Gigi Dua : Buat Apa Berdoa?

Woke, sedulur, mungkin kembali ke pembahasan spiritualisme kritis di blog yang nano-nano ini. Tidak ada dorongan khusus kenapa gw insist berbicara mengenai isu spiritual di dalam blog ini. Sekali lagi, gw cuman manusia biasa yang berpendapat. Pendapat itu bisa salah dan pasti bisa salah dan pasti belum tentu benar. Tidak ada yang paling benar di dunia ini, kecuali Tuhanmu. 


Pembahasan kali ini lebih ke topik, mengapa harus berdoa?

Berdoa itu memohon kepada Tuhan, benar? Menurut KBBI, berdoa itu mengucapkan (memanjatkan) doa kepada Tuhan. Nah, kembali lagi, mengapa kita harus berdoa ketika semua yang terjadi di dalam hidup ini sudah ditentukan?

Oh, iya, ka nada takdir yang bisa diubah dan takdir yang memang tidak bisa diubah. Orang biasa bilang kalau kamu berusaha en kamu berubah, nanti pasti yakin deh bakalan sukses. Nah, bagaimana kalau memang cetak biru kamu itu tidak sukses. Dan berjuta-juta Joule energi yang kamu habiskan untuk berdoa dan bersembahyang itu tidak mengantarkan kamu menjadi kaya. Beralihkah kamu membenci Tuhanmu?

Kemudian, jika memang kamu kaya raya atas doa-doa-mu, apakah secara silogisme itu menjukkan bahwa doa-doamu dikabulkan oleh Tuhan? Segampang itukah pemahamanmu? Ini yang membuat orang menjadi manja dan lebih gawat lagi, memberhalakan Tuhannya sendiri. Tuhan dianggap sebagai sosok di atas langit yang selalu mengabulkan segala permintaan hambanya. Layaknya ibu peri lengkap dengan tongkat ajaibnya. Voila, maka terkabullah permintaanmu.

Terus bagaimanakah berdoa yang benar? Eits, sekali lagi, nggak ada benar dan salah. Maksud gw, bagaimana gw berdoa?

Gw lebih suka mendoakan orang lain daripada mendoakan diri sendiri. Gw seperti lupa apa doa buat diri sendiri. Ingat kembali premis yang berkali-kali mungkin gw sebut. Kita ini sudah diciptakan dengan sempurna lengkap dengan rezeki dan jodoh dan segala-galanya. Semua kisah kita baik sukses, miskin, duka, senang, nestapa, dan segala lika-likunya sudah dijadwalkan coming soon pada kitab yang kita terima sebelum kita terlahir ke bumi dan di amnesiakan. 

So, pun kita berubah menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk, dua-duanya adalah hijrah. Hijrah ini sudah tertulis dalam kitab kita. Trus apa yang bisa kita lakukan? Terus berdoa? Berdoa ini itu, berdoa minta hajat, berdoa minta jodoh, berdoa selamat dunia akhirat? Manusia memang pandai meminta-minta. 

Formulasi doa yang gw rapalkan saat ini hanyalah doa untuk orang lain, untuk orang tua, dan yang begitu-begitu. Nah, kalau kita rapalkan misalnya suatu kata ribuan kali terus kita bisa kaya mendadak. Apa ini? Ini bisa jadi istidraj. Dan semuanya sudah diatur dalam kitab itu. Atau juga bisa berdoa yang diulang-ulang itu menjadi semacam pem-fokusan tertentu, sehingga memang kekuatan pikiran akan mengalahkan segalanya. Misalnya minta sembuh, jika pikiran sudah disetel sedemikian rupa, akan timbul sebuah sugesti yang kabar baiknya bisa melawan rasa sakit itu sendiri. 

Berdoa yang pasti murajab itu pada saat kamu sudah benar-benar mengenal Tuhanmu. Maka kenalilah dirimu sendiri dahulu, karena HANYA dengan itulah kamu dpat mengenali Tuhanmu. 

Sebuah postingan berbau Katolik menyebut bahwa,

Tidak berdoa sama saja menyatakan tidak adanya iman dan tidak adanya kepercayaan kepada Firman Tuhan. dalam “Kita berdoa untuk menyatakan iman kita kepada Allah, bahwa Dia akan melakukan apa yang telah dijanjikanNya dalam FirmanNya, dan akan memberkati hidup kita dengan berlimpah lebih dari apa yang dapat kita minta atau harapkan (Efesus 3:20)”.

Well, menurut gw, iman itu berbeda dengan berdoa. Berdoa itu menurut gw sama dengan beribadah. Berdoa itu adalah pelayanan kepada sesama. 

So, mari kita simak cerita Gigi Dua di bawah ini :

(c) attribution to Kharisma Jati

Salam rahayu ing sambikolo.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.