu ia hendak melarikan diri dari Roma dimana resiko penyaliban sedang sangat mencuat di Roma. 

Saint Peter bertanya :

Quo vadis Domine? (Engkau hendak kemana Tuan*?)

dan Yesus menjawab :

Eo Romam iterum crucifigi (Ke Roma, untuk disalibkan)

Dan jawaban ini membuat Saint Peter berbalik arah menuju Roma untuk kenudian disalibkan secara terbalik dan menjadi martir. 

Gw nggak tau ya mengenai sejarah cerita itu kenapa bisa ada di Roma, secara sepengetahuan gw Yesus itu hidupnya di Yerusalem. Yang jelas gw cuman ingin mengambil inti pertanyaan Saint Peter ini. Kemdian jika suatu saat gw ketemu dengan Yesus, terus Yesus gentian tanya balik ke gw? Quo Vadis wahai musafir? Apa dong yang bisa gw jawab? 

Dulu gw pernah dengan gamblang ingin mencari jatidiri di beberapa sosial media ketika rupanya gw belum tau apapun mengenai pencarian jatidiri itu sendiri. Sampai pada saatnya pencarian itu yang datang kepada gw dengan sendirinya melalui serangkaian sinkronisitas atau kebetulan-kebetulan yang galaktik. Kebetulan yang sepertinya semesta sudah mengaturnya dengan baik. Memang beberapa tahun yang lalu gw juga sempat menjadi petualang pekerjaan, job seeker kelas berat yang nggak jelas juntrungannya bolak-balik menghabiskan segala yang gw punya dengan hasil yang tidak ada. Mulai saat itulah kemudian gw pergi mencari jatidiri secara harfiah dan denotatif. 

Gw menjadi musafir yang berubah dari musafir pekerjaan menjadi musafir cinta, kemudian berangsur-angsur menjadi musafir spiritual. Musafir yang tidak secara nyata bepergian kemana-mana, namun hati gw pergi menelusuri semua negeri. Iya, gw mencari sebuah progress yang tidak kasat mata. Mungkin kalau gw lebih tekun mencari pekerjaan, gw mendapat sebuah progress yang duniawi, dimana semua progress atau kemajuan itu diukur dengan banyaknya harta yang diperoleh, banyaknya istri, banyaknya anak, banyaknya mobil, banyaknya perusahaan, banyaknya pembantu dan segala tetek bengek permasalahan dunia lainnya. Dan gw sangat tidak tertarik untuk itu, tidak tertarik untuk memasuki dunia kompetisi, dunia materialistik, dunia yang walaupun tidak terlihat sombong tapi pasti ada perasaan menyombongkan diri walau hanya sebesar zarah. Maksudnya di sini tidak terlalu diutamakan sebagai prioritas utama. 

Nah, progress spiritual tidak mungkin diketahui orang-orang, kecuali progress beragama. Ingat, perbedaan agama dan spiritual itu jauh sekali seperti bumi dan langit. Orang bisa dengan jelas melihat progress seseorang kalau tau-tau intensitas kunjungan ke masjid, ke gereja, ke wiharanya bertambah sering. Doa-doanya semakin banyak. Jidatnya makin hitam. Perkataannya semakin halus dan kadang-kadang semakin arabisasi. Namun, progress ini bukan progress spiritual. Seenggaknya ada enam belas perbedaan mengenai progress spiritual dan progress beragama. 


1. Agama membuat anda menunduk, spiritualitas membebaskan anda.
2. Agama mengenalkan ketakutan, spiritualitas menunjukkan bagaimana anda menjadi berani.
3. Agama menunjukkan anda kebenaran, spiritualitas menunjukkan cara bagaimana anda menemukannya sendiri.
4. Agama memisahkan anda dari agama-agama lain, spiritualitas menghubungkan dan menyatukan segalanya.
5. Agama menjadikan anda ketergantungan, spiritualitas menjadikan anda mandiri.
6. Agama menerapkan hukuman, spiritualitas mengajarkan konsekuensi (karma)
7. Agama membuat anda mengikuti jejak orang lain, spiritualitas mengajak anda menempuh jalur anda sendiri.
8. Agama mensyaratkan anda percaya begitu saja telan mentah-mentah, spiritualitas menjelaskan mekanisme dan hubungan-hubungannya.
9. Agama memandang Tuhan ada di luar sana, spiritualitas memandang Tuhan ada di batin yg terdalam pada semua ciptaan.
10. Agama (khususnya eksoteris) melarang pengolahan dalam (innertraining), spiritualitas justru mengenalkan anda ada dunia luas di dalam dan mengajak untuk mengolah apa yang ada di dalam.
11. Agama berbasiskan kitab / buku yang dianalisa dengan suatu teori pengetahuan tertentu (hermeneutika/ilmu tafsir), spiritualitas mengajak anda membaca alam baik luar dan dalam.
12. Agama membatasi apa yang boleh dipercaya, spiritualitas mendobrak batasan-batasan itu agar anda melihat bahwa segala sesuatu itu beralasan dan memiliki maknanya sendiri-sendiri sebagai suatu kesatuan agung.
13. Agama dan sains tidak dapat disatukan, spiritualitas sejalan dengan sains.
14. Agama disconnect dari realitas, spiritualitas connect ke realitas.
15. Agama mensyaratkan keanggotaan dan ikatan pada suatu institusi/label tertentu, spiritualitas mengarahkan pada pembebasan diri dari identitas apa pun.
16. Agama menggunakan Faith Below Reason, sedangkan spiritualitas menuju Faith Above Reason
Sumber : http://www.inginkabari.id

Sehingga sudah jelas bahwa pada dasarnya gw gamang dengan keadaan gw saat itu. Saat dimana gw pernah mendewa-dewakan agama gw. Saat dimana gw mendengar ceramah Zakir Naik udah kayak beneran membela panji-panji gw. Dan saat itu juga gw sadar, gw menjadi budak identitas. Karena kekosongan pemahaman diri atas jatidiri gw yang sebenarnya, jadilah gw mengambil identitas kelompok dan menjadikannya identitas yang super dan maha benar. Dan segala sesuatu itu adalah proses. Bagaimana gw beralih dari sesuatu yang eksoteris menjadi esoteris. Dan semua ini tidak gampang. 

Journey to the the heaven of your own
Nah, kemudian, quo vadis wahai musafir?

Yah, gw akan terus berada di jalan ini yaa Domine, yaa Sang Hyang Tan Hana, untuk terus mencerahkan dan lebih bermakna bagi sekalian semesta alam. Mungkin di hari yang baik entah kapan, gw akan berkunjung ke sebuah tempat dimana gw bisa menenangkan diri sekaligus menjadi puncak dari pencarian ini, seperti Haji dalam artian esoteris. 

Teringat sebuah quote dari Dante (walaupun setelah ditinjau mengalami mis-quotation by JFK),

Tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang bersikap normal di tengah krisis moral. 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.