Review : Holycow Aston Hotel Yogyakarta

Kamis, Juni 01, 2017

Halo gaes, rupanya sudah lama gw tidak meng-update informasi makan memakan di blog ini. Okelah, menjelang satu lustrum blog ini nanti di tanggal 26 Mei, ya pas puasa sih memang, okelah gw update dengan beberapa review tempat makan yang gw kunjungi beberapa waktu terakhir ini.

Dan, sebenernya restoan ini sudah sangat lama sekali berdiri di kota ini. Cuman..... karena eh karena kantong gw nggak bakalan cukup en terlebih lagi kaga ada orang yang mau diajak menjajal makan di restoran ini dengan catatan dia kaga boleh bashing-bashing gegara tarifnya mahal selangit en bisa buat makan standar lima belas hari.. hahaha... gw bercanda mah kalau lima belas hari..

Nah, resto ini terkenal dengan steak-nya. Of course, selama ini gw taunya mungkin cuman setik bertepung ala WS atau ala Rocket Chickhen yang memang tepungnya bikin enak. Pengalaman makan setik yang beneran daging buat gw cuman dua kali, yakni pas sok-sokan jadi horang kaya di R&B Grill di Jalan Wolter Mongonsidi sama pas jaman di site BGP dulu, nyobain makanan klayen yang bule-bule. Hahaha.. Selebihnya tepung semua...
Oke lah, mari kita coba.

Restaurant Name :
Holycow Aston Hotel Yogyakarta (sebenarnya gabung dengan Madam Tan Italian Restaurant)

Concept :
Absolutely western style. Kalau kamu pesen satu menu dari Madam Tan, berarti udah fusion dengan Italian style.

Design and Architecture :
Rustic but modern vibe. Ada dua bagian besar. Satu dinamakan bagian dalam dengan konsep interior yang hangat ala musim dingin dengan balutan penerangan lilin dan focal lamp di tiap mejanya. Kesan di bagian dalam ini lebih intimate dan romantis. Sedangkan di bagian luar terlihat luas dengan konsep patio. Pemasangan meja kursi lebih renggang sehingga lebih dingin dan tampak menyenangkan untuk pengunjung yang menyukai keramaian. Mungkin lebih kece kalau yang bagian luar ini digunakan konsep pergola sehingga lebih amazing dan gahool untuk vibe Italian-nya.

Pricing :
Expensive. Minimal harus ada duit seratus lima puluh ribu untuk nyicipin setiknya lengkap dengan minumannya. Tapi gw saranin gesek aja.

Front of the House (FOH) :
Yang pasti, mbaknya syantik-syantik. Agak susah sih menjangkau mbak-mbaknya secara luas area restoran ini agak geje. Tapi bagus kok.

What they sell ?
Untuk Holycow, jelas semua jenis setik, mulai dari Wagyu, US Angus, Australian Beef. Yang lain, dihandle sama Madam Tan, kayak pasta-pasta dan ayam-ayam panggangan.

Gw pesen disini adalah Well Done 200 gram Australian Prime Tenderloin with Spinach, Mashed Potatoes, and Blackpepper Sauce.

Duration of Service :
Tapi dari sini gw jadi belajar bahwa sistem 7-menit-servis itu tidak berlaku rupanya di restoran yang mahal gilak. Di dunia review cuisine, penyajian main course itu tidak boleh lebih dari tujuh menit. Tapi okelah, mungkin SOP-nya berbeda. Mungkin kalau emang tujuh menit jadinya setik gw jadinya raw banget.

Minuman à 7 – 10 menit.
Main course à 15 – 20 menit.

Presentation :
Voila, setelah 20 menitan kemudian, tersaji sudah segelontor daging berwarna coklat hitam di atas piring ceper putih yang simpel tapi elegan. Instead of dikucurin gitu, sausnya ditaruh dalam sebuah mangkuk kecil. 

Tenderloin (Sumber: Sini)
Seasoning :
Penjabaran :
1) The Tenderloin. Well, gw baru memahami perbedaan antara tenderloin ama sirloin dengan makan disini. Rupanya beda sekali. Even harganya. Masak beda duapuluh ribu. -_____-. Tapi, sekali makan, gw speechless. Enaknya bukaaaaaan main. Gw serasa terbang ke langit umami dengan taburan asin asin gimana gitu terus ditampar ama pedes merica en manis manis dari saus reduksi dagingnya. Sesange!! Mungkin gw ndeso, jadi gw lama-lamain tuh ngiris dagingnya. Sumpah enak banget. Katrok ah. Empuk-nya pas. Nggak bikin dagingnya nyangkut di gigi. Saus reduksinya sebenernya gw penasaran pake apa dia bikinnya.
2) Spinach. Gw nggak nyangka jadinya rebusan bayam ama jagung yang ditumis pake garlic dan olive oil. Hampir gak kerasa airnya, mungkin udah hilang. Enak banget, sederhana tapi ciamik coz gw nyangkanya spinach-nya bakal dicampur keju parmesan kayak biasanya dihidangkan di kuliner skandinavia atau eropa barat.
3) Mashed Potato. Mungkin cuman bagian ini yang kurang menurut lidah gw. Kurang parmesan. Coba bandingkan mashed potato di Roaster and Bear (nanti di review selanjutnya). Atau ala-ala resto-resto di daerah Prawirotaman sana, kombinasi mashed potatonya keju banget. So, disini emang ada kejunya, tapi kurang proporsional. Jadi, it’s a bit bland.
4) Blackpepper Sauce. Too salty, gw pengennya BBQ sauce, cuman kemarin sold-out. Yawes lah. Walaupun asin tapi mixed well kok sama si setiknya.

Conclusion :
9.5 out of 10
Amazing experience. Cukup sekali aja deh yang beginian kecuali ditraktir siapa gitu atau punya rejeki nomplok entah di jaman apa nanti. Gw bisa masukkan menikmati setik asli begini sebagai satu dari seratus satu hal yang harus lo lakukan dalam hidup lo.

How Do I Get There :
Temuin deh Hotel Aston di Jalan Solo deket Galeria Mall. Ini resto ada di dalam hotel itu.

======
Maps and GPS Point :


Diberdayakan oleh Blogger.