Manusia tidak dapat menahan kesenangan karena kombinasi faktor biologis, psikologis, sosial, dan pengaruh lingkungan, seperti keinginan alami untuk kepuasan instan, pengaruh gaya hidup hedonistik dari keluarga dan lingkungan, serta budaya global yang menekankan kenikmatan sesaat. Kemampuan menahan diri (delayed gratification) juga berperan, dan kekurangannya bisa dipengaruhi oleh usia, pengalaman masa kecil, dan masalah kesehatan mental seperti depresi atau kecemasan.
Setidaknya begitu menurut AI.
Jadi, awal mulanya adalah ketika saya ada menghadiri acara nikahan teman saya yang memang ada di pelosok desa. Biasanya saya tidak ada komplain tentang apa yang terjadi, tetapi ini berbeda. Banyak orang baik itu dewasa, maupun pemuda yang merokok. Merokok saja sih mungkin terserah ya, tetapi di ruangan semi tertutup tanpa sirkulasi udara yang baik, asap rokok yang dikepulkan puluhan orang sungguh mengganggu kenyamanan. Bagi orang desa itu mungkin sebuah kebiasaan, sehingga mereka anggap itu sudah hal yang biasa dan menjadi hal yang lumrah pada umumnya.
Bagi saya, sebenernya juga tidak masalah, tetapi ketika melihat dalam satu ruangan tersebut ada anak kecil, balita, perempuan yang ada di semua usia, benak saya: “Can they really do that?”
Sepulang dari tempat itu, malamnya, sebuah reels di Instagram saya ada seorang kreator yang membahas mengenai bagaimana menusia pada dasarnya sulit menahan kesenangannya dan dengan itu mereka tidak bisa membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh lagi. Si kreator mencontohkan pada tahun 1990-an dengan video mentahan zaman dahulu, satu mobil travel berisi pria dan wanita serta anak-anak, dan si para pria di bangku belakang merokok like no rules. Mungkin hal yang sama juga pernah dirasakan semua penumpang kereta api sebelum era Pak Jonan. Tidak ada aturan dan mereka tak ada yang bisa angkat bicara (speak up) karena ya memang rules-nya begitu — konstruksi sosialnya begitu.
Di era ini atau di perkotaan mungkin para Gen Z atau Gen zaman sekarang mudah sekali angkat bicara atau mengonfrontasi. Namun, menuju ke pedesaan, akan sangat susah sekali.
Sang kreator menyebutnya sebagai kegagalan manusia berevolusi. Bukan evolusi ala Darwin, tetapi evolusi pemikirannya. Bagi mereka yang sudah paham, mereka akan berpikir sebelum misalnya mengambil batang rokok dan membakarnya. Mereka akan berpikir untuk, bagus nggak ya kalau saya merokok sambil naik motor. Atau mereka akan berpikir untuk apa ya efeknya kalau saya berjudi atau mabuk? Ada opsi di benak mereka dihadapkan dengan decency atau kepantasan di muka publik. Mereka yang gagal berevolusi secara pemikiran akan membuat jalan pintas entah bagaimana kesenangan saya harus terlaksana.
Sigmund Freud mengungkapkan merokok adalah kesenangan yang paling hebat dan paling murah dalam hidup, tetapi alangkah baiknya jika kesenangan itu dipikir lagi, apakah ada pihak yang dikorbankan atas kesenangan-kesenangan kita itu?
— Faz, 2025
Komentar