Sang Pemijat

***

Ada seorang pemijat yang masyhur. Ia diisukan seorang indigo yang lahir pada hari kamis pahing. Entah apa hubungan hari dan pasaran jawa itu dengan bakatnya sebagai pemijat. Ia lelaki, mungkin dalam hidupnya ia harus memilih dan mengikhlaskan harga dirinya sebagai lelaki yang di desanya lebih banyak bekerja bertani atau sebagai buruh bangunan. Bukan perkara mudah memutuskan untuk menjadi seorang pemijat.

Ia bukan Abraham namun ia bermimpi diharuskan melakukan sesuatu dengan tangannya. Ia bukan Yoseph namun ia bermimpi bahwa akan datang jaman yang dimana ia diharuskan membuka pintu rumahnya 12 jam dalam sehari. Namun ia merasa tugas itu lebih mulia daripada mempertanyakan eksistensi ia sendiri. Sebagian besar akan menganggap remeh mimpi yang terjadi padanya. Namun, ia tidak. Ia taklid dengan mimpinya.

Ia adalah pribadi yang tidak pernah marah, walaupun rumahnya tetap dikerumuni orang di atas jam 8 malam, namun justru orang-orang itu yang merasa tidak bisa marah. Ia mengobati setiap pasian (walaupun dia tidak pernah menganggap tamunya itu pasien) dengan sabar. Ia berorientasi pada prinsip karma.

Ia bukan lulusan akademi kedokteran yang mumpuni. Bahkan ia tidak hafal sistem osteologi. Ia tak tahu apa itu dislokasi femur, tibia, ulna dan sebagainya. Ia hanya sesederhana: memegang titik yahg dirasa sakit dan nyeri. Voila, sembuh.

"Kira-kira apa pak penyakit saya? Apa karena posisi tidur saya salah? Atau pola makan?" tanya seorang pasien.

"Sepertinya Anda banyak melakukan korupsi kecil-kecilan. Misal mengambil sesuatu yang bukan milik Anda," tukas sang pemijat.

Tertegun si pasien dengan diagnosisnya yang sangat tidak berbau medis sama sekali. Atas dasar apa ia mengetahui bahwa ada korupsi yang dilakukan. Bahkan tak ada sepatah kata pun terlontar dari mulut pasien.

Pasien merasa ditelanjangi, seperti ia bertemu dengan para apostle yang mempunyai mukjizat yang terpampang nyata. Mungkin sang pemijit akan sangat kaya raya karena bisa melakukan kongkalikong atau persekongkolan makar dengan pasiennya. Namun, nyatanya biasa. Rumahnya tetap biasa. Tidak ada wallpaper atau cat dan ornamen yang berlebihan. Kecuali tuntutan harus buka 12 jam tadi.

Sejenak para pasien menimbang-nimbang apa yang terjadi. Pasien yang otaknya sama dengan otak orang kebanyakan pasti akan berkata, "Dia ini titisan dewa." Pasien yang tidak peduli akan menjadi lebih tidak peduli, yang penting penyakitnya membaik. Pasien yang kritis dan pernah membaca buku-buku filsafat atau rohaniwan pasti akan menyimpulkan lain.

Apakah sakit itu adalah karma yang dipercepat atau disegerakan?

Mungkin pernah dengar ada cerita seorang pesakitan yang bisa sembuh hanya karena ia meminta maaf kepada orang-orang yang sudah disakitinya. Hanya karena ia memperlakukan orang lain bak binatang. Hanya karena tidak mengindahkan peringatan-peringatan orangtua. Akhirnya dengan membasuh kedua kaki orangtua (yang penuh bakteri dan berbagai zat kimia berbahaya lain), si pesakit bisa sembuh. Apa pasal?

Dewasa ini, orang lebih terpesona dengan obat-obatan yang memesona. Paracetamol, Zoldifam, Ibuprofen, dan lain sebagainya. Entah obat yang bagaimana sejarahnya, semahal apapun itu, orang nampak tak akan pernah peduli dan memedulikan.

Beberapa pengunjung terdengar berbisik-bisik, berkonspirasi.

"Gini deh Bu, kemarin-kemarin saya selalu dikasih resep yang ini itu hasilnya tau-tau sampai sejuta aja. Heran deh saya, Bu," tukas salah satu dari mereka.

"Iya, Bu, di sini saya malah bingung ini. Kok nggak dikasih apa-apa, cuman disuruh jangan gini, jangan begitu. Apa yang kita yang terlalu bodoh atau bagaimana. Tapi ya balik lagi sih, selama keluarga kita sehat mah, oke-oke aja. Lagian nyumbang di sini mah juga seikhlasnya," ibu yang suaminya didera penyakit yang ajaib sampai-sampai ditengarai sebagai perbuatan santet.

Begitulah Sang Pemijit memberi pelajaran darma kepada semua pengunjung dan pasien. Mencari uang di muka bumi ini sih boleh-boleh saja dengan cara apapun. Mencari kebahagiaan di dunia ini sih sah-sah saja. Namun, alangkah baiknya jika kita memerhatikan segala tingkah laku sebelum melakukannya. Entah itu merugikan orang lain, entah itu menyakiti orang lain, entah itu zalim kepada diri sendiri, apa pun itu.

Sang Pemijit itu berkata, "Nah, jika sekarang kamu merasa sakit, dosa mana yang sedang dilimpahkan azabnya padamu? Sakitmu adalah bukti nyata cinta Ilahi. Sakitmu adalah pembenahan entropi oleh bifurkasi semesta. Sakitmu adalah domino terbalikmu. Kamu tahu rasanya tapi bisa saja kamu tak pernah tahu sebab asal mulanya bagaimana dan menyalah-nyalahkan segala hal atas nama bakteri, virus, dan gaya hidup."

"Wake up!" ujarnya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.