Review : Bakso Mr. Blangkon

Oihooo... Ini adalah restoran yang direkomendasiin ama Ayuk 2011, tapi nyebaine Ayuk nggak jadi dateng last minute. Gw heran. Tapi ya udahlah, mau gimana lagi mungkin Ayuk lagi sibuk banget. Jadilah gw ama Abi en Binar aja deh nyobain restoran rekomendasinya Ayuk ini. 

Secara lokasi, restoran ini mucuk banget. Sebelahnya Raminten Jalan Kaliurang Km 16 sana, utara UII. Kupikir konsepnya bakalan warung Bakso biasa ala-ala Bakso Pak Min atau sebangsanya. 

***

Restaurant's Name :
Bakso Mr. Blangkon

Concept :
Indonesian Food

Design and Architecture :
Fine dining. Baru kali ini gw ke restoran bakso tapi fine dining. Bahkan bagian vestibule dari restoran ini digunakan sebagai kasir dan showroom barang-barang antik. Suasananya bahkan hampir sama dengan Jejamuran. Sama sekali nggak ada bangku-bangku lusuh en meja-meja pliket bekas tumpahan air gula. Yang nggak umum lagi adalah ketika bagian dapurnya terbuka dan menyatu dengan ruang makan. Nggak ada accent wall yang membedakan dua ruangan ini. Untungnya dapur memang tidak terlihat 100% kayak warung penyetan di bilangan Jembatan Merah sana atau even Jejamuran. Kalau kata pakar kuliner itu saru soalnya ketika ada dapur yang bisa keliatan dari arah pengunjung. Soalnya, pengunjung jadi tahu seluk beluk sanitasi dan apa yang terjadi di dapur itu. Ada kalanya pengunjung bisa saja mengurungkan niatnya makan setelah tahu bagaimana kondisi dapur yang bersangkutan. Just that. Hahaha

Pricing :
Udah mahal, ada pajaknya pula. Rata-rata untuk bakso ya sekitar 15K.

Front of the House (F.O.H) :
Tipikal restoran dengan dapur bersambung dengan tempat makan. Itu FOH pada ngumpul semua di depan konter dapur (tempat makanan yang sudah siap disajikan). Pemandangan yang minus sekali ketika para FOH itu saling nggosip satu sama lain en ketika dipanggil mereka nggak tanggap. Mungkin yang bisa gw saranin di restoran ini adalah peningkatan manner pelayanan. Bagaimana cara menjawab pertanyaan costumer.  

What they sell ?
Mostly bakso. Itu yang direkomendasikan berdasarkan nama warung ini. Tapi, kenyataannya, mereka punya BANYAK sekali menu lain yang bujubuneng mulai dari mie goreng gitu sampai ke seafood en Chinese food. Sungguh berbeda sekali dengan bakso. 

Duration of Service each item :
Good, dalam hitungan normal, 7 menit. Ya, cuman bakso soalnya. Coba pesen gurameh asam manis, palingan setengah jam-an. Haha.

Standar Bakso lah

Seasoning :
Bumbu bakso adalah perpaduan yang menyenangkan antara kaldu sapi dengan bahan-bahan seperti tulang sapi, bawang putih yang dihaluskan, dan tentu saja lada putih. Semakin gurih berarti akan semakin banyak proporsi micin yang ditambahkan. Rasa bakso di sini adalah biasa aja untuk ukuran normal. Baksonya uniform. Kalo lo pesen bakso kuah ya baksonya dapet bakso biasa. Gw pesen bakso telor, jadinya dapet lima biji bakso biasa yang isinya telor burung puyuh (gemak). Padahal ekspektasiku adalah satu bakso telor besar yang ditemani dengan beberapa bakso biasa yang kecil. Kalau bakso urat ya sama, lima bakso urat semua tanpa bakso biasa. Mungkin ya, mungkin kalau pesen Bakso Blangkon, lu bakal dikasih semua jenis bakso ini plus pangsit. FYI, bakso standar semuanya tanpa pangsit.

Presentation :
Standar bakso gimana sih. Cuman mangkuknya memang mangkung spesial yang mahal gitu. 

Consistency :
-

Conclusion:
Reason(s) for me to rethink on revisiting this restaurant is(are) :
Gw lebih milih ke Bakso Pak Min saja lah.. Hehehe.. 

How Do I Get There :
Jakal Km 16, utara UII kiri jalan kalau dari selatan. 

====
Maps and GPS Point :

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.