Menyambut Idul Adha


Oke, sebentar lagi kita akan bersama-sama sesarengan memperingati hari raya keduanya umat Islam, yakni Idul Adha, atau Idul Qurban, atau Kurban. Dalam KBBI, kata “kurban” diterjemahkan sebagai 1) persembahan kepada Allah (spt biri-biri, sapi, unta yg disembelih pd hari Lebaran Haji): ia menyembelih kerbau untuk --; atau 2) pujaan atau persembahan kpd dewa-dewa: setahun sekali diadakan upacara mempersembahkan -- kpd Batara Brahma. Persembahan? Persembahan kepada Allah? Itulah yang selama ini umat Islam di Indonesia ini lakukan. Sengaja atau tidak sengaja.

Sebelum hari raya, berbagai periwicara atau khatib-khatib santer mendengung-dengungkan cerita mengenai Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Diulang-ulang mungkin udah ribuan kali dalam hidup gw. Inti yang bisa gw amati dari penyelenggaraan festival kurban ini adalah: memberhalakan kurban itu sendiri. Memberhalakan Allah. Orang-orang berkurban saling berkompetisi, even menzalimi diri sendiri misalnya untuk sebuah pahala yang didapat dari mempersembahkan kambing, sapi, atau unta. Orang berkurban sapi dipandang brahmana, berkurban kambing dipandang satria, dan orang yang hanya bisa menyumbangkan tenaga mereka menyembelih kurban ini dipandang sebagai sudra. Kalam Allah sudah dikerdilkan menjadi kehebohan fana, tabungan masa depan, tabungan surga, tabungan melihat bidadari-bidadari surga. 

Sedangkan kata korban dalam KBBI lebih berarti: 1) pemberian untuk menyatakan kebaktian, kesetiaan, dsb; kurban: jangankan harta, jiwa sekalipun kami berikan sbg --; dan 2) orang, binatang, dsb yg menjadi menderita (mati dsb) akibat suatu kejadian, perbuatan jahat, dsb: sepuluh orang -- tabrakan itu dirawat di rumah sakit Bogor

Jelas berbeda penggunaan kata kurban dan korban. Perayaan Idul Adha dan cerita suci antara Ibrahim dan Ismail adalah wujud sembah rasa yang bernama korban. Bagaimana Ibrahim harus membuang rasa cintanya karena menerima wangsit dari Tuhannya. Jaman sekarang yang begini pasti sudah dianggap gila. Coba kalau cerita itu dikisahkan Tuhannya tidak mengganti Ismail dengan domba? Sudah pasti penganut agama Arab ini justru akan mengkurbankan manusia untuk pemenuhan pahala kepada Tuhannya. Ini jadi back to jaman peradaban Inca dan Maya jaman dulu dimana persembahan manusia marak terjadi sekaligus menjadi salah satu sebab punahnya peradaban ini. 

Yang bisa dilihat dari penyelenggaraan Idul Adha ini adalah bagaimana proses sharing antara yang kaya dengan yang miskin. Sesungguhnya nilai ini yang lebih penting. Agar kita bisa berbagi. Agar kita bisa berzakat dan menyisihkan sedikit harta kita untuk menyantuni sesama manusia. Tidak usah harus berupa kambing, sapi atau unta. Uang sepeser kita pun sejatinya lebih berharga daripada berkurban sapi namun ada perasaan bangga dalam hati. Kurban bukan untuk berbangga-bangga. Allah tidak memerlukan kurban, persembahan, sesajen apapun. Ia sudah maha segala-galanya. Ia Maha Kaya, tidak melihat orang dari persembahannya mau sapi atau kambing, mau zakat mal berjuta-juta atau sedekah sepuing koin. 

Bila ada diantara kalian ingin berkurban atau berkorban, luruskan niat dulu. Dengan niatan membantu sesama tanpa harap apapun. Ingin bisa makan bersama si miskin atau orang yang tidak mampu. Bukan bangga namun haru. Ada kalanya makan gule atau tongseng bersama orang yang sehari-hari tidak bisa makan hal yang demikian mahal malah lebih bisa membuat kita menitikkan airmata, ya, jika kita tahu apa hakikat dan arti untuk apa perayaan Idul Adha ini dibuat. 

Sekali lagi bukan sebagai ajang persembahan kepada berhala. Kalau iya, percuma dong. Orang Kristen, Katholik, Hindu, Budha saja tidak menyembah berhala. Tapi sebagai bentuk cinta. Tradisi menyembelih kambing dan sapi ini harus disikapi lain, yakni sebagai bentuk cinta kita kepada Dzat yang Maha Kaya. Kalau sudah cinta biasanya kan apapun akan dilakukan tanpa mengharap apapun. Walaupun bentuk tanda cintanya lebih mahal dari agama lain, nggak papa, yang penting jika kita memutuskan berkurban, maka kita tau apa sih sejatinya kurban itu agar tidak masuk ke aliran mainstream.

Jadilkan momen Idul Adha dengan pemaknaan baru yang enggak itu-itu saja. 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.