Gigi Dua Series: Pegangan Hidup

Kitab Pegangan Hidup (Sumber: Sini)
Oke, mungkin blog ini bisa aja berubah menjadi blog spiritual karena ya memang penulisnya sedang banyak berkontemplasi. Yap, mungkin tulisan ini bukan pengajian, sermon, atau khutbah berbau agama. Genre tulisan “Gigi Dua” ini gw akan membahas mengenai komik yang mungkin dianggap sangat liberal bagi kalangan yang masih terkotak-kotak, GYMBJ (God, You Must Be Joking) yang digarap sama Mas KJ. Yang jelas pada pembahasan kali ini gw ingin sekedar berbagi mengenai “Pegangan Hidup”. 

Ini versi komik mas KJ untuk judul "Pegangan Hidup"

copyright by Mas Kharisma Jati (FB: Sini). Kalau merasa offended dengan cerita mas KJ di serial GYMBJ ini berarti memang hati anda masih ter-hijab
Sebagai pengangan hidup, orang kebanyakan pasti akan menjawab Kitab Suci, dalam hal ini bisa saja Al-Kitab, bisa saja Al-Qur’an, dan kitab lainnya. Dan apakah hanya dengan memiliki kita bisa mengartikan kitab tersebut sebagai pegangan hidup? Apakah HANYA dengan membacanya saja kita bisa menjadikan kitab tersebut sebagai pedoman hidup? Apakah HANYA dengan memaknai arti terjemah yang ada di bawah ayat-ayatnya secara gambling kemudian itu adalah pegangan hidup? 

Jikalau ada ayat mengenai peperangan, kemudian kita baca, kemudian apakah akan timbul hasrat di dalam dada untuk memerangi orang kafir (dalam pandangan tafsir awam), goyyim, atau unbelievers? Itukah pegangan hidup? Ketika kita membaca kitab mengenai tarikh nabi-nabi terdahulu, even cerita saat Ismail disembelih Abraham, apakah hanya dengan membaca hal yang demikian kita mempunyai pegangan hidup? 

Coba lihat komik Gigi Dua untuk hal ini, di situ digambarkan Gigi Dua melemparkan kitab suci ke temannya di perahu yang akan mendekati bahaya sebagai pegangan. Pegangan dalam arti harfiah. Pegangan dalam arti kulit. Apakah pegangan yang begitu dalam menyelamatkan temannya itu? Maksud komik ini adalah bagaimana mungkin kitab suci yang seyogyanya memang diturunkan kepada manusia sebagai pedoman, sebagai manual book manusia itu sendiri pada kenyataannya memang HANYA digunakan sebatas kulitnya saja. Orang menganggap yang kulit itu saja sudah sangat dewa sekali maknanya, sehingga dia lupa makna sejatinya. 

Sesungguhnya manusia/orang memang akan benar-benar berpegangan dan berpedoman terhadap kitab-kitab itu bilamana memang dihayati maknanya. Terlebih lagi makna hakikatnya. 

Orang sekarang malas sekali mencari tahu kebenaran. Orang lebih percaya pada sesuatu yang katanya-katanya daripada mencari tahu dan mencari pengalaman dengan pembuktian sendiri. Orang lebih percaya hal-hal yang didengung-dengungkan orang lain daripada memang mencari tahu kebenaran itu sendiri. Bagaimana orang buta dapat menolong orang yang normal. Orang sekarang terimo banget udah hidup kayak gini aja. Asal udah dapet penghasilan, asal udah nikah, asal udah hidup tentrem secara finansial secara ekonomi, udah lah tinggal menikmati hati tua. Hidup menjadi hidup tanpa ledakan kuantum. Hidup tanpa turbulensi. 

Contoh saja seperti status teman gw yang menyoal mengenai ibadah yang menghilangkan perbuatan yang keji dan munkar. Ini adalah sebuah pegangan hidup. Intiya jika kita ingin tidak berbuat keji dan munkar, maka beribadahlah. Maka, orang kebanyakan akan beribadah dengan anut grubyuk. Oh orang ini melakukan itu, maka gw juga ikut ah. Oh, dulu gw diajarin guru gw di SD bahwa gw harus begini-begitu. Pegangan hidup ini bisa terbiaskan karena memang tidak jelas juga bagaimana orang memaknai ibadah itu sendiri. Ibadah bagaimana yang bisa menghilangkan perbuatan keji dan munkar? Apakah kita sholat 17 rakaat sehari semalam lalu kita tidak ada hasrat untuk mencuri? memperkosa? mabuk? Apakah kita menghadiri ibadah minggu di gereja, kemudian kita terhindar dari perbuatan kita berdusta? bergunjing? even membunuh orang lain? 

Tentunya ada versi lain dari ibadah. Maksudnya ibadah yang bagaimana yang bisa menghasilkan produk perilaku yang tidak keji dan tidak munkar. Itu adalah tugas dari setiap orang di bumi ini. Pesan gw hanyalah selamilah samudera pengetahuan-Nya, jangan jadi katak dalam tempurung atau bebek-bebek yang gampang dihalau kesana-kemari. Bukalah tabir yang melekat pada dirimu dan cobalah untuk berpikiran terbuka. Hal ini memang tidak mudah. Mungkin beberapa kali surge dan neraka harus dilalui hanya untuk mendapatkan kebenaran yang sejati. 

Untuk melatih keterbukaan, coba renungkan hal ini:

Seandainya, selama ini agama yang gw pegang itu ternyata SALAH, apa yang bakal lo rasain? Seandainya, ada kitab baru yang diturunkan kepada seseorang di antara kalian dan kitab ini menyalahkan apa yang sudah ada sebelumnya, apakah kalian akan serta merta mempercayainya? 

Banyak orang yang nggak suka cara gw menggunakan kata seandainya. Salahnya dimana? Gw cuman membuat agar otak kalian bekerja imajinatif supaya tabir yang melingkupi diri kalian bisa runtuh. Tapi, apa? Tau-tau gw langsung disodori dengan keangkuhan ayat-ayat, disodori dengan kata-kata Tuhan dan Rasulnya seakan-akan mereka dekat sekali dengan yang bersangkutan. It is a mere a what-if question, tapi memaknainya itu menunjukkan seberapa dalam pemikiranmu tentang kehidupan ini. 

Puisi dari Panto-Panto:

Aku kudu manut sopo

Pancen bubrah ndunyo iki
Ra ono panutan sing iso di ugemi
pak kyai si gawene mulang ngaji
Isek minger keterak duwit gedhi..

Aku kudu manut sopo
kabeh mung apik njobo
Ing akhire malah dadi gelo
Wani tutur ning atine muspro..

Duh Gusti kang akaryo jagad
Marang panjenengan anggonku sambat
Nadjan aku jarang sholat..

Aku jek ngerti iki becik iki maksiyat

Shalom!

Rahayu sedulur!

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.