Bilangan Fu - Review




Bilangan Fu
Karya : Ayu Utami
ISBN 9789799101 (ISBN13: 9789799101228)
Seri Bilangan Fu #1
Dipulikasikan pada bulan Juni 2008 oleh Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia
Karakter : Parang Jati, Sandi Yuda 
Latar : Indonesia 
Penghargaan : Literary Awards Kusala Sastra Khatulistiwa for Prosa (2008)

Jika ada sebuah buku yang sudah lama saya miliki namun baru-baru saja saya baca dan akhirnya menjadi buku yang saya beri predikat nomor satu dari semua koleksi di perpustakaan pribadi saya, saya rasa hanya buku ini, Bilangan Fu—sebuah karya yang fenomenal milik Ayu Utami. 

Jujur saja, sewaktu itu saya baru berada ditahun pertama saya kuliah dan secara tidak sengaja menyempatkan diri bermain ke pameran buku yang ada di kota saya. Ketika itu saya tertarik dengan judulnya yang tidak lazim. Saya pikir waktu itu, Ayu Utami menemukan bilangan atau tata bilangan yang baru, kebetulan saya adalah pencinta sains dan matematika. Saya belilah buku yang harganya lumayan mahal pada waktu itu, di tahun 2008, edisi pertama buku ini.

Entah kerena kesibukan saya yang terlalu menyita waktu atau apa, buku ini hanya saya baca bagian pertamanya saja dan sesudah itu tenggelam dari rak buku saya, hilang dimakan angin. 

Mungkin benar, bahwa sebuah buku itu menunggu bagaimana pola pikir kita terbentuk. Delapan tahun setelah saya membeli buku itu, akhirnya saya mulai lagi mencarinya di rak saya yang sudah berdebu dan kertasnya sudah menguning dimakan usia. Di tahun 2016, saya seperti sudah siap dan mengerti bagaimana pola pikir penulis dan membaca buku yang setebal itu rasanya cepat dan bergulir dengan indahnya sampai saya harus menghemat-hemat agar tidak cepat habis begitu saja. Dari kenyataan ini saya dapat mengambil kesimpulan bahwa delapan tahun yang lalu saya belum seterbuka itu dengan turbulensi informasi dan kenyataan yang ada di dunia ini termasuk salah satunya yang tersirat dan tersurat dalam dunia sastra. 

Novel ini jika saya boleh mengistilahkan, adalah novel banal namun tidak lepas dari makna dan konteks besar yang bisa ditakuti oleh semua orang di zaman modern ini: militerisme dan monoteisme. Novel ini adalah sebuah jagad alit (dunia kecil) negara Indonesia yang berbudaya luhur dan gemah ripah loh jinawi. Dua isu ini rupanya sangat konstekstual dengan persoalan yang sedang dihadapi bangsa ini sekarang. Seperti kembali ke tahun 1500-an, konteks yang sama menyerang masa-masa damai masyarakat Majapahit yang damai sentosa. Kejadian ini rupanya paralel dengan apa yang terjadi hari ini. Dari kenyataan itu, apakah bangsa ini akan memilih untuk menentukan opsi yang sama dengan lima ratus tahun yang lalu, yakni ikut memihak satu opsi dan bukan hanya menyelesaikan masalah, namun menjadi pondasi terjadinya masalah-masalah baru yang lebih pelik, khususnya dalam tatatan budaya.

Selain membahas dua isu besar dengan metaforanya yang khas sastra arkais dan pola deskripsi yang mengalir detail khas penuh filosofi, penulis juga menghubungkan jagad alit tersebut dengan jagad ageng (dunia besar) yang bernama: spiritualisme kritis. 

Bilangan Fu dapat dikatakan sebagai buku dengan konten spiritual yang universal. Memang masyarakat kita belum dapat membedakan apa perbedaan yang signifikan antara spiritualitas dan relijiusitas atau agama. Ayu menggunakan istilah-istilah Alkitab seperti orang Farisi dan orang Saduki sebagai nama klan, dan nada-nada jenis ini dapat ditemukan juga di novel Ayu yang lain, misalnya Saman dan Larung. Hal ini digunakan Ayu untuk mencetuskan ide bahwasannya perkawinan antara spiritualitas kritis dengan kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia Indonesia yang berbudaya itu sangat bisa diterapkan dan diejawantahkan—ya lagi-lagi tantangan yang dihadapi sangatlah besar. Hal ini disebabkan oleh perbedaan persepsi orang-orang zaman sekarang yang terlampau fundamentalis dan membenar-benarkan apa yang diajarkan oleh guru-gurunya, padahal belum tentu pelajaran yang diberikan itu bernuansa kebenaran yang universal. 

Indonesia memang sudah waktunya darurat filsafat. Dua kutub (agama dan ilmu pengetahuan) seperti melayang sendiri-sendiri tanpa lekatan yang mendasarinya atau alih-alih menjembataninya. Yang satu terlalu kolot dan yang satu terlalu canggih. Orang Indonesia justru menghindari filsafat karena filsafat adalah ilmu gila yang menjerumuskan. Bagaimana mau maju? Penulis di kesempatan ini ingin berbagi tentang bagaimana seharusnya filsafat menyusupi awang-awang imajinasi kita. Filsafat memberikan kita kontrol bahwa yang berlebih-lebihan itu tidak selamanya baik bagi diri kita sendiri. Namun, lagi-lagi kembali ke pribadi masing-masing, buku ini membuat pikiran saya yang semula bebal menjadi lebih fleksibel untuk menerima sinyal-sinyal baru. 

Dan saya menganggap pertemuan saya dengan novel ini bukanlah sebuah kebetulan. Saya memang sudah seharusnya membeli buku ini di tahun 2008 kemudian menelantarkannya dan kembali memungutnya di tahun 2016. Saya menjadi mahfum dengan bagaimana caranya semesta menggiring kita untuk sejenak menepi dari kesibukan kita dan mengingatkan kita dengan caranyanya sendiri agar kita menjadi lebih eling kepada sekitar kita. 

- Faz, 2019

Komentar

Lina Tan mengatakan…
Ayo Kakak Semuanya,
Yuk iseng bermain game untuk mendapatkan uang tambahan setiap harinya Hanya di HobiQQ.
Modal Kecil Dapat Puluhan Juta ^^
Bareng aku dan teman-temanku yang cantik-cantik loh !
Info Situs HobiQQ :
BBM : DD09567B
WA : +6282136933986
LINE : hobi-qq
Facebook : Lina Tan


Kunjungi Juga :
Hobiqq
Agen Bandarq
Agen Bandarq Online
Agen Dominoqq
Agen Domino99
Agen Poker Terbaik
Situs Bandarq Online
Judi Online Terbesar
HobiQQ
Rumus Bandarq
Rumus Bermain Judi Online
Trik Bermain Bandarq
Artikel Unik dan Menarik
Rumus Bandarq Online
Hobi Membaca
Mixtape Breakbeat Terlengkap
Artikel Menarik
Cerita Dewasa Terlengkap