Warna

Rabu, Juli 12, 2017


Aku rela mendekam dalam kegelapan sel khusus yang dibuat khusus oleh penjara ini. Aku benci dengan perilaku-ku sendiri. Orang lain menyebutnya agitasi terhadap sebuah objek. Orang yang lain juga bilang bahwa aku mengidap kelainan psikis berupa trauma yang dosisnya tak terkendali. Mirip seperti multiple personality, namun ini disebabkan oleh sensor optikal.
Aku tak bisa melihat sesuatu dengan warna tertentu. Warna adalah musuh terbesarku. Paling tidak beginilah rekap laporan psikiaterku:
Merah : Agitasi seksual berujung pada 8 kasus pemerkosaan.
Biru : Agitasi motorik berujung pada 19 kasus kekerasan dan 4 kasus pembunuhan.
Kuning/Emas : Agitasi suicidal, 30 kali attempted suicide.
Hijau/Olive : Agitasi otak kiri berujung pada 19 kasus cyber attack dan 3 kasus pembobolan bank.
Jingga/Oranye : Agitasi child memory. Tidak ada laporan kasus. Hanya meresahkan
Abu-abu/Silver : Agitasi vocal berujung pada 39 laporan kegaduhan.
Pink/Fuschia/Violet/Ungu : Agitasi otak kanan berujung pada 4 kasus pemalsuan uang dan 2 kasus pemalsuan lukisan seniman terkenal.
Coklat : Agitasi possessiveness, beberapa kasus pencurian. Efek ini tidak banyak terdokumentasi.
Hitam : Tidak ada reaksi.
*
Iya, resmi aku menjadi kelinci percobaan. Aku empati terhadap banteng di arena collesseum yang kepadanya diberi stimulasi kain berwarna merah. Konyol memang, tapi benar-benar terjadi.
Semua kasus yang aku perbuat itu menjadi pertanyaan para penuntut umum. Sebagian dari aku adalah normal di kala malam dan kegelapan. Namun, sebagian yang lain adalah gila dan tidak normal di dunia nyata.
Delapan tahun mendekam di sel ini, bahkan aku tak tahu barang apa yang kumakan. Zoldipam, diazepam, macam-macam obat anti-depresan yang kukonsumsi. Selalu aku berkeinginan untuk menggigit nadiku sendiri, mengakhiri segalanya. Menemukan sebuah hitam yang absolut. Hitam yang nyaman.
Tapi, kuurungkan niat itu karena ternyata dalam gelap ini aku menemukan cerahku. Dalam buta ini aku terbimbing dengan nyata. Obor lentera hati yang membuatku tenang dalam damai. Dari hal yang demikian aku dapat menyimpulkan:
Karena di setiap takdir, terdapat hikmah dan jalan bagi mereka yang selalu percaya. Ada berlimpah jalan bagi mereka yang tidak mempunyai ekspektasi. Ada kelegaan yang absolut bagi mereka yang mengikuti permainan hidup ini.


Faz, 18 Mei 2017
Diberdayakan oleh Blogger.