Gigi Dua : Stoik


Urban dictionary : "Someone who does not give a shit about the stupid things in this world that most people care so much about. Stoics do have emotions, but only for the things in this world that really matter. They are the most real people alive."

Example : Group of kids are sitting on a porch. Stoic walks by. 

Kid - "Hey man, yur a fuckin faggot an you suck cock!" 

Stoic - "Good for you." 

Keeps going.

***

Well, hari ini gw lagi pengen nulis hal-hal yang berbau filsafat. Kalo lo pernah belajar filsafat jaman jadul ya bangsanya Pasca Aristoteles, yakni Stoik, mungkin lo bakal sedikit paham dengan apa yang mungkin coba gw utarakan. 

(c) Kharisma Jati - GYMBJ 2016

Intinya, kenapa kita membutuhkan pemahaman Stoik ini di era modern? 

Gw sih setuju aja jika memang ada pembinaan karakter manusia menjadi manusia-manusia Stoik yang berbahagia, bukan menjadi manusia epicurean yang hidup hanya untuk bersenang-senang. Seenggak karena kita hidup di era yang rentan terhadap fluktuasi emosi. Misalnya nih, gw nonton drama korea aja sedikit, tau-tau ntar gw mulai nangis Bombay atau mulai menggunakan frase-frase drama itu dalam segala hubungan SNS gw. Gw jadi kemakan meme dari apa-apa yang gw tonton sendiri, udah mirip ketika kita denger jingle dari sebuah iklan komersial di TV. Dan, itulah mengapa gw kaga pernah nonton TV. Leessang aja menasehati bahwa, turn off your TV, mending explore ala mini dan segala keindahannya atau mungkin lebih baik main PokemonGo daripada stay doing nothing while watching TV

Dan lepas dari TV bukan berarti gw bisa lepas dari jeratan emosi yang bisa datang kapan aja. Bisa jadi ketika temen mulai nyebelin, bisa jadi ketika gw ada masalah dengan cinta, bisa jadi ketika gw dijambret atau paling gampang adalah ketika kejebak macet di perjalanan pulang dari kantor. Gw pasti bakal misuh-misuh dalam hati, atau kalau udah parah banget ya gw bakal misuh dengan lantang. Then, apakah itu menyelsaikan masalah. Gw merasa menjadi Stoik adalah bagaimana gw bisa menahan amarah dan segala emosi gw yang berkobar-kobar. 

Secara tidak langsung, tujuan Puasa Ramadhan itu sebenernya adalah bagaimana membenahi mindset perasaan setiap manusia menjadi manusia Stoik yang sejati. Memang nggak gampang tapi seenggaknya lebih baik daripada heboh en menjadi drama queen berlebihan dalam segala-galanya. 

Even, wikihow aja member tips langkah-langkah menjadi Stoik yang ampuh : 

Yang lebih pasti lagi, gaya berpikir model ini secara spiritualitas sangat dibutuhkan, walopun sebisanya, nggak dalam artian lo kudu ngelakuin ini dalam kadar ekstrim sampai jadi emotionless and frigid. Apalagi untuk menapaki tingkatan yang lebih tinggi, membuang emosi adalah sebuah kewajiban. Curahkan semuanya kepada alam semesta karena hanya dengan begitu semuanya akan berjalan pada garis edarnya masing-masing. Tidak usah banyak mengeluh, berteriak, meminta tolong, memohon-mohon, berkehendak, menpunyai keinginan-keinginan yang banyak. Hidup saja tanpa ekspektasi. Semoga turbulensi itu hadir!

Namaste!

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.