Titi Kala Mangsa


Secara khazanah sastra jawa, frase judul postingan ini bisa diartikan sebagai, Pada Suatu Ketika, pada suatu waktu, pada sebuah era, pada sebuah momentum, dan lebih gamblang lagi pada sebuah titik waktu di jaman dahulu kala. Stagnan dan terhenti seperti kepingan Zeno. Pilihannya hanyalah dualisme, mengulur ke masa lalu sebagai antigravitasi, atau mengikuti gravitasi memandang kemegahan masa depan yang begitu angkuh. 


Yah, gw suka dengan sebuah lagu-nya Sudjiwo Tejo dengan judul yang sama. Lagu ini simpel namun penuh akan nuansa maksa. Lagu yang pernuh pertanyaan yang memiliki dualisme arti. Banyak tafsir yang bisa dicari di dunia maya mengenai makna lagu ini, dan gw pun akan memaknai lagu ini dengan pemaknaan yang lain. 

Coba perhatikan lirik lagunya, bagus lagi kalau sambil diputer lagunya yang asik itu:

Wong takon wosing dur angkoro
(Orang-orang bertanya kapan angkara murka berakhir)

Antarane riko aku iki
(Di antara kau dan aku)

Sumebar ron-ronaning koro
(Tersebar daun-daun kara)

Janji sabar, sabar sak wetoro wektu
(Bersabarlah untuk sementara waktu)

Kolo mangsane, ni mas
(Suatu ketika, dinda)

Titi kolo mongso
(Pada suatu ketika)

Reff :
Pamujiku dibiso
(Doaku semoga)

Sinudo kurban jiwanggo
(Semakin berkurang korban jiwa raga)

Pamungkase kang dur angkoro
(Pengakhir angkara murka)

Titi kolo mongso
(pada suatu ketika)

***

Secara harfiah makna yang terkandung adalah si empu lagu, yang dalam hal pemaknaan ini bisa dianalogikan sebagai pembaca lirik ini sendiri, memandang sebuah kondisi yang ada di dunia ini yang penuh dengan kebatilan, kejahatan, penuh angkara murka. Dan di ending lagu, si empu mengumandangkan puji dan doa supaa diamini oleh segenap pendengar lagu ini supaya bersama-sama sadar dan eling. Eling akan segala perbuatan itu hanyalah berujung derita dan nestapa. 

Ternyata hampir semua lagu pelaku olah spiritual semacam Sudjiwo Tejo juga mencakup makna spiritual yang implisit dan tidak bisa dinikmati orang lain. Sama juga seperti lagu Letto atau segala serat-serat Jawa lainnya. 

Gw mencoba untuk mewedhar (menafsirkan dan member penjelasan) lagu ini dengan bebas, karena memang pemahaman satu orang dengan orang yang lain tidaklah sama. 

Pada dasarnya, lagu ini menurut gw adalah lagu tentang ketertegunan seorang diri sejati terhadap adanya “angkara murka”. Angkara murka termasuk satu dari dua murka yang sering disebutkan oleh orang jawa, yakni Loba murka dan Angkara murka. Loba murka adalah nafsu atau kehendak yang menitikberatkan pada banyaknya kuantitas suatu hal. Khususnya mengenai apa-apa yang dibutuhkan oleh raga jasadi. Misalnya makan yang terlalu banyak, istirahat tidur yang terlalu banyak, melakukan hubungan suami istri yang terlalu banyak, dan apapun kebutuhan yang dilakukan terlalu banyak yang lain sehingga membuat kualitas yang lain menjadi non-prioritas. Sedangkan, Angkara murka sendiri adalah kehendak yang menitikberatkan pada kehebatan status pencapaian. Misalnya keinginan untuk sangat kaya, sangat dipuja-puja, sangat banyak istri, sangat disegani, dan segala ke-super-an yang melekat pada dinamika sosial masyakarat yang ada. Intinya Loba murka ini bercokol di raga dan Angkara murka ini bersetubuh dengan jiwa (hati).

Nah, pemaknaan Angkara murka yang ada di lagu ini berarti lebih mengkerucutkan makna menjadi makna jiwa-is atau makna batin atau lagi makna hakikat. Jika demikian kata ganti yang lain harus diubah juga menjadi kata ganti hakikat yang dalam hal ini adalah pembicaraan yang super hakiki antara aku dan Ingsun. Aku dan Tuhan. 

Untuk menjadi Ingsun sejati, tentunya nafsu harus dihilangkan, bahkan jauh sebeluh mengerti hakikat, harusnya memang nafsu sudah harus dikebiri. Namun, pengkebirian nafsu ini sendiri ada batasan waktu dan nggak mungkin langsung semalam suntuk seorang insan menjadi insan sejati. Pencarian kesejatian itu membutuhkan waktu dan tenaga batin serta runtuhnya hijab yang bagi orang awam yang berlapis-lapis. 

Titi kolo mongso di sini berarti suatu ketika yang nggak pernah bisa diprediksi. Di sebuah simpul waktu di masa depan atau juga bisa di masa lalu. Harus sabar, sabar sementara waktu dan istiqomah dalam laku tirakat di jalan kebenaran itu. Entah sudah berapa surga dan neraka dialami. Tujuan hidup yang entah keberapa ini ditujukan hanya untuk  mendapatkan “jalan yang lurus”, jalan menuju cahaya. Sehingga kita yang berasal dari cahaya, dapat kembali menjadi cahaya yang abadi.

Titi kolo mongso yang terakhir bisa diartikan "amin". Atau "mbuh kapan kui". Atau "semoga saja". 

Tafsir lain:

***

Well, menurut gw pembahasan gw kali ini sangatlah tinggi sekali. Gw bukan sosok yang sudah hilang nafsunya, doakan saja biar bisa tetap istiqomah di jalan ini. Setiap hari adalah pembelajaran. Setiap hari kita bertemu momentum-momentum yang bisa mengubah pandangan kita terhadap dunia. 

Just be yours!

1 komentar

Blogger mengatakan...

eToro is the most recommended forex broker for new and professional traders.

Diberdayakan oleh Blogger.