Kontemplasi Fihi ma Fihi

 Photo by Harsh Vardhan Yadav on Unsplash

Dalam tujuh puluh satu pasal yang telah kita bahas di atas, tentunya diperlukan sebuah kontemplasi atau penyelarasan atas segala metafor yang digunakan Syekh Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau sering pula disebut dengan nama Rumi di dalam buku ini.

Segala perumpamaan ataau kata-kata dalam buku ini memang sengaja masih mempertahankan maksud awal tanpa parafrase yang terlalu jauh dari maksud yang ingin disampaikan Rumi. Walau kita semua sadar, hal-hal yang disebutkan Rumi dalam bukunya ini masih dalam tahap borderline antara ranah esoteris dan eksoteris dalam ranah spiritual Islam.

Membaca tujuh puluh satu pasal Rumi dalam Fihi Ma Fihi ini juga membuat penyunting belajar banyak hal, utamanya tentang makna batin atau makna inti — makna yang bukan kulit seperti yang tersurat di banyak karya sezaman. Sebuah kalimat paling penting di dalam buku ini, dalam bahasa aslinya, bahasa Turki, adalah Sen Seni Bilmezsen Allah’ı Bilemezsin yang bisa diterjemahkan bahwa, untuk mengenal Allah (mengenal Tuhan), kenalilah dirimu sendiri. Nabi Muhammad saw juga pernah bersabda dalam hadis:

Barangsiapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya.” (Hadits Riwayat Ibnu Majah)

Oleh karena itu, perjalanan untuk mengenal diri sendiri pada dasarnya adalah perjalanan menuju kebenaran yang lebih dalam, mengenal Allah, dan meraih kebijaksanaan hidup yang hakiki.

Namun, sayangnya perjalanan ini tidaklah mudah, banyak kegelapan batin atau amarah, nafsu kebinatangan, dan banyak hal yang masih melindap di dalam batin kita membuat perjalanan ini tidak mudah. Maksud orang yang terpilih dalam buku ini adalah mereka yang bisa menjaga hati mereka dari banyaknya kekotoran batin ini, dan tentu saja semua ajaran agama, tak hanya Islam, sudah pasti mengajarkan bagaimana untuk berdamai dan berlatih untuk membersihkannya. Tentu saja dengan tirakat, atau mekanisme tertentu.

Dalam ranah spiritual, buku ini menghadirkan sebuah ajakan untuk menempuh jalan kesadaran yang lebih dalam, bukan melalui tumpukan konsep dan logika, melainkan lewat pengalaman batin yang jujur. Buku ini menegaskan bahwa kebenaran tidak selalu dapat dijangkau oleh akal, sebab ada batas di mana pikiran harus berhenti dan memberi ruang bagi rasa serta keheningan. Manusia kerap merasa jauh dari Tuhan karena sibuk mencarinya di luar diri, padahal jarak itu tercipta oleh ego yang terus menegaskan “aku”. Dalam pandangan Rumi, ego inilah hijab terbesar yang menutupi cahaya ilahi; semakin keras suara keakuan, semakin redup kehadiran Tuhan dirasakan. Oleh karena itu, relasi spiritual sejati tidak dibangun atas dasar ketakutan akan hukuman, melainkan cinta yang melapangkan jiwa dan memerdekakan batin. Penderitaan, kegelisahan, dan luka batin tidak dipahami sebagai kegagalan hidup, tetapi sebagai jalan pemurnian yang membuka ruang bagi cahaya untuk masuk.

Di titik ini, diam menjadi lebih bermakna daripada banyak bicara, sebab dalam keheningan batin, makna terdalam justru menyingkapkan dirinya. Buku ini akhirnya mengarahkan manusia pada sikap berserah: berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi melepaskan hasrat untuk mengendalikan segalanya. Ketika kendali dilepas dan keakuan melembut, ketenangan hadir, dan hidup tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan, melainkan sebagai ruang tempat Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri.

Tentu saja, kita juga tak boleh lupa dengan konsep cinta, yang banyak dibahas dan dialegorikan dengan cerita Layla dan Majnun di dalam buku ini.

Bagi Rumi, cinta bukan sekadar perasaan romantis, melainkan daya ilahiah yang menggerakkan jiwa melampaui batas rasio dan kepentingan diri. Cinta Majnun kepada Layla digambarkan sebagai kegilaan di mata dunia, tetapi justru di sanalah kemurniannya terletak: ia mencintai tanpa memiliki, setia tanpa syarat, dan rela kehilangan dirinya sendiri. Dalam kacamata spiritual, Layla tidak lagi dipahami sebagai sosok jasmani, melainkan simbol keindahan Ilahi, sementara kegilaan Majnun mencerminkan hancurnya ego di hadapan Yang Dicintai. Melalui alegori ini, Rumi menegaskan bahwa perjalanan menuju Tuhan menuntut keberanian untuk “menjadi gila” dalam arti spiritual — melepaskan reputasi, logika sosial, dan rasa aman palsu demi cinta yang sejati. Cinta semacam ini tidak menuntut balasan, tidak bergantung pada hasil, dan tidak berorientasi pada pengakuan, sebab ia sendiri telah menjadi tujuan. Ketika cinta mencapai tingkat ini, ibadah tidak lagi terasa sebagai kewajiban, melainkan kerinduan; penderitaan berubah menjadi persembahan; dan kehilangan diri justru menjadi jalan untuk menemukan makna terdalam keberadaan.

Secara dialektika, konsep cinta dalam buku ini bergerak melalui ketegangan antara akal dan cinta, kepemilikan dan pelepasan, serta kewarasan sosial dan kegilaan spiritual. Pada tahap awal (tesis), manusia mencintai dengan logika: cinta dipahami sebagai sesuatu yang harus dimiliki, dijaga, dan diberi batas agar tetap rasional serta dapat diterima oleh norma. Cinta pada tahap ini masih tunduk pada ego — ia ingin aman, diakui, dan berbalas. Namun, pengalaman cinta yang intens, sebagaimana digambarkan dalam kisah Layla dan Majnun, melahirkan antitesis: cinta yang melampaui akal, yang tampak irasional, merusak tatanan, bahkan dianggap kegilaan. Majnun kehilangan tempat dalam masyarakat, reputasi, dan identitas lamanya; di sinilah ego runtuh, dan cinta tidak lagi melayani kepentingan diri.

Dari ketegangan ini lahir sintesis spiritual: cinta yang tidak meniadakan akal, tetapi menempatkannya pada posisi yang tepat. Akal tidak dibuang, melainkan tunduk pada cinta sebagai prinsip yang lebih tinggi. Dalam sintesis ini, cinta tidak lagi diarahkan pada objek lahiriah (Layla sebagai sosok), tetapi bertransformasi menjadi kerinduan kepada Yang Mutlak. Kehilangan menjadi pemilikan, keterasingan menjadi kedekatan, dan kegilaan menjadi kewarasan yang lebih dalam. Dialektika ini menunjukkan bahwa jalan spiritual bukanlah penolakan dunia secara mentah, melainkan proses transendensi: dari cinta egoistik menuju cinta ilahiah, dari keterikatan menuju kebebasan, hingga akhirnya manusia tidak lagi bertanya “apa yang aku dapat dari cinta”, tetapi “apa yang dapat kuleburkan demi cinta”. Sangat syahdu sekali

Dulu, membaca buku Fihi ma Fihi terasa sangat berat karena bahkan kata-katanya saja saya bingung. Memang, ilmu akan datang ketika murid siap — ketika dilayakkan untuk mendapatkan ilmu. Jika hari ini mungkin Anda belum paham, mungkin suatu saat nanti Anda akan kembali membaca buku ini dan ketika itu kesadaran Anda baru akan “bangkit” untuk kemudian sadar dan paham benar apa-apa saja yang disampaikan oleh Rumi.

Filsafat Rumi mungkin bisa saja disandingkan dengan filsafat yang sedang naik daun sekarang, misalnya filsafat Stoikisme. Keduanya sama-sama berbicara tentang pembebasan batin dari keterikatan yang tidak perlu, namun bergerak dengan aksen yang berbeda. Stoikisme menekankan penguasaan diri melalui rasio, penerimaan terhadap hal-hal yang berada di luar kendali, serta ketenangan jiwa yang lahir dari sikap amor fati — mencintai takdir apa adanya. Sementara itu, dalam buku ini, Rumi tidak berangkat dari rasio sebagai pusat, melainkan dari cinta sebagai daya transformatif. Jika Stoik berusaha menenangkan gejolak batin dengan disiplin pikiran dan jarak emosional, Rumi justru membiarkan jiwa “terbakar” oleh cinta agar ego luluh dengan sendirinya.

Namun pada tingkat yang lebih dalam, keduanya bertemu pada satu titik dialektis yang sama: kebebasan batin. Stoikisme mengajarkan bahwa penderitaan muncul ketika manusia menuntut dunia berjalan sesuai kehendaknya, sedangkan Rumi melihat penderitaan sebagai akibat dari keakuan yang enggan menyerah. Stoik memilih jalan menata batin agar tidak terguncang, sementara Rumi menempuh jalan menghancurkan pusat keguncangan itu sendiri, yakni ego.

Pada akhirnya, hasil akhirnya serupa: ketenangan, penerimaan, dan kejernihan hidup. Bedanya, Stoik mencapai ketenangan melalui kejernihan rasio, sedangkan Rumi mencapainya melalui kepenuhan cinta. Dengan demikian, keduanya dapat dipahami bukan sebagai filsafat yang saling meniadakan, melainkan sebagai dua jalan berbeda menuju kebebasan batin — yang satu dingin dan terukur, yang lain hangat dan membakar, tetapi sama-sama membebaskan manusia dari perbudakan terhadap hal-hal yang berada di luar dirinya.

Demikianlah komentar kami dalam penyuntingan edisi revisi buku ini — buku fenomenal yang tak lekang oleh waktu hikmah dan pelajarannya. Semoga buku ini tetap relevan dibaca lintas zaman karena ia tidak terikat pada konteks sosial tertentu, melainkan berbicara langsung kepada kegelisahan manusia yang paling mendasar: tentang makna hidup, penderitaan, cinta, dan pencarian akan Yang Hakiki.

Di tengah dunia modern yang serba cepat, rasional, dan sering kali kehilangan keheningan, karya ini hadir sebagai pengingat bahwa kebijaksanaan sejati tidak selalu lahir dari pengetahuan yang bertambah, tetapi justru dari keakuan yang berkurang.

Melalui bahasa yang sederhana namun sarat kedalaman, Rumi mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, menoleh ke dalam diri, dan menyadari bahwa perjalanan spiritual bukanlah pelarian dari kehidupan, melainkan pendalaman atasnya.

Dengan semangat itulah edisi revisi ini dihadirkan, agar Fīhi Mā Fīhi dapat terus menjadi teman dialog batin bagi pembaca masa kini — bukan untuk memberikan jawaban-jawaban pasti, tetapi untuk menumbuhkan kesadaran, kejernihan, dan keberanian untuk mencintai hidup apa adanya.

Yogyakarta,

Komentar