The Secret of Focus

Selasa, Desember 27, 2016
Memulai sebuah usaha itu sama seperti berjalan di atas kawat yang tinggi. Anda hanya bisa sukses melewatinya jika bisa fokus untuk berjalan sampai ke ujungnya.
(James Bernstein)

***



Kalau Anda mencari rahasia ajaib yang bisa membawa Anda mencapai sukses dengan cepat dan mudah, Anda tidak akan menemukannya. Sebab, kesuksesan itu bukan barang instan yang bisa dengan gampang dibuat dan diciptakan. Ini rumusnya: tidak ada cara ajaib mencapai kesuksesan. Jalan menuju sukses itu terjal dan berliku. Anda harus mau bersusah payah melewati semua rintangan dan rela bercucuran keringat dalam berikhtiar.

Ya, kerja keras memang menjadi modal utama dalam meraih kesuksesan. Ada upaya, ada hasil yang akan didapat. Ada kerja keras, ada kesuksesan yang menanti Anda di akhir cerita. Jangan pernah bermimpi menggapai keberhasilan jika Anda tak mau bersungguh-sungguh dalam berusaha.

Namun begitu, kerja keras saja ternyata tidak cukup. Ada satu hal lagi yang harus Anda miliki agar dapat berhasil menyandang kesuksesan. Apa itu? Fokus.

***

Begitulah sepenggal pendahuluan yang mungkin  bisa ditemukan dalam buku yang gw tulis. Well, wait what? Gw nulis buku?

Ya, mungkin kalian para pembaca blog ini penasaran mau beli buku gw? Bisa kok dibeli di gramedia terdekat atau mungkin toko buku lain lesayangan kamu semua. Harganya cukup murah kok. Atau bisa juga beli di toko penerbitnya langsung di http://www.anakhebatindonesia.com/buku-the-secret-of-focus-53.html

Nah, kenapa gw tau-tau jadi penulis psikologi?

Well, why?

Sebenernya penulisan buku ini gw bekerjasama dengan penulis psikologi sih, jadi bisa dikatakan ini adalah joint venture begitu, sehingga bagi yang meragukan isinya hanya karena gw notabene adalah lulusan MIPA, bisa tolong digugurkan dulu premisnya. 

Well, yang protes karena kesalahan cetak di bagian atas cover, ya saya minta maaf. Ini adalah kesalahan pra cetak yang miss dari pihak penerbit sendiri. 

Buat yang mau beli buku ini bisa kok ke gw langsung.

Then, sebenernya rencana awal gw pengen nerbitin novel, cuman gw pakai momentum ini sebagai latihan awal gw dulu sebelum intensi gw itu tercapai.

Ok, silakan di beli ya gaes!!!!

Ahok, Demo, dan Lunturnya Ke-bhineka-an

Jumat, Desember 09, 2016

Well, siapa sih yang nggak ngerti en nggak ngikutin masalah Ahok yang lagi ngetren sekarang. Yeah, even di kantor gw aja jadi rame gegara gw pake acara bahas itu juga buat bahan ceramah jumat gw (baca: ada kajian singkat sebelum jumatan gitu di kantor gw). Gw kayak udah jadi menjadi karakter di serial tivi Black Mirror. The power of Social Media. Walau sebenernya SNS ini udah ada semenjak beberapa tahun yang lalu, namun di tahun 2016 ini etika bermedsos manusia di dunia ini udah gak bener. Sebelum fasilitas seperti broadcast, copy message, share, regram, repath semua-semua itu menjadi belati yang mengusik negeri ini. Kenapa? Karena negeri ini belum siap dengan sisi mata uangnya yang lain. 

Sebelum ada fasilitas itu, etika bermedsos era facebook awal atau Friendster dulu ya ala kadarnya. Namun, jauh lebih dalam, yang disalahkan sebenernya bukanlah fitur-fitur di medsos itu. Melainkan, bagaimana etika kita terpengaruh dan memanajemen setiap informasi yang kta dapatkan. Akses informasi yang semakin mudah, kebebasan berpendapat dan kemudahan fitur medsos dibenturkan ke masyarakat yang random. Hasilnya? Virus akal budi. 

Kita jadi marah ketika video Youtube kita di thumbs down. Ketika pesan whatsapp gak ada centang birunya terus disindir habis-habisan. Ketika nggak ada yang nge-like postingan kita di instagram terus heboh sendiri. Yang paling parah adalah etika sharing informasi. Jika menurut kita sebuah berita itu menarik, langsunglah kita pencet tombol share dan bagikan. Voila, orang menanggapinya beragam. Kita isu itu menarik, jadilah viral. Dari dulu sebenernya gw udah jengah dengan broadcast pesan di whatsapp. Tau-tau dapet pesan panjang banget judulnya renungan mauled nabi, atau apalah, cerita isra miraj, atau kajian-kajian online yang sering banget diposting di grup whatsapp. Yeah, sebenernya bagus dan positif. Namun, orang kebanyakan belum siap dengan hal yang begini. Apalagi orang yang tidak berpendirian.

Orang yang berpendirian akan dapat memfilter sebuah informasi yang masuk. Ia akan dapat membuat statement benar atau salah menurut dirinya. Dan orang ini tidak akan meneruskan pesan itu. Cukup tahu. Orang yang masih kosong dirinya akan mengambil jatidiri kelompok yang paling ia rasa benar. Dan ketika datang informasi itu. Jika tidak sesuai dengannya, dia akan menyalah-salahkan, bahkan nggak jarang penyampai informasi itu akan dijauhi. Kalau informasinya sesuai dengan pemikirannya, maka ia langsung gak segan-segan untuk multilevel sharing. Intinya, demo 411 yang terjadi lalu menurut gw adalah dibiangi oleh pikiran kita yang terhasut secara sosmed. Serta didasari dengan rendahnya level spiritualitas. 

Demo 411 adalah proses pelengseran Ahok, karena sejatinya tidak boleh ada pemimpin kafir. Semua umat muslim wajib ikut demo. Kalau gak demo dipertanyakan akidahnya. Kalau dukung Ahok berarti automurtad. Karena Indonesia jadi nggak berkah kalau dipimpin sama orang kafir. Orang kafir, orang cina itu punya scenario sendiri nanti pas jadi pemimpin. Dia akan membawa orang cina lain ke Indonesia. Takut Indonesia nggak jadi negeri islam terbesar lagi. Itu ringkasan pemikiran orang “kanan” untuk Ahok. Ya, diluar kasus penistaan agamanya lho ya. Kasus itu hanya sebagai pemanis atau katalis. Mencari bola panas.
Dan terjadilah demo 411.

Orang “kanan” : Wah, sukses nih demonya. Demo terbesar dengan kostum putih-putih. Oh itu demonya bikin lafal Allah. Oh suasana demo aman. Kan demo boleh-boleh aja sebagai penyampai aspirasi. Wah, udah sore ini, mana Pak Jokowi (awalnya pake Pak). Wah makin malam ini kemudian sebutan presiden sudah tidak semestinya lagi. Siapa suruh pake mobil. Kenapa nggak pake helicopter. Ah alasan aja nih presiden. Sial, tuh ada provokator bikin rusuh. Duh, ada gas air mata, kenapa nih, sialan polisi.
Orang kebanyakan : Duh, ngapain sih demo segala. Terus kenapa kalao demo terbesar putih-putih mending bersihin Jakarta aja sekalian. Uh bagus tuh ustaz yang di belakang ngambilin sampah. Gila, makin sore mana Pak Jokowi. Buset, ngapain itu ada rusuh-rusuh. Sumpe lu indo***** dijarah. 

Jelas ada perbedaan mengenai pandangan orang kanan dengan orang kebanyakan. The deception. Tepatnya, the deception of your brain. Otakmu disuruh memilih dua keeping mata uang. Walaupun tahu kalau Ahok tidak ada intensi untuk menistakan surat Alquran itu, tetep aja otakmu mengatakan dia salah. Otakmu men-judge orang lain. Otakmu membandingkan dengan diri sendiri. “Aku paling benar dan dia salah”. Denger ustaz X ceramah tentang tafsir surat yang bersangkutan. Karena dari ustaz X yang beken, terpercaya, lulusan Arabia, hafal Alquran, jadilah mereka membenarkannya juga. Sekali lagi, membenarkan bukan karena diri sendiri yang mencari pembenaran, namun mengambil kata orang lain dan memasukkannya sebagai pendapatnya sendiri. Ini yang fatal. Orang sekarang heboh kalau dapet sesuatu yang ada tulisan arabnya. Semua yang ada tulisan arab dipikir suci en pasti benar. Terus kosakatanya jadi kearab-araban, “eh kamu nggak ghirah ya!”, “hati-hati loh, syubhat!”, “tabayyun, taqlid, khawarij, de el el”. Gw juga lama-lama nggak dong. 

Terlena dengan mayoritas. The majority games. Bukannya yang mayor itu harus menaungi yang minor supaya betah, lha ini yang major menjadi adikuasa. Unjuk rasa 411 diluar tujuannya apa, orang minor akan menganggap tidak adanya lagi toleranisme. Undang-undang tidak mengatur agama gubernur atau presiden. Semua rakyat Indonesia bebas menjadi pejabat. But, why it happened? Orang minor akan berpendapat, bahwa mentang-mentang mayor, gampang banget ya mengeliminasi yang minor dengan dalih apapun.
Mpu Prapanca pernah menulis Bhineka Tunggal Ika dalam kitab sutasoma dan sekarang hilang maknanya. Frase yang aslii saja sudah dihilangkan. Sekarang yang sepenggal sudah hampir hilang. Krisis! Dalam game mayoritas di negeri ini, jika kamu sudah menjadi mayoritas kamu akan menjadi intoleran. Dan ketika kamu menjadi minor, kamu akan minta ditoleransi. 

RIP persatuan Indonesia jika masih gampang hasut menghasut via medsos ini terus berlangsung. Suatu saat gw gak sengaja lihat cuplikan video dengan back sound tanah airku. Gila, airmata ini langsung menyergap tanpa komando. Kok kayaknya gw atau mungkin cuman gw yang merasa udah nggak ada lagi rasa menghargai sesama. 

Barusan kemarin ada demo baru lagi, kayak semua bisa selesai dengan demo. Gara-gara demo 212 sukses bukan main mendatangkan yang katanya 150.000 orang membentuk lautan putih-putih sembari meneriakkan suara takbir dan gema lagu nasional. Apakah itu cita-cita bangsa ini? Doa bersama untuk apa? Ego 150.000 orang yang seperti buih di simpang monas dan sekitarnya itu boleh saja diapresiasi positif dengan segala cara, mulai dari rekor Guinness Book sampai dengan disbanding-bandingan sama demo tandingan lain. Doa bersama darimana kalau beberapa hari sesudahnya ada gempa, badai dan sebagainya. 

Barusan juga ada penistaan agama di Sabuga Bandung. Mereka nggak boleh beribadah di ruang terbuka. Katanya nggak ada ijin. Mereka mengatasnamakan sebagai pasukan pembela sunah. Gw ngelihatnya miris. Ini memang mereka yang ngajinya nggak bener atau dibayar sama komplotan mana. 

Kuncinya adalah medsos. Semoga jurnalis lebih pandai untuk menyetir umat yang rentan terhadap berita ini.
Buat pemerintah, kembali ajalah ke undang-undang 1945 tanpa amandemen. Penanaman wawasan nusantara kalah telak dengan mentoring agama menurut gw. Adakan lagi P4T yang tidak dogmatif lagi kalau perlu. 

Buat yang masih kanan, ngaji lagi lebih dalam, jangan cuman kulitnya tok. Pelajaran agama itu pelajaran akhlak, tingkah laku, manajemen ego. Demo itu adalah unjuk ego. Ingin itu ego. Ingin itu salah satu dari tujuh dosa besar. Greed. Belajar untuk mengenal orang lain, belajar untuk mengenal umat yang lain. Manusia itu diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar dapat saling mengenal dan menghilangkan sifat kesukuan dan kebangsaannya serta mengedepankan toleransi. Buat yang masih merasa benar, ingat, yang benar hanyalah Allah semata. Jika kamu merasa benar dan membenar-salahkan orang lain, secara tasawuf itu sudah termasuk menyekutukan Allah. Kita hidup di dunia ini dinikmati aja toh, kita kan bukan hakim yang memberi vonis kepada orang lain.

Gw rindu aja kehidupan yang rukun. 

Pernah gw tweet, “kalau gw jadi Ahok, gw mending dipenjara dan penjaranya bisa dipegang dan disentuh plus ada batasan kapan bisa keluar daripada dipenjara oleh penjara batin dan tabir mata hati yang membutakan kesejatian diri”

Semoga Pak Ahok bisa menjadi the next Nelson Mandela misal memang benar nantinya masuk penjara. Gw shock kemarin ke Jakarta en lihat sungai yang dulu bau kotor en kumuh, sekarang udah bersih en nyaman dipandang. Jakarta kayak punya Sungai Thames, Sungai Han, atau Rheine. 

Dan gw baca postingan Aa Gym yang menyamakan Ahok dengan Firaun, Namrud, dan sebagainya. Perbandingan yang nggak apple to apple. Dan gw resmi unfollow Aa karena sekedar kecewa saja sih.  

Mengapa ada 17 keping ramalan (dari kitab musarar) Jayabaya yang disembunyikan oleh negara? Mungkin jika belajar dari kejadian akhir-akhir ini bisa disimpulkan deh: akan terjadi sebuah pralaya. Semesta sudah memperlihatkan gejalanya. Sekedar doa bersama takkan mengubah nasib kecuali semua yang berdoa itu mahfum atas apa yang ada (insan kamil). Semoga Allah memberi keselamatan bagi mereka-mereka yang masih menyimpan lentera. Amin.
#semogaIndonesialebihbaik
Diberdayakan oleh Blogger.