Book Review : Supernova Series

Sebenernya dari dulu gw ogah-ogahan baca serial supernova ini. Tepatnya di jaman kuliah, saat si Indah menjejaliku dengan bacaan ini. Kalau boleh jujur, mindset pikiran gw semasa kuliah itu belum tinggi dan rumit. Gw masih menggilai bahasa yang super deskriptif ala Andrea Hirata. Lebih-lebih lagi gw nggak suka aja sama judulnya yang kayak ngikut novelnya Fira Basuki yang trilogy Jendela – Atap – Pintu itu. So, ketika pergi ke toko buku dan kemudian menemukan buku “Akar”, “Petir”, reaksi gw, apadeh ini. Kayak gak ada judul lain aja kah?



Entah momen apa yang melandasi pembelianku pada Supernova jilid pertama, Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, dan kemudian seperti anak kecil yang diberi permen loli, gw seperti ketagihan dan ingin lagi dan lagi. Adiktif. Jika memang aku dari awal tahu apa itu Supernova, mungkin aku perlu menunggu delapan tahun hanya untuk membeli “Partikel”, namun gw baru menemukan gaungnya setelah “Gelombang” terbit. Gw merasa sebelum membaca Gelombang, ada baiknya jika membaca empat buku yang terdahulu. 

Oke, mari kita review satu demi satu.

1) Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, a.k.a KPBJ *well singkatan ini lebih mudah ditulis*

Buku ini yang membuatku terkagum-kagum dengan bahasa yang digunakan dalam sekali baca. Tak bisa dipungkiri, riset Dee di dalam buku debutannya ini benar-benar dalam. Theory of chaos ini melandasi semua teori kebetulan-kebetulan yang ada. Begitu juga dengan keparalelan karakter semu buatan Dimas-Reuben dan tokoh di kehidupan asli. Nah, gw suka dengan karakter Diva di sini. Begitu cerdasnya ia sehingga segala yang dikatakannya adalah filsafat nan banal. Puisi-puisi yang diberikan Dee dalam percakapan tanpa suara dengan Ferre ini buku ini juga sangat mengena. 

Buku ini menjadi buku filosofis yang erat kaitannya dengan pencapaian spiritulitas dalam ranah pemula. Supernova membuat dunia menjadi taman kanak-kanak. Iya, setuju. Memang dunia ini hanyalah sebuah bagunan taman kanak-kanak yang beratapkan langit. Semua bebas bertingkah dan menertawakan setiap tragedi. KPBJ ini sangat bagus dan membuat gw bertanya-tanya. Apa sejatinya memang benar-benar ada layanan chatting yang menjelmakan segala permasalahan hidup yang dihadapi. Iya, seandainya saja ada. 

Mungkin banyak yang gak suka gegara fisikanya itu sendiri, malah ada yang berpendapat teori ini adalah gimmick marketing. Nah, buat gw, malah Dee paham sekali sama apa yang dia tulis. Dia mencari pentamsilan yang paling tepat dalam teori fisika kuantum. Dan memang dalam benda yang sebesar zarah itulah tersimpan pengetahuan menganai makrokosmos. 

2) Akar

Sosok Bodhi menjadi sosok sentral di buku ini. Dee menjadikannya sebagai biografi ketimbang novel dengan muatan filosofi, walo nggak sepenuhnya kehilangan jatidiri. Seperti sebelumnya, Dee selalu menghubungkan dengan induk novelnya di beberapa halaman terakhir saja. 

Sampai gw selesai membaca buku ini, gw masih belum bisa mengartikan apa arti Akar itu. Mungkin ada yang tahu? Apakah Akar menjadi menghubung antara satu entitas dengan entitas lain? Dari simbol flower of life yang berada di sampul buku ini, seharusnya sih memang begitu. Akar menyeralaskan hal yang divine dengan realitas manusia. 

Lumayan mengena, tapi satu derajat di bawah KPBJ in my humble opinion. 

3) Petir

Cerita berujung unik karena seorang manusia mempunyai kekuatan listrik. Hal ini mengingatkanku ke om ku almarhum yang juga bisa melakukan hal yang sama. Listrik untuk penyembuhan. Healing. Espektasiku awalnya dalah seperti tokoh Azura dalam Aang The Last Airbender. Azura dari negara api kan keren tuh bisa menyambar-sambar petir birunya. Kirain Elektra – si tokoh sentral di novel ini – juga bisa hal yang demikian. 

Namun, apa yang membuat gw tertarik lebih karena tokoh ini membawa pengetahuan mengenai meditasi seperti yang dilakoni Bu Sati. Gak tau juga apa hubungannya dengan si Elektra. Tapi makin lama cerita makin menye-menye karena pada akhirnya Petir bertemu dengan Akar. Bersentuhan dan kemudian ingat segalanya. Aliran darah adalah pengetahuan rupanya. Sanguinitas. 

Secara gamblang, sudah hampir tidak ada pengaruh supernova sama sekali di novel ini, maksudku level pengetahuan dan filosofinya.

4) Partikel

Yang gw sukai dari Partikel ini adalah jalan cerita yang mengena sekali dalam kultur budaya Indonesia. Sebuah pemberontakan iman biasanya akan diiukti dengan pengkafiran dalam masyarakat yang taqlid kepada pepimpinnya. Zarah adalah tokokh sentral dalam buku tebal berlambang unsur bumi di sampulnya. Dan praktis, buku ini dijejali dengan banyak istilah biologi dan fotografi. Perkelindanan keduanya membuat kita mengenal jenis-jenis tanaman yang bisa bikin fly. Singkat kata, gw jadi penasaran nyicipin Amanita muscaria sp, dengan zat Psilocybe yang katanya bisa mengantarkan diri ke dimensi lain. 

Argumenku sedikit banyak sama dengan argument Zarah. Entah kenapa suara gw semacam terwakili. Tapi semua dalam cerita itu seperti kebetulan yang karena saking banyaknya jadi berasa dipaksakan. Yah, pendapatku sih. But, okelah. Buku ini bisa dibilang juga Introduction to Ancient Alien. Ibu suri mengenalkan Alien 101 kepada masyarakat apatis. Apa yang mungkin dianggap nyata oleh penulis menjelma fiksi mentah. 

5) Gelombang

Novel kelima ini lebih bernada humor. Namun, di novel ini pula kita diperkenalkan dengan segala istilah-istilah seperti sarvara dan infiltran. Dan mereka-mereka ini disebut dengan peretas. Peretas juga dapat dinamai Harbinger. Entah lah, suka suka aja deh. Mulai juga kita diperkenalkan dengan gugus Asko. Tema besar Supernova yang bisa gw simpulkan adalah reinkarnasi. Setiap peretas, yang tereinkarnasi, memilih untuk amnesia. Misi mereka terlupakan untuk sementara, dan tugas merekalah untuk mengingat kembali misi tersebut. Buat gw aksioma ini begitu kerdil. Teneh, yang reinkarnasi cuman yang jadi peretas doang dong? 

So, intinya Alfa sang tokoh sentral di episode ini harus berbagi sketsa dengan Gio yang kayaknya mati-matian nyari Diva di belahan lain di bumi ini. 

Nah, pertanyaan gw adalah kenapa peretas harus mempunyai gugus? Gugus octahedron?

6) Intelegensi Embun Pagi, a.k.a IEP

Novel ini adalah pamungkas dari seri Supernova ini. Dan, semua tokohnya bermunculan semuanya. Gw jadi tau apa benang merah dari semua ini ya kecuali pertanyaan-pertanyaan. Buku tebal yang warnanya berbeda ini menjadi jawabannya. Dan memang Dee sangat pandai membentuk alur dan setelah lima buku terdahulunya membuat gw bertanya-tanya. Kini jawaban pun terurai. 

Filosofis KPBJ hilang 100%, yang ada tinggal kisah petualangan epik semua karakter, tokoh yang disangka-sangka baik hati malah jadi sarvara, begitu sebaliknya. Ada rasa rinduku semua kitab Dee menjadi daya tarik magis filosofis, tapi rupanya pengorbanan seseorang peretas di novel ini menjadi kebetulan sekali. Semacam cerita superhero. Well, taman kanak-kanak menjadi tempat ajang Pokemon Go. Bodhi jadi GPS-nya. Hahaha.. That’s epic! Apalagi cerita cinta Gio – Zarah plus Etra en sapa tuh si Phoenix, yah satu kata, kurang tebel. Itu aja. *padahal udah tebel en gw lahap dalam tiga hari*

So, kesimpulannya:

Dari kacamata penggemar novel cerita petualangan : Mantep banget dah semuanya di novel terakhir.

Dari kacamata penggemar filosofis dan spiritualis : Hanya KPBJ yang paling prima, yah, Partikel, Petir dan Akar lah sedikit.

Dari kacamata satsra : Diksi oke, gaya bahasa standar jurnalis, narasi bagus, tidak ada ungkapan yang terlalu vulgar. Teknik deskripsi oke standar. Paling suka adalah puisinya di setiap awalan bukunya. 


[Faz, 2016]

2 komentar

Anonim mengatakan...

akhirnya kamu baca juga yah..
selamat menjadi

Indah gf07

Maria mengatakan...

well baca spoiler dikit sih. Aku baru baca sampe yang petir soalnya, hahahaha

Diberdayakan oleh Blogger.